Kerajaan Gowa Tallo

Dulunya, di wilayah timur Indonesia berdiri kerajaan yang menjadi simbol kejayaan Islam Indonesia timur.

Itulah Kerjaan Gowa-Tallo yang hingga kini namanya harum dalam sejarah bangsa Indonesia, dengan salah satu tokohnya adalah Sultan Hasannudin.

Nah, di bawah ini adalah pembahasan lengkap mengenai sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang bisa kamu pelajari dengan ringkas dan mudah.

Agar tidak menunggu terlalu lama lagi, berikut adalah bahasannya yang dipersiapkan hanya untuk kamu.

Sejarah Kerajaan Gowa Tallo

makalah kerajaan gowa tallo lengkap
Image source: www.tribunnews.com

Di Makassar dulunya terdapat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Gowa-Tallo yang merupakan kerajaan Islam.

Dulunya Kerajaan Gowa-Tallo ini berasal dari peleburan dua kerajaan, yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Kerajaan ini memiliki sejarah panjang dalam sejarah perkembangan Indonesia, termasuk saat ikut melakukan peperangan terhadap penjajah Belanda hingga ikut bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Asal Usul Berdirinya Kerajaan Gowa Tallo

nama pulau kerajaan gowa tallo
Image source: www.etsystatic.com

Dulunya di daerah Gowa ada sembilan kelompok yang dikenal dengan nama Bate Salapang ayau Sembilan Bendera.

Mereka adalah Tambolo, Lakiung Parang-parang, Data, Agngjene, Samata, Bissei, Sero, dan Kalling.

Dalam pekrmbangannya, sembilan kelompok tersebut menyatu di bawah bendera Kerajaan Gowa, baik dengan cara damai maupun paksaaan.

Menurut sejarah, Tumanurung atau Tomanurung Bainea merupakan sosok perempuan yang merupakan pendiri Kerajaan Gowa pada abad ke-14 Masehi.

Sementara itu, awal mula Kerajaan Tallo tidak begitu diketahui dalam sejarah.

Sejarah Kerajaan Tallo baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 Masehi, saat Raja Tallo ke-6, yakni Tonatangkalopi.

Perkembangan Abad 16

Di Sulawesi Selatan sendiri, sejak abad ke-16 awalnya terdiri dari bebrapa kerajaan yang berdiri secara merdeka, di antaranya adalah Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo, dan Sidenreng.

Dalam perkembangannya, kerajaan-kerajaan itu akhirnya membentuk persekutuan sesuai hasil diplomasi masing-masing.

Adalah raja Kerajaan Gowa ke-9, Tumapa’risi’ Kallona yang melakukan banyak diplomasi untuk menggabungkan kerajaan-kerajaan di daerah Makassar menjadi satu entitas.

Persekutuan yang paling terkenal adalahnya penyatuan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Peleburan kedua kerajaan ini terjadi pada tahun 1528.

Kerajaan Gowa-Tallo kadang juga disebut sebagai Kerajaan Makassar.

Dalam kerja penyatuan ini, juga dibuat berbagai perundang-undangan yang menyangkut hal perang, sistem pemungutan pajak, aturan bea masuk, dan peningkatan sejumlah perlengkapan tempur.

Perkembangan Abad 17

Abad ke-17 Masehi menjadi waktu yang bersejarah untuk Kerajaan Gowa-Tallo karena pada abad inilah puncak kejayaan bisa mereka capai sekaligus awal mula keruntuhannya.

Pada masa ini hidup Sultan Hasannudin yang berhasil membawa Kerajaan Gowa-Tallo dalam puncak kesejahteraan dengan berbagai kebijakan perdagangan dan pelayaran.

Apalagi saat itu pelabuhan Makassar kian berkembang pesat.

Namun, naasnya, saat itu orang-orang VOC juga mulai datang ke daerha timur Indonesia dan mulai melakukan penaklukan demi penaklukan.

Tercatat beberapa kali terjadi peperangan sengit antara Kerajaan Gowa-Tallo dan Belanda.

Hingga akhirnya Kerajaan Gowa-Tallo berhasil ditaklukkan oleh Belanda dengan susah payah.

Sultan Hasannudin yang harum namanya hingga kini wafat setelahnya pada tahun 1670 Masehi.

Perkembangan Abad 20

Sejak berdiri sekitar tahun 1300-an, Kerajaan Makassar banyak mengalami persitiwa pasang surut.

Peristiwa itu berlanjut hingga abad ke-20, di mana Raja Gowa Ke-36, yakni Andi Idjo Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin, memutuskan Kerajaan Gowa menyatukan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berubah dari bentuk kerajaan menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Gowa.

Dengan perubahan tersebut, maka Andi Idjo secara sah menjadi Bupati Kabupaten Gowa yang pertama sekaligus menjadi raja terakhir dari Kerajaan Gowa.

Bendera Kerajaan Gowa

Image source: www.wikimedia.org

Perjanjian Bungaya

Perjanjian Bungaya terjadi pasa saat Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa-Tallo.
Pasukan Belanda bukan menaklukkan Kerajaan Gowa-Tallo dengan mudah, karena mereka mesti meminta bantuan kepada Aru Palaka yang merupakan raja di Kerajaan Bone dan harus mengangkur pasukan besar dari Batavia.

Kerajaan Makassar yang sudah jatuh kepada Belanda diharuskan menandatangani Perjanjian Bungaya.

Sultan Hasannudin yang merupakan raja Kerajaan Makassar dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya ini pada tahun 1667 Masehi.

Isinya sangat merugikan masyarakat Makassar.

Adapun isi dari Perjanjian Bungaya tersebut adalah sebagai berikut.

  • VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), yaitu kompeni dagang Belanda memperoleh hak monopoli dagang di Makassar.
  • Belanda dapat mendirikan benteng di pusat Kerajaan Makassar yang diberi nama Benteng Rotterdam.
  • Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar wilayah Makassar.
  • Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Letak Kerajaan Gowa Tallo

nama raja kerajaan gowa tallo brainly
Image source : www.republika.co.id

Kerajaan Gowa dan Tallo secara geografi sekarang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.

Kerajaan Gowa berpusat di kota Makassar, yang dulunya lebih dikenal sebagai Ujung Pandang.

Karena itu Kerajaan dan Tallo kadang juga disebut sebagai Kerajaan Makassar.

Pada masa pemerintahan SUltah Hasannudin, hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan berhasil ditaklukkan.

Nusa Tenggara (Sumbawa dan sebagian Flores) juga takluk dalam kekuasannya.

Karena letaknya yang begitu strategis di jalur pelayaran untuk wilayah Indonesia bagian timur, Kerajaan Makassar ini berkembang pesat dalam hal perdagangan dan pelayaran.

Bahkan, sering kali pedagang yang asalnya dari Indonesia Timur singgah di Makassar ini dalam perjalanannya menuju Indonesia wilayah barat.

Begitu sebaliknya, pedagang yang asalnya dari Indonesia barat singgah di Makassar ini dalam perjalanannya menuju Indonesia wilayah timur.

Dengan posisi yang sangat strategis ini Kerajaan Gowa dan Tallo mengusai jalur perdagangan nusantara.

Silsilah Kerajaan Gowa Tallo

faktor keruntuhan kerajaan gowa tallo
Imagae source: www.ruanasagita.blogspot.com

Tumapa’risi’ Kallona

Rraja Kerajaan Gowa ke-9, Tumapa’risi’ Kallona, merupakan raja yang berjasa melakukan penyatuan antara Kerjaan Gowa dan Tallo pada tahun 1528.

Pada masa pemerintahannya dibuat berbagai perundang-undangan yang menyangkut hal perang, sistem pemungutan pajak, aturan bea masuk, dan peningkatan sejumlah perlengkapan tempur.

Sultan Alaudin

Kerajaan Gowa-Tallo mengalami masa ke-Islam-an sejak Sultan Alaudin menjabat.

Dia merupakan Raja Gowa-Taloo pertama yang memeluk Agama Islam.

Nama aslinya adalah Karaeng Mayowaya Tumammenanga Ri Agamanna.

Pada masannya, Kerajaan Gowa-Tallo menjelma menjadi kerajaan maritim dan menguasai jalur perdagangan.

Sultan Muhammad Said

Sepeninggal Raja Alaudin, yang melanjutkan sejarah Kerjaan Gowa-Tallo adalah Sultan Muhammad Said.

Pada masa pemerintahannya, Makassar maju pesat dengan menjadi bandar transit.

Pasa masa kepemimpinannya pula, Kerajaan Gowa-Tallo memiliki pasukan yang hebat hingga bisa membantu rakyat Maluku melawan belanda.

Sultan Hasannudin

Sultan Muhammad Said memiliki putra bernama Sultan Hasannudin yang kelak akan mewarisi kerjaannya.

Pada masa pemerintahannya, hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan berhasil ditaklukkan.

Nusa Tenggara (Sumbawa dan sebagian Flores) juga takluk dalam kekuasannya.

Tak ayal, pintu perlayaran dan perdagangan Indonesia timur dan Indonesia barat mesti meleati daerah kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo.

Setiap pelayaran yang melewati daerah kekuasaannya, mesti singgah ke pelabuhan Makassar.

Hal inilah yang menyebabkan Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaannya.

Aspek Kehidupan Kerajaan Gowa Tallo

faktor kejayaan kerajaan gowa tallo
Image source: www.sabarpramono.blogspot.com

Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo bisa ditinjau dari beberapa aspek, yakni bidang sosial budaya, bidang politik, bidang agama dan spiritual, serta bidang ekonomi.

Bidang Sosial Budaya

sejarah kerajaan gowa tallo lengkap
Image source: www.siuntul.blogspot.com

Karena posisinya yang begitu strategis dalam pusat pelayaran yang menghubungkan Indonesia timur dan Indonesia barat, penduduk Kerajaan Gowa dan Tallo sebagian besar berprofesi sebagai pedagang dan nelayan.

Tak jarang juga penduduknya memutuskan merantau keluar wilayahnya demi meningkatkan kesejahteraan hidup.

Karena memang, penduduk Makassar dikenal sebagai seorang petualang dan pekerja keras.

Meski demikian, masyarakat Makassar juga dikenal sangat patuh dalam memegang norma adatnya yang suci.

Jadi meski mereka keluar wilayah Makassar, tidak serta merta mereka hidup bebas.
Norma adat yang berlaku bagi masyarakat Makassar ini disebut dengan istilah Pangadakkang.

Mereka percaya dan begitu patuh pada norma adat tersebut.

Struktur masyarakat Makassar juga dibagi dalam beberapa lapisan sosial, yakni Anakarung/Karaeng yang merupakan lapisan masyarakat kelas atas yang terdiri dari para bangsawan dan keluarganya.

Untuk rakyat kebanyakan di lapisan tengah, disebut dengan istilah “to Maradeka”.

Sedangkan masyrakat kelas bawah, yang terdiri dari budak dan hamba sahaya, disebut dengan nama golongan “Ata”.

Bidang Politik

kerajaan gowa tallo letak
Image source: www.parararam.com

Berbagai sumber sejarah, menyebutkan persebaran Agama Islam di wilayah Makassar memegang peranan penting dalam kemajuan Kerajan Gowa dan Tallo.

Awal mula dakwah Islam di Makassar dimulai pada abad ke-17 Masehi.

Dakwah Islam ini awalmu lanya dilakukan oleh Datuk Robandang atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari wilayah Sumatera.

Saat itu perkembangan Agama Islam di Makassar terjadi begitu pesat.

Bahkan sang raja pun ikut berhijrah dengan memeluk agama Islam.

Sultan Alaudin merupakan raja Makassar pertama yang memeluk Agama Islam.

Di bawah kepemimpinannya, Makassar melesat perkembangannya menjadi kerajaan maritim.

Perkembangan ini makin pesat lagi saat Raja Muhammad Said memerintah Kerajaan Makassar pada tahun 1639 gingga 1653.

Sayangnya, kondisi yang bagus ini mulai terusik saat penjajah Belanda dengan VOC-nya mulai berdatangan di Indonesia wilayah timur.

Untuk mengusir keberadaan VOC, Sultan Hasannudin bersama pasukannya mlakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda di daerah Maluku.

Akibat gempuran tersebut, posisi Belanda menjadi terjepit dan terdesak.

Karena keberaniannya melakukan serangan terhadap Belanda, Sultan Hasannudin disebut orang Belanda dengan julukan Ayam Jantan dari Timur.

Walaupun demikian, pihak Belanda tidak kehabisan ide soal bagaimana bisa melakukan serangan balik.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Belanda menghasut Kerajaan Bone untuk menyerang Kerajaan Makassar.

Dengan hasutan tersebut, Belanda berharap terjadi adu domba antara Kerajaan Makassar dan Kerajaan Bone.

Apalagi, saat itu Aru Palaka, yang merupakan raja Kerajaan Bone, merasa terjajah oleh Kerajaan Makassar.

Aru Palaka setuju dengan tawaran VOC dalam usahanya lepas dari kekuasaan Kerajaan Makassar.

Akibat dari persekutuan Aru Palaka dan VOC itu akhirnya Belanda berhasil menjatuhkan ibukota Kerajaan Makassar.

Bahkan Kerajaan Makassar semakin jatuh lagi posisinya akibat perjanjian Bongaya yang terpaksa ditandatanganinya.

Perjanjian Bongaya yang terjadi pada tahun 1667 ini sangat merugikan pihak Makassar.

Meskipun perjanjian Bongaya sudah terjadi, perlawanan Kerajaan Makassar terhadap VOC tetap berlanjut.

Di bawah pimpinan Mapasomba, yang merupakan putra Sultan Hasannudin, Kerajaan Makassar meneruskan perlawanan.

Karena terus melawan, akhirnya Belanda berniat untuk menghabisi eksistensi Kerajaan Makassar dengan mendatangkan pasukan besar.

Akibat serangan ini, Kerajaan Makassar berhasil dikuasai sepenuhnya dan mengalami kehancuran.

Bidang Agama dan Spiritual

kerajaan gowa tallo lebih dikenal dengan sebutan
Image source: www.infosolsel.web.id

Dakwah Islam di Makassar diawali oleh seorang ulama Sumatra yang bernama Datuk Robandang atau Dato’ Ri Bandang.

Pada mulanya, kerajaan yang rsemi memeluk Agama Islam adalah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Peristiwa ini terjadi pada tahun 1605 Masehi.

Adalah Raja Tallo yang bernama I mallingkaeng Daeng Manyonri yang mula-mula memeluk agama Islam, lalu diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam.

Peristiwa ini dilanjutkan oleh Mengenrangi Daeng Manrabia yang mengikuti bersyahadat memeluk Islam, yang kemudian diberi gelar Sultan Alaudin.

Dua tahun kemudian, seluruh rakyat Kerajaan Gowa dan Tallo memeluk agama Islam dan diikuti oleh seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan lainnya enam tahun kemudian.

Awalnya kerajaan bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo dan Sidenreng menolak kedatangan Islam.

Karena itu, Kerajaan Gowa akhirnya melakukan penyerangan dan akhirnya kerajaan-kerajaan itu takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa.

Akibatnya, penyebaran Islam di kerajaan-kerajaan itu bisa dilakukan secara masif dan banyak yang akhirnya memeluk Islam.

Bidang Ekonomi

kerajaan gowa tallo mencapai kejayaannya ketika dipimpin oleh
Image source: www.chacalusiani.blogspot.com

Posisi Kerajaan Makassar yang strategis sangat mendukung kerajaan ini menjelma jadi kerajaan maritim yang disegani di nusantara.

Apalagi Kerajaan Makassar ini berkembang pesat menjadi pusat perdagang yang mencakup wilayah Indonesia wilayah timur.

Perkembangan ini tidak kurang didukung oleh beberapa faktor, yakni sebagai berikut.

  • Posisi geofrafis yang strategis.
  • Memilik infrastruktur pelabuhan yang baik dan bagus.
  • Banyak pedagang yang berpindah ke Indonesia Timur karena kejatuhan wilayah Malakan di bawah kekuasaan Portugis tahun 1511.

Pada perkembangann, Makassar semakin berkembang lagi dengan menjadi pelabuhan berskala multinasional dengan banyaknya pedagang asing yang singgah di pelabuhan tersebut.

Di antara pedagang asing yang singgah itu adalah pedagang yang berasal dari Portugis, Inggris,dan Denmark.

Pelayanan terhadap sistem perdagangan dan pelayanan ini semakin bagus karena diterapkan auturan dan hukum perniagaan yag dikenal dengan istilah “Ade’ Aloping Loping Bicaranna Pabbalue”.

Dengan adanya aturan dan hukum ini, semua transaksi perdagangan dan pelayaran di Makassar semakin teratur dan pesat perkembangannya.

Masa Kejayaan Kerajaan Gowa Tallo

faktor penyebab kerajaan gowa tallo berkembang menjadi pusat perdagangan
Image source: www.bukalapak.com

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan kerajaan maritim yang juga yang memiliki hasil bumi berupa rempah-rempah.

Kerajaan ini mulai menjadi kerajaan maritim saat pemerintahannya dijabat oleh Sultan Alaudin pada tahun 1591 hingga 1638 Masehi.

Pada masa pemerintahannya, para pelaut Makassar mulai mengembangkan Lambo dan Perahu berjenis pinisi yang sangat terkenal hingga sekarang.

Setelah Sultan Alaudin meninggal, penerusnya adalah sang putra, Sultan Muhammad Said yang memerintah pada tahun 1638 hingga 1653 Masehi.

Kesultanan ini berlanjut kepada Sultan Hasannudin yang berhasil membawa Kerajaan Makassar pada puncak kegemilangan.

Beliau berkuasa di Kerajaan Makassar mulai tahun 1653 Masehi.

Pada masanya, perdagangan begitu maju karena gencarnya ekspansi yang dilakukan.

Saat itu Kerajaan Makassar berhasil menguasai daerah Lawu, Wajo, Soppeng, dan Bone.

Para pelaut Makassar memang terkenal dengan keahlian dan keuletannya dalam mendesain berbagai kapal dan dalam hal menjelajah samudra.

Tak ayal, kapal seperti Pinisi, Lambo, dan Padewalang bisa mnegarungi lautan nusantara hingga ke India dan Cina.

Dalam bidang hukum, Kerajaan Makassar juga mengalami kemajuan dengan dibuatnya hukum Ade Alloping Bicaranna Pabbahi’e.

Dalam masa jayanya, Kerajaan Makassar memiliki hubungan yang baik dengan Kerajaan Ternate, Kerjaan Demak, dan Kerajaan Malaka.

Runtuhnya Kerajaan Gowa Tallo

ppt kerajaan gowa tallo lengkap
Image source: www.republika.co.id

Akhir sejarah Kerajaan Makassar memang akibat kedatangan orang-orang Belanda.

Di waktu-waktu terakhir riwayat Kerajaan Makassar, perlawanan dan peperangan yang ditujukan kepada oranng Belanda semakin sengit saja di bawah pimpinan Napasomba, yang merupakan putra Sultan Hasannudin.

Napasomba begitu gigih dan berjuang menentang Belanda demi eksistensi dan kehormatan para leluhurnya di Kesultanan Makassar.

Segala upaya dan usaha di bawah pimpinan Napasomba ini ternyata semakin membuat orang Belanda merasa jengah.

Akhirnya mereka mengirimkan pasukan dalam jumlah massal untuk menghabisi Napasomba dan pasukan-pasukannya.

Akhirnya segala kerja keras Napasomba dan pengikutnya berakhir di tangan orang Belanda.

Pasukan Napasomba berhasil ditakulkkan oleh Belanda dan nasib Napasomba tidak diketahui hingga saat ini.

Begitulah akhir riwayat Kerajaan Makassar, yang kemudian wilayahnya dikuasai sepenuhnya di bawah kekuasaan Belanda.

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

faktor runtuhnya kerajaan gowa tallo
Image source: www.yenezaandarie.blogspot.com

Sejarah perjuangan Kerajaan Gowa-Tallo telah berakhir.

Namun, masih ada beberapa hal yang menjadi peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo ini yang masih bisa kita pelajarai, antara lain Benteng Fort Rotterdam, masjid Katangka, komplek makam para raja Kerajaan Gowa Tallo, Museum Balla Lompoa Raja Gowa, Benteng Somba Opu, Batu Pallantikang, dan Makam Syekh Yusuf.

Benteng Fort Rotterdam

kerajaan gowa tallo masa kejayaan
Image source: www.qupas.id

Benteng Fort Rotterdam merupakan benteng yang sangat bersejarah bagi masyarakat Makassar.

Benteng ini adalah saksi sejarah perlawanan Kerajaan Makassar atas kedatangan Belanda yang kemudian menghancurkan tatanan hidup di area Makassar tersebut.

Benteng ini juga semakin berharga karena merupakan penginggalan yang masih tersisa dari para leluhur dan generasi Kerajaan Gowa dan Tallo di masa lalu.

Fort Rotterdam, yang juga dikenal dengan nama Benteng Ujung Pandang, merupakan benteng peninggalan Kerajaan Gowa dan Tallo yang terletak di pinggir pantai barat Kota Makassar, Sulawesi Sekatan.

Menurut bukti sejarah yag ditemukan, benteng ini mulai dibangun sejak tahun 1545 oleh I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’Kallona.

Pada masa awal pembangunan, struktur benteng ini masih menggunakan bahan dasar tanah liat.

Dan mulai di bawah pemerintahan Sultan Alaudin, yang merupakan Raja Gowa ke-14 dalam sejarah, struktur benteng ini dirombak dengan batu padas yang keras yang asalnya dari Pegunungan Karst.

Tentu saja dengan adanya renovasi benteng ini diharapkan bisa memperkuat pertahanan Kerajaan Makassar dari serangan musuh.

Jika dilihat lebih seksama, Benteng Ujung Pandang ini menyerupai bentuk seekor penyu yang akan merangkak turun menuju ke laut.

Dengan bentuk ini, filosofi yang ingin diambil Kerajaan Gowa dan Tallo adalah mereka bisa hidup di darat dan di laut, layaknya penyu yang kadang berenang mengarung samudra dan kadang juga hidup di daratan.

Masjid Katangka

kerajaan gowa tallo mencapai kejayaan pada masa pemerintahan
Image source: www.instagram.com

Masjid Katangka merupakan salah satu masjid paling tua di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Masjid Katangka memiliki nama lain Masjid Al-Hilal.

Masjid ini dinamakan Masjid Katangka karena lokasinya yang ada di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Selain dari lokasinya, Masjid ini dinamakan Masjid Katangka, karena diyakini pula bahwa pembangunannya memakai pohon Katangka.

Jika memasuki area Masjid Katangka ini terasa sekali suasana kunonya karena memang masjid ini mulai dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaudin yang merupakan raja Kerajaan Makassar pertama yang memeluk Agama Islam.

Masjid ini didirikan pada abad ke-17, lebih tepatnya pada tahun 1605 Masehi dan jika dihitung ternyata usianya sudah mencapai 400 tahun.

Masjid ini dibaguan di area Benteng Ujung Pandang.

Masjid ini digunakan oleh raja dan pasukannya untuk menunaikan ibadah shalat.

Masjid ini juga digunakan sebagai pusat pertemuan dan kegiatan keagamaan.

Apalagi saat itu, kondisi di Makassar sangat ramai pedagang dari Melayu, India dan Arab sehingga fasilitas keagamaan ini membuat para saudagar itu bertambah nyaman.

Perlu diketahui juga kalau masjid ini memiliki dinding yang cukup tebal, yakni 120 cm.

Dengan tebal dinding yang tak lazim ini diyakini bahwa masjid tersebut dulunya juga dipakai sebagai pusat pertahanan Kerajaan Makassar.

Untuk arsitekturnya, Masjid Katangka ini dipengaruhi gaya arsitektur Jawa dengan empat tiang penyangga besar di ruang utama dan bentuk atapnya yang mirip dengan Masjid Agung Demak.

Tapi sebenarnya bentuk asli dari masjid Katangka ini sulit diidentifikasi karena sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan tidak ada dokumentasi atas renovasi-renovasi yang dilakukan tersebut.

Karena Masjid ini merupakan saksi bisu masuknya Islam ke wilayah Makassar, masjid ini ditetapkan masuk dalam situs sejarah dan purbakala Makassar.

Kompleks Makam Para Raja Kerajaan Gowa Tallo beserta keturunannya

kerajaan gowa tallo kehidupan politik
Iamge source: www.nu.or.id

Komplek pemakaman raja dan keturunan Raja Tallo merupakan komplek makan yang ada di area benteng Tallo, tepatnya di Kecamatan Tallo, Kota Madya makassar.

Mereka adalah para raja dan keluarga raja yang disemayamkan pada abad ke-17 sampai abad ke-19.

Di area makam yang berlokasi di pinggir barat muara sungai Tallo ini terdapat 93 makam dengan 21 makam di antaranya dapat dikenali karena ada namanya.

Di komplek pemakaman Raja Tallo dan keturunannya ini ada tiga macam makam yang dibangun, yakni tipe kubang, tipe papan batu, dan tipe kubah.

Tipe kubang dipakai oleh para raja, para pejabat dan pembesar istana yang bentuk makamnya berupa susunan balok batu persegi seperti susunan balok candi yang ada di Jawa yang memiliki struktur kaki, dinding, dan atap.

Tipe papan batu dibangun dengan model bangunan kayu berbentuk pesegi panjang dengan bahan pasangan empat bilah papan batu.

Semantara tipe kubah dibuat melengkung atapnya layaknya sebuah kubah yang menutupi makam yang ada di dalamnya.

Menurut penelitian yang dilakukan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala pada tahun 1976 hingga 1982, makam ini disinyalir sebagai komplek makan yang strukturnya tumpang tindih.

Maksudnya ada makam-makam yang letaknya di atas pondasi bangunan dan ada pula pondasi yang letaknya ada di atas bangungan makam.

Museum Balla Lompoa Raja Gowa

jelaskan letak kerajaan gowa tallo
Image source: www.instagram.com

Museum Balla Lompoa merupakan museum yang dibagun dengan memanfaatkan bekas istana raja-raja Gowa.

Balla Lompoa, dalam Bahasa Makassar, memiliki arti rumah besar atau rumah kebesaran.

Aristektur museum ini menerapkan arsitektur khas orang Bugis dengan bentuknya yang berupa rumah panggung dengan tangga yang tingginya lebih dari 2 meter untuk masuk ke dalam.

Bangunannya dibuat dengan memakai kayu jati bergaya arsitektur tradisional.

Museum ini memiliki beberapa koleksi yang merupakan barang peninggalan raja-raja Gowa-Tallo.

Di antaranya koleksi tersebut adalah Mahkota Gowa atau Saloka Mahkota yang merupakan mahkota yang dibuat dari emas murni dengan berat 1.768 gram.

Mahkota Gowa ini bentuknya seperti kuncup bunga teratai dengan lima helai kelopak daun berhiaskan 250 batu permata berwarna hijau, merah, dan putih.

Mahkota ini berasal dari abad ke-14 Masehi dan digunakan pertama kali oleh Raja I Tumanurunga.

Dulunya mahkota ini digunakan untuk upacara pelantikan raja.

Mahkota yang tersimpan di Museum Balla Lompoa ini merupakan mahkota asli sang raja.

Koleksi lain di museum ini adalah Ponto Janga-jangaya yang merupakan gelang emas tanda kebesaran Raja Gowa dengan bentuk naga dengan dua kepala yang mulutnya terbuka serta Kotara yang merupakan rantai emas dengan berat 270 gram.

Museum ini dapat dikunjungi di alamat Jl. Sultan Hasannudin No. 48, Sungguminasa, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Benteng Somba Opu

jelaskan tentang kerajaan gowa tallo
Image source: www.yunankhilmi.blogspot.com

Benteng Somba Opu merupakan benteng yang dibangun oleh Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, Raja Kesultanan Gowa ke-9, pada abad ke-16 Masehi, lebih tepatnya tahun 1525 Masehi.

Pada perkembangan selanjutnya, benteng ini diperkuat lagi oleh Karaeng Tunipalangga Ulaweng, yang merupakan Raja Gowa ke-10, dengan menempatkan batu padas guna menguatkan struktur dinding benteng.

Benteng ini mulai dipersenjatai dengan meriam-meriam perang pada masa pemerintahan Sultan Tunijallo yang merupakan Raja Gowa ke-12.

Salah satu meriam peninggalan Benteng Somba Opu ini adalah meriam yang panjangnya mencapai 9 meter yang beratnya mencapai 9.500 kilogram.

Benteng peninggalan Kesultanan Gowa ini sekarang terlatak di Jl. Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Menurut sejarah, dulunya tempat ini selain sebagai pusat pertahanan, Benteng Somba opu ini juga pernah digunakan sebagai pusat perdagangan rempah-rempah antara pedagang dari Asia, Indonesia, dan Eropa.

Sayangnya VOC menguasai benteng ini pada tahun 1669 dan karena dirasa mengganggu tujuan monopoli pasar mereka, akhirnya benteng ini dihancurkan.

Setelah hancur dan terdendam berbagai ombak pasang, akhirnya benteng ini ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwanyang meleneliti lokasi ini pada tahun 1980-an.

Karena bentuknya yang sudah tidak karuan lagi, pada tahun 1990 pemerintah setempat merenovasi benteng ini sehingga tampak lebih baik.

Benteng ini dibanguan di area yang luasnya mencapai 113.590 meter persegi dengan diapit oleh Sungai Balang Baru dan Sungai Jene’berang.

Batu Pallantikang

pertanyaan tentang kerajaan gowa tallo beserta jawabannya
Iamge source: www.indicafisha.blogspot.com

Batu Pallantikang merupakang batu yang dulunya memiliki peranan strategis dalam setiap pelantikan Raja Kerajaan Gowa-Tallo.

Jika ada penobatan raja baru, maka sumpah jabatan penguasa Gowa-Tallo tersebut diadakan di atas batu ini.

Sebenarnya, Batu Pallantikang ini merupakan batu alami tanpa pembentukan, yang terdiri dari 2 batu kapur yang mengapit sebuah batuan andesit.

Batu andesit sendiri adalah sebuah batu yang dianggap sakral oleh masyarakat dulu.

Dulunya batu andesit ini banyak digunakan di tempat-tempat pemujaan karena dianggap batu dewa yang berasal dari kayangan, sehingga dianggap seperti batu bertuah.

Tak ayal pastinya di sekitar batu ini banyak ditemukan sesajian-sesajian pemujaan.

Saat ini batu yang terletak di sisi tenggara komplek makam Tamalate ini masih insitu atau ada di tempat aslinya.

Makam Syekh Yusuf

jelaskan mengapa kerajaan gowa tallo dapat dikuasai belanda
Image source: www.serpihanserbukjiwa.blogspot.com

Syekh Yusuf Al Makassari merupakan ulama besar Makassar yang tutup usia pada tanggal 23 Mei 1699 Masehi.

Ulama Makassar ini bukan hanya harum namanya di Makassar saja, tetapi tersohor sampai ke daratan Afrika.

Bahkan, ketika hidup, ulama berdarah Bugis-Makassar ini banyak menjadi teladan dan panutan bagi tokoh-tokoh di Afrika Selatan.

Nama asli Beliau adalah Muhammad Yusuf, nama yang indah yang diberikan oleh Sultan Alaudin kepadanya.

Menurut garis silsilah, Sultan Alaudin ini merupakan kerabat Syekh Yusuf Al Makassari dari jalur ibu.

Pendidikan agama yang dienyamnya dimulai saat Syekh Yusuf berusia 15 tahun.

Saat itu Beliau belajar pada gurunda, Sayyid Ba-Alawi bin Abdul Al Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al Aidid.

Semasa hidupnya, Syekh Yusuf ini banyak melakukan dakwah Islam ke berbagai tempat dan aktif melakuakn perlawana terhadap Belanda.

Atas aktifitasnya ini, Syekh Yusuf sempat dibuang ke Sri Lanka hingga ke Afrika Selatan.

Harumnya namanya di tanah Afrika Selatan sampai disebut oleh Nelson Madela, bahwa Syekh Yusuf adalah “salah seorang putra Afrika terbaik “.

Beliau meninggal dalam usia 73 tahun di Cap Town, Afrika Selatan.

Atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709), jenazah Syekh Yusuf dibawa pulang ke Makassar dan dimakamkan Lakiung pada tahun 1705.

Uniknya makam Syekh Yusuf ini ada di 5 tempat, yakni di Banten, Sumenep Madura, Caylon Sri Lanka, kampung Macassar Afrika Selatan, dan di Makassar Sulawesi Selatan sendiri.

Keunikan ini terjadi karena Syekh Yusuf ini semasa hidupnya melanglang buana ke berbagai tempat dan di setiap tempat Beliau memberikan pengaruh yang besar.

Tak ayal pengikutnya sangat banyak.

Dari sekian makam yang ada itu, sebenarnya yang dimakamkan bukanlah jasad Beliau, melainkan barang-barang peninggalan Beliau.

Jasa asli Beliau dimakamkan di Makassar.

Pada tahun 2005, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto.

Dan pada tahun 2009, Syekh Yusuf juga dianugerahi penghargaan Oliver Thambo yang merupakan gelar pahlawan nasional Afrika Selatan yang saat itu penghargaannya diserahkan kepada ahliw arisnya, Bapak Jusuf Kalla, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

***

Nah, itulah tadi sejarah panjang tentang kejayaan Islam di wilayah timur Indonesia, yang diwakili oleh Kerajaan Gowa-Tallo.

Bagaimana, setelah membaca artikel ini ada pertanyaan kah?

Jika kamu ada pertanyaan ataupun komentar terkait sejarah Kerajaan Gowa-Tallo ini silakan menuliskannya di kolom komentar di bawah ini, ya.

Jangan lupa share juga artikel mengenai sejarah Kerajaan Gowa-Tallo ini supaya teman-temanmu bisa ikut membacanya juga, ya.

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar