Kerajaan Banten

Dulunya di sekitar abad ke-16 Masehi di daerah Provinsi Banten terdapat kerajaan Islam besar yang bernama Kerajaan Banten.

Wilayah Kerajaan Banten meliputi beberapa daerah Jawa dan Lampung.

Kerajaan Islam ini berdiri kurang lebih 3 abad lamanya menduduki daerah Banten dalam menyebar ajaran Agama Islam.

Sejarah Kerajaan Banten

kerajaan banten mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan
Image source: www.sekolahan.co.id

Sejarah Kerajaan Banten dimulai pada abad ke-16 yakni saat Pajajaran masih beragama Hindu.

Saat itu bangsa Portugis mulai berdatangan dan membentuk kerjasama dengan Kerajaan Pajajaran.

Dengan adanya kerjasama ini, alhasil bangsa Portugis pun mendirikan kantor dagang di Sunda Kelapa, lengkap dengan pembangunan benteng pertahanan juga.

Namun, Kerajaan Demak yang mengetahui hal itu mengadakan perlawanan.

Saat Kerajaan Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono mereka melakukan penyerangan ke Portugis untuk membendung pengaruh Portugis pada Pajajaran.

Fatahillah pun diturunkan sebagai pimpinan perang dari Kerajaan Demak.

Ia berhasil menaklukkan beberapa pusat pemerintahan penting di Pajajaran.

Demak pun akhirnya dapat menguasai Banten pada tahun 1526.

Tidak hanya itu, Demak makin berjaya ketika pemerintahan berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis dan dirubah namanya menjadi Jayakarta atau yang kini kita kenal dengan Jakarta.

Jayakarta sendiri diartikan sebagai Kota Kemenangan.

Semenjak penguasaan Jayakarta, Fatahillah berhasil menguasai seluruh pantai yang ada di Jawa Barat.

Agama Islam pun semakin meluas karena penyebaran dari Fatahillah.

Ia kemudian dinobatkan menjadi wali dengan gelar Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Banten.

Putra Fatahillah menjadi raja pertama Kerajaan Banten yang beragama Islam.

Pusat keagamaan pun terus dikembangkan oleh Fatahillah baik di Gunung Jati maupun di Cirebon.

Namun pada tahun 1568, Sunan Gunung Jati meninggal.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan Kerajaan Banten sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Demak dengan mayoritas agama Islam.

Kerajaan Banten pun berubah menjadi kesultanan di 1552 tepatnya anak Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai sultan di Banten.

Maulana Hasanuddin lalu mulai melanjutkan kekuasaan penyebaran Islam hungga ke Lampung.

Saat itu ia mengandalkan lada untuk melakukan kontak dagang dan penyebaran.

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Banten

kerajaan banten adalah salah satu kerajaan yang ada di pulau
Image source: www.republika.co.id

Kerajaan Banten berada di kawasan Cirebon yang merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Demak.

Kekuaasaan Demak tersebut bermula saat Sunan Gunung Jati datang untuk melakukan perlawanan dengan Portugis.

Pada awal kedatangannya ke Banten, Sunan Gunung Jati bersama Pangeran Walangsungsang sempat melakukan syiar Islam ke wilayah Banten.

Dalam syiar islamnya, Sunan Gunung Jati menerangkan soal arti jihad.

Jihad yang ia terangkan bukan hanya melawan musuh-musuh namun juga berperang melawan hawa nafasu.

Penjelasan soal jihad tersebut membuat masyarakat Banten mulai tertarik dengan Islam.

Saat itu wilayah Banten memiliki dua penguasa yakni Sang Surosowan yang menguasai Pasisir Banten dan Arya Suranggana yang menguasai Girang Banten.

Di wilayah Pasisir, Sunan Gunung Jati bertemu dengan putri dari Sang Surosowan.

Ia pun menikahi putri Surosowan, Nyai Kawung dan dikaruniai dua orang anak.

Syiar agama Islam pun mulai masuk ke wilayah Pasisir Banten.

Anak dari Nyai Kawung dan Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin sudah mulai memeluk agama Islam.

Sementara sang kakek, Sang Surosowan tidak mengikuti memeluk agama Islam, namun ia dikenal sangat toleran dengan agama Islam.

Letak Kerajaan Banten

kerajaan banten menjadi pusat perdagangan. hal ini didorong karena adanya peristiwa
Image source: www.salamadian.com

Banten saat ini tidak banyak berganti dari Banten jaman kerajaan Islam.

Wilayah Kerajaan Banten secara geografis terletak di bagian utara daerah Jawa Barat.

Kerajaan Banten juga berada di pesisir Selat Sunda dan Sumatera.

Wilayah Kerajaan pun meluas meliputi sebelah barat Pantai Jawa hingga ke Lampung.

Karena letaknya yang strategis, Banten menjadi salah satu jalur perdagangan yang paling banyak disinggahi kapal.

Bahkan disebutkan Banten menjadi penguasa jalur perdagangan dan pelayaran kapal yang melalui Selat Sunda.

Tercatat perdagangan dari Australia dan Asia Tenggara turut berlabuh ke Banten.

Pesatnya perdagangan melalui jalur laut membuat Banten berkembang pesat sebagai kerajaan besar di Pulau Jawa.

Mengetahui hal tersebut VOC pun merasa memiliki saingan, sehingga VOC berniat untuk merebut jalur perdagangan dari wilayah Banten.

Perebutan tersebut berlangsung saat Kerajaan Banten memiliki masalah internal yang berhasil dimanfaatkan oleh VOC.

Posisi Kerajaan Banten ini secara geofrafis terletak di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya kalau sekarang masuk di wilayah Provinsi Banten yang ada di tatar Pasundan.

Dalam sejarahnya, wilayah Banten sendiri dulunya adalah wilayah Provinsi Jawa Barat.

Namun berdasarkan UU. No. 23 tahun 2000, wilayah Banten masuk dalam kategori pemekaran daerah sehingga terbentuklah Provinsi Banten yang ada sekarang ini.

Sementara pusat pemerintahan Banten berada di kota Serang yang menjadi ibu kota.

Ibu Kota ini dulu juga pernah menjadi perdebatan karena VOC ingin memindahkannya ke Anyer.

Berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi Banten, luas dari seluruh wilayahnya adalah sekitar 9.662,92 kilometer persegi.

Dengan luas wilayah tersebut, masyarakat yang tinggal di dalamnya mencapai 12.448.160 jiwa menurut data sensus 2017.

Artinya kepadatan di wilayah Provinsi Banten mencapai 1.288 jiwa per kilometer persegi.

Etnis yang mendiami wilayah Banten pun sangat beragam.

Ini dikarenakan sejarahnya yang memang Banten masuk dalam jalur perdagangan masa lalu yang ramai dikunjungi orang.

Etnis tersebut antara lain etnis Banten, Sunda, Jawa, Betawi, Tionghoa, Batak, Minangkabau dan lain – lain.

Secara geografis pun Banten berbatasan dengan Laut Jawa untuk bagian utaranya.

Sementara di ujung selatan, Banten berbatasan dengan Samudra Hindia.

Di sisi Barat berbatasan dengan Selat Sunda dan di sisi timurnya berbatasan langsung dengan Jawa Barat.

Masih membahas wilayah geografisnya, wilayah Tangerang Raya menjadi wilayah yang sangat strategis dan mendukung bagi Provinsi DKI Jakarta.

Silsilah Kerajaan Banten

kerajaan banten adalah negara merdeka setelah melepaskan diri dari demak yang didirikan oleh
Image source: www.metaonline.id

Raja Banten awalnya mendapatkan restu dari Kerajaan Demak. Raja-raja di Banten semuanya berpinsip pada agama islam. Berikut ini raja-raja serta peranana raja untuk kerajaan Banten.

1. Fatahillah

Penguasa Banten pertama kali ialah seorang musafir China bernama Feletehan dan berganti nama menjadi Fatahillah.

Ia memperdalam ilmu agama Islam pada Kerajaan Demak yang saat itu merupakan Kerajaan Islam terbesar di Nusantara.

Fatahillah pun diminta untuk merebut kekuasaan Banten yang saat itu diperintah oleh penjajah.

Ia berhasil melumpuhkan penjajah dan menjadikan Kerajaan Banten sebagai Kerajaan Islam.

Setelah berhasil, ia akhirnya menyerahkan kekuasaannya pada Sultan Hasanuddin yang merupakan anaknya sendiri.

Sementara Fatahillah berpindah ke Cirebon untuk menyebarkan agama Islam ke penjuru kota.

Karena kecintaanya kepada Islam dan dedikasi penyebaran agamanya di berbagai penjuru, Fatahillah kemudian diberi gelar Sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1570 Sunan Gunung Jati pun harus berpulang dan dikebumikan di Bukit Tinggi.

Berkat jasanya Sunan Gunung Jati pun masuk menjadi Wali Songo tokoh populer penyebar Islam di Nusantara.

2. Sultan Hasanudin

Putra dari Sunan Gunung Jati, Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja resmi pertama kali di Banten pada 1552.

Perjuangan Sultan Hasanuddin menjadi Raja Banten pun sangat gigih.

Ia juga memperjuangkan nasib Banten supaya bisa terlepas dari daerah kekuasaan Kerajaan Demak.

Sultan Hasanuddin berhasil melepaskan diri dari Kerajaan Demak di tahun 1568.

Saat itu terjadi konflik di Demak yakni berupa perebutan kekuasan setelah Demak ditinggal oleh Sultan Trenggono.

Di masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Banten pun berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Lampung.

Saat itu Banten menjadi pusat perdagangan dari hasil kebun yakni berupa lada.

Selain itu Banten juga berkembang menjadi kesultanan di bidang maritim dan agraris.

Sultan Hasanuddin juga berhasil menyiarkan agama Islam hingga ke Lampung dan Indrapura yang menjadi wilayah kekuasaan Banten.

Dalam masalah perdagangan, Banten pun dianggap lebih maju dibanding Jayakarta. Pada 1570, Sultan Hasanudin wafat dan digantikan oleh anaknya Maulana Yusuf.

3. Syeh Maulana Yusuf

Putra Sultan Hasanuddin, Maulana Yusuf memimpin Kerajaan Banten pada tahun 1570 hingga 1580. Saat menjadi raja, Maulana Yusuf dikenal sebagai Panembahan Yusuf.

Di masa pemerintahannya, Banten mengalami kemajuan yakni berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran tepatnya di tahun 1579.

Saat itu Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan bercorak Hindu-Budha terakhir yang tersisa di Nusantara.

Sehingga setelah Pajajaran takluk di Banten, sudah tidak tersisa lagi kerajaan Hindu Budha yang ada di Jawa Barat.

4. Maulana Muhammad

Setelah Panembahan Yusuf meninggal dunia, ia digantikan oleh sang anak yakni Maulana Muhammad.

Ketika naik tahta, Maulana Muhamaad pun diberi gelar khusus dengan sebutan Kanjeng Ratu Banten.

Pada masa kekuasaannya, Maulana Muhammad mengambil peran strategis dengan cara menyerang Palembang guna melakukan perluasan wilayah.

Saat itu Palembang dipimpin oleh Ki Gede Ing Suro yang juga merupakan penyiar agama Islam.

Ki Gede Ing Suro merupakan keturunan Surabaya yang saat itu ditugaskan untuk menyiarkan agama Islam hingga ke Palembang.

Namun saat melakukan penyerangan Ki Gede Ing Suro, Maulana Muhammad gugur dan tak berhasil memperluas kerajaan.

5. Abdul Mufakhir

Setelah Maulana Muhammad gugur, ia digantikan oleh Abdul Mufakir.

Saat memimpin, Abdul Mufakir masih berusia muda sehingga ia didampingi oleh Pangeran Ranamenggala sebagai mengkubumi.

Pendampingannya pun berbuah kemajuan untuk Kerajaan Banten.

Di masa pengendalian tahun 1600-1624, Pangeran Ranamenggala membuat kemajuan untuk Banten di bidang perdangangan lada dan cengkeh.

Kebijakan ini tak ayal menarik minat bangsa asing untuk masuk ke wilayah Banten.

Misalnya saja Cournelis de Houtman, yang merupakan seorang berkebangsaan Belanda, yang melakukan kunjungan ke Banten di tanggal 22 Juni 1596.

6. Sultan Ageng Tirtayasa (Abu Fatah Abdulfatah)

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten semakin berkembang maju.

Kemajuan dapat terlihat dari hasil pertanian yang melimpah.

Perkembangan ini juga tak lepas karena peran ulama yang turut mendukungnya.

Misalkan saja dengan kedatangan Syekh Yusuf yang datang dari Makassar yang juga ikut membantu usaha penyiaran ajaran Agama Islam ini.

Pada masa kekuasaannya, Sultan Ageng Tirtayasa juga menjalin hubungan luar negeri yang baik dengan Turki dan Moghul.

Walaupun membina hubungan baik dengan negara lain, Sultan Ageng Tirtayasa berprinsip tidak bersedia bekerja sama dengan Belanda maupun VOC.

Dia memang dikenal sebagai seorang raja yang begitu benci terhadap kedatangan Belanda di wilayah nusantara.

SIkap tegas ini dibuktikan SUltan Ageng Tirtayasa dengan cara melakukan serangan berulang kali kepada Belanda agar mereka segera enyah dari tanah nusantara.

Akan tetapi ia dibalas Belanda melalui anaknya.

Tak disangka-sangka ternyata strategi picik dilakukan oleh Belanda yang menghasut SUltan Haji, yang merupakan putra Sultan Ageng Tirtayasa, untuk merebut kekuasaan ayahnya itu.

Belanda pun membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng.

Akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa pun kalah lewat strategi ini dan diapun ditawan oleh Belanda.

Sultan Haji kemudia dinobatkan menjadi raja menggantikan sang ayah yang sudah ditahan Belanda.

Akibatnya, terjadi politik adu domba yang dilakukan oleh VOC pada anak dan bapak tersebut.

Sultan Ageng pun wafat saat diasingkan oleh VOC.

Pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pun terbilang cukup lama yakni dari tahun 1651 – 1692.

7. Sultan Haji

Sultan Haji merupakan salah satu anak dari Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia berhasil memperoleh kekuasaan dengan bekerja sama dengan Belanda.

Saat dipimpin oleh Sultan Haji, Kerajaan Banten yang sempat memiliki kekuasaan di Lampun pun dibagi.

Sultan Haji merasa berhutang budi pada VOC sehingga memberikan Lampung untuknya.

Lama-kelamaan kekuatan Belanda pun semakin kuat di wilayah Banten.

Akibatnya, kerajaan Banten mengalami keruntuhan.

Sebagai balas jasa, Belanda meminta banyak tuntutan kepada Sultan Haji karena dengan bantuan merekalah Sultan Haji dapat segera naik tahta.

Melalui Perjanjian Banten, Sultan Haji terpaksa menandanganinya yang mengisyaratkan berakhirnya sejarah Kerajaan Banten.

Dengan perjanjian itu, kekuasaan mutlak Sultan Haji atas wilayah Banten berakhir sudah.

Sejak saat itu, Belanda menjadi penguasa Banten.

Raja setelahnya pun tak lagi banyak berkontribusi karena kekuatan Belanda telah mendominasi Banten.

Penguasa Banten

kerajaan banten dan cirebon
Image source: pesona.travel

Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi Raja Pertama di Banten kemudian memperindah kota dan membangun pusat pemerintahan yang disebut Keraton Surosowan.

Komplek istana ini dibangun pada 1522.

Komplek keraton ini bahkan kedudukannya dinilai lebih penting dari kota lama Banten.

Hingga Sultan Maulana Hasanuddin wafat, Keraton Surosowan masih terus ditingkatkan pembangunannya oleh penerus selanjutnya.

Sebelumnya, penguasaan Banten begitu komplek.

Hal ini dimulai dari mendaratnya Sunan Gunung Jati dan kawanan lainnya yang tergabung dari kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak di Pelabuhan Banten.

Kejadian tersebut diperkirakan berlangsung pada 1524 M.

Saat mendarat, Sunan Gunung Jati bahkan tidak mendapatkan perlawanan dari dari penguasa pesisir.

Kedatanganya justru tak dihentikan, sehingga Sunan Gunung Jati dan kelompok gabungan tersebut lebih berfokus pada perebutan kekuasaan Banten Girang.

Manaraiknya lagi, Saat Sunan Gunung Jati dan pasukan gabungan sampi di sana, salah seorang kepala prajurit malah dengan suka rela bergabung dengannya.

Adalah Ki Jongjo.

Ki Jongjo, Sunan Gunung jadi, dan pasukan gabungan Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebo dengan mudah menuntut agar kekuasaan Banten diserahkan padanya.

Yang selanjutnya di kuasai Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati.

Sementara cerita lain menerangkan bahwa penguasa Banten sempat terusik dengan aktivitas penyiaran Islam berupa dakwah yang dilakukan oleh pasukan Sunan Gunung Jati dan putranya Maulana Hasanuddin.

Aksi dakwah yang mereka lancarkan ternyata berhasil menarik perhatian masyarakat Banten.

Yang kemudian hal itu membuat warga pedalaman di Banten berbondong-bondong mengikuti dakwah.

Sayangnya, hal itu tidak direspon baik oleh penguasa Wahanten Girang, Arya Suranggana. Dia merasa terganggu dan meminta Sunan Gunung Jati beserta Maulana Hasanuddin untuk menyudahi aksi mereka.

Tak suka warganya mengikuti dakwah, Arya Suranggana pun menantang Maulana Hasanuddin untuk adu ayam.

Dengan persyaratan, jika Maulana Hasanuddin menang maka dia dan kelompok lainnya diperbolehkan untuk melakukan aktivitas dakwah.

Dan sebaliknya jika Arya Suranggana yang menang, maka mereka harus menyudahi dakwahnya.

Dan benar saja, adu ayam itu pun di gelar.

Maulana Hasanuddin keluar menjadi juaranya.

Berdasarkan kesepakatan, maka Maulana Hasanuddin pun diperbolehkan meneruskan dakwahnya di sana.

Meski, Arya Suranggana dan kawanannya enggan untuk memeluk agama islam.

Karena itu, mereka memilih untuk pergi dan masuk hutan di wilayah Selatan.

Sejak saat itu, tempat Arya Suranggana yang ditinggalkan itu menjadi pusat pasenggrahan penguasa Islam sampai abad ke-17.

Banten Berbentuk Kesultanan

pendiri kerajaan banten adalah
Image source: pesona.travel

Awal mula Banten berdiri pada abad ke-14. Sebagai kerajaan, pada waktu itu Banten menjadi salah satu kerajaan di Indonesia yang memmiliki banyak pelabuhan sebagai tempat persinggahan kapal-kapal. Banyak kapal dagang maupun kapal asing yang singgah ke Banten.

Termasuk kapal pendaratan dari Eropa yang kemudian menjajah Indonesia juga melewati pelabuhan Banten.

Pada masa kerajaan Hindu-Budha, Banten sudah mulai rintis pada 1330.

Saat itu Banten dikuasai oleh Majapahit yang berada di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada.

Keduanya berhasil menguasai Banten karena saat itu kerajaan yang berkuasa adalah Kerajaan Demak dan Kerajaan Majahapahit.

Karena Banten sebagai pelabuhan dan persinggahan, pada tahun 1524 – 1525 berdatangan para pedagang Islam ke Banten.

Kejadian itulah yang menandakan dimulainya sejarah berdirinya Banten dalam aspek penyebaran agama Islam di Banten.

Di tahun itulah perebutan kekuasaan Banten terjadi.

Sunan Gunung Jati beserta pasukan lain dari Kesultanan Cirebon dan Demak pun mulai berdatangan.

Mereka mendarat lewat pelabuhan Banten. Mereka memiliki misi untuk fokus dengan merebut Banten Girang.

Terjadi perebutan kekuasaan pada saat itu sehingga pada 1527 Maulana Hasanuddin dan ayahnya Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merebut Banten Girang dari Prabu Pucuk Umun yang saat itu memeluk agama Hindu dan mendirikan Kesultanan Banten.

Akhirnya Kesultanan Banten berhasil diambil alih oleh Sunan Gunung Jati pada tahun 1552.

Hal ini juga ditandai dengan penobatan Maulana Hasanuddin menjadi sultan oleh Sunan Gunung Jati.

Penobatan tersebut juga atas persetujuan dari Kerajaan Demak.

Setelah menjadi raja, Maulana Hasanuddin lalui mulai memerluas kesultanan hingga ke Lampung.

Ia melakukan kontak dagang dengan lada sebagai komoditas dengan Raja Malangkabu di Kerajaan Inderapura dan Sultan Munawar Syah.

Setelah Maulana Hasanuddin wafat, ia digantikan sang putra Maulana Yusuf yang naik tahta pada tahun 1570.

Maulana Yusuf pun melanjutkan eksapansi Kesultanan Banten ke daerah pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran.

Setelah wafat, Maulana Yusuf digantikan anaknya yakni Maulana Muhammad.

Saat itu Maulana Muhammad kembali melanjutkan sang kakek yang ingin memperluas ekspansi ke Palembang.

Namun bukan dengan cara berdagang lada, Maulana Muhammad berniat untuk mengusir Portugal yang saat itu menjajah Nusantara.

Melalui Kesultanan Banten, Maulana Muhammad ingin mempersempit wilayah kekuasaan Portugal.

Namun ia gagal dalam rencana tersebut.

Maulana Muhammad lalu digantikan oleh anaknya, Pangeran Ratu.

Pada masa pemerintahan Pangeran Ratu, Kesultanan Banten mulai melakukan diplomasi ke luar negeri.

Mereka menjalankan politik luar negeri seperti ke Inggris.

Pangeran Ratu diketahui sempat berkirim surat pada Raja Inggris, Raja James I tahun 1605 dan pada Raja Charles I di tahun 1629.

Masa Kejayaan Kerajaan Banten

kerajaan banten budaya
Image source: www.cdns.klimg.com

Di bawah tangan dingin Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1651 hingga tahun 1682, Kerajaan Banten begitu berjaya.

Pada masa keemasan itulah, Kerajaan Banten mulai membanguan armada kuat seperti yang dimiliki oleh Eropa.

Bahkan pekerja Eropa juga ikut bekerja untuk Kerajaan Banten dengan upah layak yang mereka terima.

Namun saat pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa terjadi pemberontakan besar pada VOC.

Pemerintahan Kerajaan Banten sangat menentang keberadaan VOC di Nusantara.

Mereka pun menghalau VOC untuk masuk ke Banten serta Kerajaan Banten berusaha keluar dari tekanan VOC.

Selain melakukan perlawanan terhadap VOC, Kerajaan Banten juga gencar melakukan ekspansi.

Salah satunya adalah mengambil penguasaan pasar komoditas lada di Lampung.

Di sinilah, Kerajaan Kerajaan Banten mulai melakukan perdagangan dengan negara lain.

Lampung dijadikan pusat perantaranya.

Sehingga perdagangan melalui Lampung membuat Banten semakin berkembang.

Warga Banten juga menjadi multi etnis karena saking banyaknya warga yang melakukan perdagangan di Banten.

Sementara itu masa kejayaan banten dari segi ekonomi juga sangat mengandalkan perdagangan.

Letak Kerajaan Banten yang strategis menjadikan Banten sebagai jalur perdagangan terbesar.

Bukan hanya perdagangan di Nusantara, cangkupan Banten juga mencapai taraf internasional.

Bahkan Banten memiliki pelabuhan niaga internasional sendiri di Asia.

Transaksi perdagangan jalur luar di Banten terjadi saat pagi dan malam hari.

Untuk mendukung adanya perdagangan tersebut, terdapat tiga pasar yang terletak di wilayah pesisir yakni Pasar Alun-alun, pasar di Pecinaan, dan di timur kota ada Pasar Karangantu.

Perekonomian tersebut berjalan ketika ada negara atau bangsa lain yang memasuki wilayah Banten dan melakukan perdagangan akan dikenakan pajak.

Pajak tersebut masuk ke wilayah kerajaan dan memberikan keuntungan untuk Kesultanan Banten.

Sehingga dari pajak tersebut, kesultanan bisa memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya karena Banten memiliki kemajuan yang pesat.

Selain dari perdagangan dan pelayaran, perekonomian Banten juga didukung dengan kegiatan warga bercocok tanam di sawah dan berkebun.

Kegiatan tersebut dilakukan warga untuk mendukung perekonomian kerajaan.

Bahkan dari hasil berkebun tersebut Kerajaan Banten bisa memperluas wilayahnya.

Banten mengekspor hasil kebun hingga ke Lampung berupa lada.

Setelah Lampung menjadi wilayah kekuasaan Banten, lada tersebut juga semakin dikembangkan.

Warga Banten pun semakin sejahtera dengan perputaran roda ekonomi Banten yang terus meningkat.

Sebagai kerajaan Islam, peranan tempat ibadah pun juga menjadi salah satu suksesi Banten.

Saat itu masjid menjadi sektor yang menunjang perekonomian.

Masjid bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah saja melainkan melakukan hal positif lainnya seperti produksi, distribusi, dan konsumsi.

Di sisi lain konsep ekonomi islam juga diterapkan seperti pembayaran upah dari majikan ke buruh, lalu perjanjian utang piutang secara islami, kontrak jasa, hingga cara jual beli.

Semua kegiatan tersebut berdasar pada Al-quran dan Al Hadis.

Keruntuhan Kerajaan Banten

kerajaan banten berdiri
Image source: www.bantenraya.com

Pada saat Kerajaan Banten di pimpin oleh Sultan Ageng, kerajaan Islam ini mulai mengalami kemunduran.

Saat itu terjadi perselisihan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji yang merupakan putranya.

Keduanya berselisih karena perebutan kekuasaan.

Mengetahui Kerajaan Banten sedang ada masalah internal, VOC yang masih berada di Nusantara pun memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk.

VOC berpihak pada salah satu raja yakni Sultan Haji.

Sultan Haji memberontak Kerajaan Banten dengan didukung oleh VOC.

Sultan Ageng pun melawan Sultan Haji dengan dibantu kedua anaknya yang lain yakni Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

Namun mereka bertiga kalah dengan Sultan Haji yang dibantu VOC hingga akhirnya terpaksa mundur ke arah pedalaman Sunda.

Tak berlangsung lama, pada 1683 VOC ternyata sudah mencium letak persembunyian mereka.

VOC pun lantas menangkap Sultan Ageng dan dibawa ke Batavia.

Di tahun yang sama, putranya Syekh Yusuf juga berhasil ditawan oleh VOC.

Tidak dengan Pangeran Purbaya.

Ia justru dengan suka rela menyerahkan diri ke VOC.

Atas ditangkapnya ketiganya, Sultan Haji pun berhasil memenangkan perebutan kekuasaan Kerajaan Banten.

Untuk membalas kerja sama dengan pihak VOC, Sultan Haji lalu menyerahkan Lampung pada VOC.

Padahal saat itu Lampung merupakan pusat penting penyambung dagang Banten dengan negara asing.

VOC pun kembali mengeluarkan ajinya dengan memonopoli perdagangan lada di Lampung.

Pada tahun 1682, VOC mendapatkan surat perjanjian untuk perdagangan lada di Lampung hingga akhirnya Lampung benar-benar jatuh ke tangan VOC.

Sementara Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Sultan Haji mulai runtuh semenjak Sultan Haji wafat.

VOC pun langsung menguasai Banten hingga diterapkan peraturan pengangkatan raja untuk Kerajaan Banten harus sesuai dengan persetujuan Gubernur Jenderal Hindian Belanda di Batavia karena Banten sudah berada di bawah kekuasaan VOC.

Raja yang saat itu menggantikan Sultan Haji adalah Sultan Abu Fadil Muhammad Yahya.

Pemberontakan dimulai saat Kerajaan Banten dipimpin oleh Muhammad Muhyiddin Zainussalihin.

Saat itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerang Kerajaan Banten.

Penyerangan tersebut karena Kerajaan Banten tak menyetujui permintaan Hindia Belanda untuk memindahkan ibu kota Banten ke Anyer.

Perang pun terjadi namun pada akhirnya tahun 1813 Banten runtuh di tangan Inggris.

Peninggalan Kerajaan Banten

kerajaan banten mengalami keruntuhan pada masa kepemimpinan
Image source: www.salamadian.com

Kerajaan Banten terhitung berkuasa selama 3 abad di Nusantara.

Bukti peninggalan Kerajaan Banten pun beragam dan tersebar di Pulau Jawa.

Meski pernah berjaya pada mas Hindu-Buddha, namun peninggalan Kerajaan Banten yang paling banyak justru bercorak Islami.

Ada pula peninggalan bekas pemberontakan dengan Hindia Belanda.

Berikut ini peninggalan Kerajaan Banten yang masih bisa kita lihat hingga kini.

1. Masjid Agung Banten

pendiri kerajaan banten dan cirebon
Image source: www.yuksinau.id

Masjid Agung Banten berdiri sebagai bukti kejayaan Banten sebagai Kerajaan Islam di Indonesia.

Masjid ini masih bisa kita jumpai di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen karena bangunannya hingga kini memang masih sangat kokoh.

Berdasarkan sejarah, Masjid Agung Banten ini mulai dibangun pada 1652 sejak masa pemerintahan pertama Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya menjadi peninggalan Kerajaan Banten saja yang membuat Masjid Agung ini menarik.

Masjid Agung Banten juga jadi satu dari 10 masjid tertua yang ada di Indonesia.

Apa yang menjadi menarik dari Masjid Agung Banten ini?

Bukan hanya sejarahnya, Masjid Agung Banten juga menarik karena memiliki bentuk menara yang mirip dengan mercusuar.

Atapnya pun sekilas seperti pagoda khas China.

Selain itu, di sisi kiri kanannya bangunan masjid tersebut terdapat sebuah serambi dan komplek pemakaman sultan Banten bersama keluarganya.

2. Istana Keraton Kaibon

hubungan kerajaan banten dan cirebon
Image source: www.indonesiakaya.com

Istana Keraton Kaibon menjadi peninggalan Kerajaan Banten selanjutnya.

Tempat ini dulunya adalah rumah tinggal Bunda Ratu Aisyah.

Ia adalah ibu dari Sultan Syaifudin.

Seiring dengan berjalannya waktu, tempat ini kemudian hancur hanya meninggalkan sisa-sisa runtuhannya saja.

Menurut cerita, kehancuran istana Keraton Kaibon dikarenakan adanya pemberontakan Kerajaan Banten oleh pemerintah Belanda pada 1832.

3. Istana Keraton Surosowan

kerajaan banten didirikan
Image source: www.indonesiakaya.com

Istana Surosowan merupakan istana pertama yang menjadi tonggak Kerajaan Banten karena pertama kali Sunan Gunung Jati datang.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, awalnya Istana Keraton Surosowan adalah tempat tinggal Sultan Banten dan juga digunakan sebagai pusat pemerintahan.

Sayangnya, Surosowan kini juga hancur dan hanya tinggal sisa-sia.

Keraton yang dibangun pada 1552 hanya meninggalkan reruntuhan untuk bisa kita saksikan.

Di sana juga terdapat kolam pemandian yang dulu digunakan oleh para putri kerajaan.

4. Benteng Speelwijk

kerajaan di banten
Image source: www.bukalapak.com

Namanya saja benteng, sudah pasti peninggalan ini memiliki pesan yang utama bagi Kerajaan banten.

Benteng Speelwijk dulunya digunakan sebagai salah satu poros pertahanan maritim Kerajaan Banten terhadap serangan lawan.

Benteng Speelwijk mulai dibangun pada 1585 dengan tinggi 3.

Pada benteng tersebut kita juga dapat melihat mercusuar yang digunakan salah satu alat pengawas.

Mengingat benteng ini dulunya tidak hanya digunakan untuk poros pertahanan namun juga sebagai benteng pengawasan aktivitas pelayaran di sekitar Selat Sunda

Di sana pula kamu bisa menemukan sebauh terowongan yang menghubungkan benteng dengan Istana Keraton Surosowan.

5. Danau Tasikardi

pemerintahan di kerajaan banten
Image source: www.ksmtour.com

Danau Tasikardi merupakan danau buatan yang mulai teripta pada 1570-an.

Danau sekitar Istana Keraton Kaibon ini banyak dikenal pada masa pemerintahan Maulana Yusuf.

Menariknya, danau ini begitu epik dengan dilapisi ubin dan batu bata yang mengelilingi.

Danau ini dulunya memiliki luas sekitar 5 hektar.

Namun kini luasnya menyusut akibat tertimbun tanah sendimen.

Di bagian pinggirnya sudah tertimbun tanah sedimen yang dibawa oleh arus air hujan dan sungai di sekitar danau tersebut.

Danau Tasikardi pada masa itu berfungsi sebagai sumber air utama untuk keluarga kerajaan yang tinggal di Istana Keraton Kaibon.

Selain itu danau ini juga difungsikan sebagai saluran air irigasi persawahan di sekitar Banten.

6. Vihara Avalokitesvara

perdagangan di kerajaan banten
Image source: www.bukalapak.com

Walaupun kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam, tapi toleransi antara warga biasa dengan pemimpinnya dalam hal agama sangat tinggi.

Karena dahulunya Banten merupakan bekas kerajaan Hindu-Budha.

Dan agama Hindu-Budha juga masih bisa ditemukan setelah Kerajaan Banten berkuasa.

Buktinya adalah adanya peninggalan kerajaan Banten yang berupa bangunan tempat ibadah agama Budha.

Ada tempat ibadah umat Budha tersebut yaitu Vihara Avalokitesvara yang sampai sekarang masih berdiri kokoh.

Yang unik dari bangunan ini yaitu di dinding Vihara tersebut dengan ditemukannya sebuah relief yang mengisahkan tentang legenda siluman ular putih.

7. Meriam Ki Amuk

kerajaan banten ekonomi dan politik
Image source: www.wisatabanten.com

Meriam Ki Amuk menjadi peninggalan selanjutnya dari Kerajaan Banten yang ditemukan di Benteng Speelwijk.

Meriam ini ditemukan di sebelah dalam terowongan benten.

Terdapat beberapa meriam, di mana di antara meriam-meriam tersebut ada meriam yang ukurannya paling besar dan diberi nama Meriam Ki Amuk.

Dinamakan Meriam Ki Amuk, karena konon katanya meriam ini memiliki daya tembakan sangat jauh dan daya ledaknya sangat besar.

Meriam ini adalah hasil rampasan kerajaan Banten terhadap pemerintah Belanda pada masa perang yang disimpan di dalam Benteng.

***

Nah, itulah tadi sejarah lengkap tentang Kerjaan Banten.

Semoga bisa menambah wawasan dan pengtahuanmu ya tentang sejarah kerajaan Islam di Indonesia.

Jika kamu ada pertanyaan ataupun informasi lain, kamu bisa menuliskannya di kolom komentar di bawah ini ya.

Jangan lupa share juga artikel menarik ini supaya teman-teman kamu bisa ikut membacanya juga.

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar