Kerajaan Islam di Indonesia

Penyebaran Kerajaan Islam di Indonesia menjadi salah satu tonggak sejarah berdirinya Indonesia saat ini.

Puncak kejayaan Kerajaan Islam di Indonesia juga makin menjadi karena dulunya Bumi Pertiwi ini bukanlah negara yang menganut siste demokrasi.

Peranan para ulama dan pendakwah pun juga tidak lepas dari penyebaran Islam.

Para ulama memiliki peranan dengan berkoneksi pada raja-raja. Beberapa faktor juga membuat Indonesia menjadi negara penganut agama Islam terbesar dunia.

Daftar Kerajaan Islam dari Yang Tertua Hingga Paling Berpengaruh di Indonesia

foto kerajaan islam di indonesia
Image source: www.p3ta-indonesia.blogspot.com

Sekitar abad ke-7 M hingga ke-8 M diperkirakan jadi tahun awal mula Islam masuk ke Indonesia.

Pendapat lainnya menyatakan Islam mulai masuk sekitar abad ke-11 M hingga ke-13 M.

Masuknya Islam di abad ke-7 M tersebut dikatakan dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Timur Tengah.

Pedagang tersebut menjalin hubungan kerja sama di bidang ekonomi.

Mengingat Indonesia memiliki hasil bumi dan laut yang melimpah, sehingga Indonesia masuk ke jalur perdagangan dunia.

Para pedagang saat itu masuk melalui pantai di Sumatera bagian utara atau wilayah Samudera Pasai.

Yang kemudian membuat Kerajaan Samudera Pasai dianggap muncul sebagai Kerajaan Islam pertama.

Dari Samudera Pasai, para pedagang menyebar ke Selat Malaka hingga ke tanah Jawa.

Bersamaan dengan itu banyak pula kerajaan yang ada di Jawa, Agama Islam mengalami perkembangan seiring dengan menurunnya pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara.

Seperti Sumatera, Kerajaan Sriwijaya tidak lagi berada di puncak kejayaannya.

Di Jawa Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai wilayah di Nusantara mulai mengalami kemunduran setelah didera berbagai konflil.

Untuk mengetahui awal mula Kerajaan Islam tersebut, berikut ini daftar Kerajaan Islam yang tertua dan berpengaruh di Indonesia:

1. Kerajaan Samudra Pasai

kerajaan islam di indonesia lengkap
Image source: www.kanalaceh.com/

Samudra Pasai merupakan Kerajaan Islam pertama di Indonesia yang terletak di Aceh, walau pun ada beberapa literatur yang mengatakan bahwa sebelum ada Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Perlak sudah lebih dulu berdiri.

Kerajaan Samudra Pasai menjadi kerajaan Islam pertama karena menjadi lokasinya pertemuan gujarat Arab untuk berdagang.

Saking banyaknya pedagang, daerah Sumatera bagian Utara ini pun terkenl hingga seluruh dunia.

Samudra Pasai saat itu didatangi oleh saudagar bernama Ibnu Batutah.

Ada pula tokoh yang terkenal dalam dunia Islam yang turut mendatangi Samudra Pasai yakni Laksamana Cheng Ho.

Di wilayah tersebut juga banyak ditinggali oleh orang keturunan Arab, Mesir, Persia, serta orang keturunan Timur Tengah.

Selain melakan perdagangan, para penyebar agama Islam tersebut juga melakukan sosialisasi hingga masyarakat pun menjadi akrab dengan agama Islam.

Sejarah Berdirinya Samudra Pasai

Sebelum bernama Samudra Pasai, kerajaan ini lebih dulu dikenal dengan nama Samudra Darussalam.

Saat itu kerajaan didirikan pada abad ke-13 atau tepatnya di tahun 1267 yang diperintah pertama kali oleh Sultan Malik As-Saleh.

Kerajaan Samudra Pasai ini berdiri setelah kehancuran Kerajaan Sriwijaya. Ibnu Batutah yang dikenal sebagai sejarawan Maroko berkunjung ke kerajaan ini pada 1345-1346.

Ia saat itu menyebut kerajaan dengan ‘Sumutrah’ untuk penyebutan ‘Samudra’ yang kini menjadi Sumatera.

Saat singgah di Samudra Pasai, Ibnu Batutah dijemput oleh seorang laksamana bernama Bohruz.

Laksamana tersebut lalu menginformasikan bahwa Ibnu Batutah telah datang.

Raja Sultan Malik As-Saleh pun memanggil Ibnu Batutah ke istana.

Setelah ke Samudra Pasai, Ibnu Batutah melanjukan perjalanan ke Delhi, India untuk melanjutkan pelayaran ke China.

Kunjungan Ibnu Batutah ke berbagai kerajaan tertautnya hubungan erat antara  3 sulta yang wilayah kerajaanya saling berjauhan.

Yakni Sultan Malik As-Saleh dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Sultan Mahmud fi New Delhi, dan Kesultanan Usmani di Ottoman.

Kilasan Kehidupan Politik Samudra Pasai

Bergelar Sultan Malik As-Saleh, Marah Silu merupakan pendiri kerajaan dan memerintah tahun 1285-1297.

Putra Sultan Malik As-Saleh kemudian naik tahta menggantikan ayahnya yang wafat sejak tahun 1297 hingga 1326.

Tahta kembali berpindah. Sultan Ahmad yang juga bergelar Sultan Malik Al-Tahir II menggantikan Sultan Muhammad mulai tahun 1326 hingga 1348.

Di bawah kekuasaanya, Kerajaan Samudera Pasai mulai berkembang pesat.

Kerajaan saat itu terus menjalin hubungan baik dengan kerajaan Islam seperti yang ada di India dan Arab.

Di bawah pemerintahan Sultan Zaenal Abidin, Kerajaan Samudera Pasai tak lagi banyak ditemukan catatan sejarahnya.

Namun dalam sebuah catatan Melayu diceritakan jika Kerajaan Pasai kemudian menerima serangan hingga menyebabkan keruntuhan.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Samudra Pasai

Samudara Pasai menjadi pusat perdaganagn di wilayah Aceh dan sekitarnya dan menjadi daerah Maritim.

Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai seperti menjadi pengganti Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.

Komusitas perdagangan yang paling terkenal di Samudera Pasai saat itu antara lain merica, kabur barus, dan emas.

Saat itu mereka juga telah mengenal uang emas yang dinamakan Dirham sebagai alat tukar atau alat pembayaran.

Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Samudra Pasai

Selain berdagangan masyarakat di Kerajaan Samudera Pasai juga pandai dalam menghasilkan karya tulis.

Karya-karya terbaik yang saat itu paling dikenal adalah memanfaatkan huruf Arab yang dilakukan oleh kelompok minoritas kreatif.

Kelompok minoritas kreatif memanfaatkan huruf Arab untuk menulis dalam bahasa Melayu yang kemudian tulisan itu disebut dengan Arab Jawi.

Hikayat Raja Pasai (HRP) adalah satu tulisan yang paling terkenal saat itu.

Kemunculan tulisan ini menjadi awal mula perkembangan sastra di Indonesia.

Ada yang menyebut jika tulisan ini mulai dibuat pada 1360 M. Sejak perkembangannya, tulisan Melayu ini lantas digunakan Syaikh Abdurrauf Al-Singkili untuk membuat buku.

Tak hanya sastra, ilmu tasawuf pun saat itu ikut berkembang. Satu yang sudah diterjemahkan adalah buku Darru al Manzum ciptaan Maulana Abu Ishak.

Kitab ini kemudian diminta Sultan Malaka untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan.

Daftar Sultan Kerajaan Samudra Pasai

  1. Sultan Malik Al-Shalih (? – 1297)

Kerajaan Samudra Pasai pertama kali dipimpin oleh Sultan Malik As-Saleh. Namun tidak ada tahun pasti sultan memulai kepemimpinanannya.

Sementara berdasarkan batu nisan yang tertera, Sultan As-Saleh meninggal pda 1297 Hijriah dan digantikan sang putra.

  1. Sultan Muhammad Malik Az-Zahir (1297 – 1326)

Anak Sultan Malik As-Saleh, yakni Sultan Muhammad Malik Az-Zahir memimpin Kerajaan Samudra Pasai mulai tahun 1297 H hingga 1326 H.

Saat kepemimpinan Az-Zahir, rakyat sekitar Samudra Pasai sudah menggunakan uang sebagai alat tukar. Saat itu uang berupa dirham.

  1. Sultan Mahmud az-Zahir (1326 – ± 1345)

Saat Muhammad Malik Az-Zahir mangkat, ia digantikan oleh putranya, Sultan Mahmud Az-Zahir.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Samudera Pasai dikabarkan sempat diserang oleh Kerajan Siam.

Penyerangan terjadi lantaran sang raja tidak mau memenuhi permintaan Siam untuk memberikan upeti. Serangan tersebut dapat digagalkannya.

Terlepas dari cerita penyerangan, Sultan Mahmud juga pernah dikabarkan pernah membuang adiknya Tamiang.

Hal itu terjadi karena sang adik Sultan Malik Al-Mansur, mengambil wanita di istananya.

Meski begitu ketika tahta turun Sultan Mahmud pun akhirnya digantikan oleh Sultan Malik.

  1. Sultan Mansur Malik az-Zahir (1326 – ?)

Menurut hikayat baginda Sultan Mansur Malik az-Zahir adalah cucu dari Sultan Malik al-Shalih.

Sementara menurut Sejarah Melayu baginda Sultan Mansur Malik az-Zahir ini adalah anak dari Muhammad Malik az-Zahir.

Meski pun ada perbedaan pendapat soal silsilah di atas, namun kepemimpinan Sultan Mansur ini telah diakui.

Ia berkuasa di kerajaan berdasarkan besaran Derham pada koleksi H. Scheffer.

  1. Sultan Ahmad az-Zahir (1346 – 1383)

Dalam masa pemerintahan Sultan Ahmad az-Zahir, satu kerajaan terbesar saat itu, Majapahit sempat menyerang.

Penyerangan terjadi pada tahun 1361 M.

Kalah dari peperangan, Ahmad az-Zahir pun melarikan diri dan warga Samudra Pasai banyak yang ditawan.

Ada pula tawanan yang dibawa ke Pulau Jawa.

Ketika berada di Pulau Jawa, para tawanan dibebaskan untuk tinggal di mana pun mereka mau.

  1. Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir (1383 – 1405)

Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir memerintah hingga 1405 H.

Tak lama memerintah ia malah diserang raja dari Pedie, Aceh Raja Nakur.

Kematiannya menyimpan pilu mendalam hingga sang selir membuat sayembara. Siapa saja yang bisa membunuh Raja Nakur akan dijadikan suami.

Selir tersebut dengan berani memerintahkan putranya bersama Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir.

Tawaran tersebut terwujud. Raja Nakur berhasil dibunuh oleh seorang nelayan. T

ak ingkari janjinya, nelayan tersebut akhirnya diberi gelar raja Samudra Pasai.

  1. Sultan Sallah ad-Din (1405 – 1412)

Sultan Sallah ad-Din berhasil menjadi raja setelah berhasil membunuh Raja Nakur.

Ia yang merupakan seorang nelayan pun menjadi raja selama 7 tahun.

Namun Sultan Sallah ad-Din ini dibunuh oleh anak tirinya Abu Malik az-Zahir pada tahun 1412.

  1. Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir (1412 – ?)

Saat memimpin, Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir mengirimkan pasukan ke China.

Hal tersebut dimaksudkan untuk meminta pengesahan dirinya sebagai raja.

Namun tidak diketahui penyebab serta alasan Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir tak lagi menjabat sebagai raja.

2. Kerajaan Aceh Darussalam

kerajaan islam di indonesia aceh
Image source: www.smbadaruddin2-airport.co.id

Setelah Kerajaan Samudera Pasai runtuh, munculah Kerajaan Aceh Darusalam yang kemudian jadi kerajaan Islam terbesar.

Setelah Kerajaan Samudera Pasai terkena serangan lawan dari Majapahit dan Portugis lahirlah Kerajaan Aceh Darrusalam pada tahun 1495.

Tiga puluh tahun setelah akhirnya Samudra Pasai diambil alih.

Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertamanya.

Ia diangkat sebelum Samudra Pasai benar-benar runtuh atau lebih tepatnya di tahun 1507.

Kerajaan Aceh Darrusalam pun berhasil menjadi penguasa baru di wilayah Aceh.

Bangunan Kesultanan Aceh Darrusalam berada di tanah bekas kerajaan Hindu-Budha yang pernahs berkembang di Aceh.

Kerajaan ini mulai mencapai masa kerjayaan di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda.

Sultan Iskandar Muda memerintah Kesultanan Aceh Darrusalam pada 1607 hingga 1636 dan merupakan raja ke-14.

Masa kejayaan tersebut tak ddidapat dengan mudah karena semasa kepemimpinannya, Kesultanan Aceh Darrusalam sedang mengalami masa sulit.

Bidang pemerintahan saat itu sedang memiliki banyak konflik.

Namun berkat Sultan Iskandar Muda, masalah tersebut bisa dikendalikan dan mengembalikan situasi kerajaan seperti semula.

Selain itu, semasa masa pimpinannya, wilayah kekuasaan kerajaan meluas. Hampir seluruh wilayah di Aceh seperti Lhokseumawe, Tamiang, Meureudu, Pedir, Peusangan, Samalanga, Jambu Aye dan Kuala Pase berhasil dikuasai.

Perdagangan yang berada di sekitar Selat Malaka pun juga berhasil ditaklukan Kesultanan Aceh Darrusalam dan membuat perekonomian membaik hingga berkembang pesat.

Kesultanan juga semakin dikenal hingga membuat Aceh tersohor sebagai pusat perdagangan di wilayah Selat Malaka.

Adapun pusat perdagangan saat itu yang paling ramai terletak di pelabuhan pantai barat dan timur Sumatera.

Pusat perekonomian ini berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh Darrusalam.

Selama 4 periode berturut-turut, Kesultanan Aceh Darrusalam sempat dipimpin seorang ratu.

Pertama ada Sultanah Safi al-Din Taj al-Alam yang memerintah sejak 1641 sampai 1675.

Selama masa pemerintahannya, permasalahan internal istana mulai muncul. Pemberontakan mulai terjadi dari dalam.

Para pemberontak berdalil Kerajaan Aceh Darrusalam harusnya tak dipimpin oleh wanita.

Walaupun mendapatkan pemberontakan, Sultanah Safi Al-Din justru terbilang sukses membangun kerajaan.

Dalam kurun waktu 34 tahun kepemimpinannya, ia berhasil membawa Kerajaan Aceh Darrusalam seperti masa kejayaan Sultan Iskandar Muda yang merupakan ayahnya.

Kesuksesannya saat itu yakni berupa hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah Kesultanan Aceh Darrusalam, sehingga saat dirinya membutuhkan bantuan, banyak pertolongan yang ia terima. Pada tahun 1675 Sultanah Safi meninggal dunia.

Masa kehancuran Kesultanan Aceh Darrusalam mulai terlihat di abad ke-18.

Kehancuran tersebut karena belum ada raja yang bisa membangkitkan Kesultanan Aceh Darrusalam sepeninggal raja-raja yang mencapai puncak kejayaannya.

Selain itu, gempuran dari luar juga berpengaruh dalam keruntuhan kerajaan.

Pihak asing mulai memasuki wilayah Sumatera hingga pada abad ke-20 Kesultanan Aceh Darrusalam sudah tidak bisa mempertahankan kekuasaannya di wilayah Aceh.

Mendengar Kerajaan di Aceh mengalami kehancuran, Belanda datang memanfaatkan keadaan.

Mereka melakukan strategi memecah belah rakyat. Kaum ulama dan keluarga kerajaan dipisahkan, tempat ibadah dan sekolah juga dihancurkan.

Dan benar saya, orang-orang Belanda berhasil merebut dan menguasai wilayah Aceh di tahun 1903.

Daftar Raja yang pernah memimpin Kesultanan Aceh Darrusalam

  • Sultan Ali Mughayat dengan masa kekuasaan tahun 1514-1528 Masehi.
  • Sultan Salahuddin, dengan masa kekuasaan tahun 1528-1537 Masehi.
  • Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar, dengan masa kekuasaan tahun 1537-1568 Masehi.
  • Sultan Sri Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1575-1576 Masehi.
  • Sultan Zain al-Abidin, dengan masa kekuasaan tahun 1576-1577 Masehi.
  • Sultan Ala’ al-Abidin, dengan masa kekuasaan tahun 1577-1589 Masehi.
  • Sultan Buyung, dengan masa kekuasaan 1589-1596 Masehi.
  • Sultan Ala’ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil, masa kekuasaan tahun 1596-1604 Masehi.
  • Sultan Ali Riayat Syah, dengan masa kekuasaan tahun 1604-1607 Masehi.
  • Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1607-1636 Masehi.
  • Iskandar Thani, dengan masa kekuasaan tahun 1636-1641 Masehi.
  • Sri Ratu Safi al-Din Taj al Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1641-1675 Masehi.
  • Sri Ratu Naqvi al-Din Nur al-Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1641-1678 Masehi.
  • Sri Ratu Zaqqi al-Din Inayat Syah, dengan masa kekuasaan tahun 1678-1688 Masehi.
  • Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din, dengan masa kekuasaan tahun 1688-1699
  • Sultan Badr al-Alam S Hashim Jamal al-Din, dengan masa kekuasaan tahun 1699-1702 Masehi
  • Sultan Perkasa Alam S L, dengan masa kekuasaan tahun 1702-1703 Masehi
  • Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir, dengan masa kekuasaan tahun 1703-1726 Masehi
  • Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din dengan masa kekuasaan 1726
  • Sultan Shyam al-Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1726-1727 Masehi.
  • Sultan Ala‘ al-Din Ahmad S, dengan masa kekuasaan tahun 1727-1735 Masehi
  • Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah, dengan masa kekuasaan  tahun 1735-1760 Masehi
  • Sultan Mahmud Syah, memerintah di Kerajaan Aceh dengan masa kekuasaan tahun 1760-1781 Maehi.
  • Sultan Badr al-Din dengan masa kekuasaan tahun 1781-1785 Masehi.
  • Sultan Sulaiman Siah, memerintah di Kerajaan Aceh pada tahun 1785- tak diketahui
  • Alauddin Muhammad Daud Syah. (tak diketahui)
  • Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam, dengan masa kekuasaan tahun 1795-1815 dan 1818-1824 Masehi.
  • Sultan Syarif Saif al-Alam dengan masa kekuasaan pada tahun 1815-1818 Masehi.
  • Sultan Muhammad Syah dengan masa kekuasaan tahun 1824-1838 Masehi.
  • Sultan Sulaiman Siah, dengan masa kekuasaan tahun 1838-1857 Masehi.
  • Sultan Mansur Syah dengan masa kekuasaan tahun 1857-1870 Masehi.
  • Sultan Mahmud Syah, dengan masa kekuasaan tahun 1870-1874 Masehi.
  • Sultan Muhammad Daud Syah, dengan masa kekuasaan tahun 1874-1903

3. Kerajaan Cirebon

kerajaan islam pertama di indonesia adalah
Image source; www.travelspromo.co.id

Pada abad ke-15 M hingga 16 Masehi, Kesultanan Cirebon menjadi kesultanan Islam ternama yang berada di Jawa Barat.

Tersohornya Kesultanan Cirebon karena tempat bernaungnya jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau terlebih lokasinya yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Karena letaknya yang berada di perbatasan, Kesultanan Cirebon memiliki kebudayaan tersendiri yang tidak didominasi Jawa Barat maupun Sunda.

Sejarah Kesultanan Cirebon berdasarkan naskah Babad Tanah Sunda naskah Carita Purwaka Caruban Nagari berawal dari desa kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.

Seiring berjalannya waktu, desa tersebut berkembang dan diberi nama Caruban.

Warga Caruban berisi dari berbagai kalangan, agama, bahasa, adat serta mata pencaharian yang berbeda-beda.

Sementara pekerjaan awal warga di sana adalah nelayan sehingga berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan udang kecil.

Di situlah berkembang nama Cai-rebon (udang kecil) yang kemudian menjadi Cirebon.

Cirebon mulai berkembang menjadi kota besar ketika pelabuhan-pelabuhan ramai sumer daya alam.

Cirebon juga menjadi pelabuhan penting yang berada di pesisir utara Pulau Jawa hingga menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Barat.

Sementara Kesultanan Cirebon berawal dari Ki Gedeng Tapa yang merupakan saudagar kaya di Pelabuhan Muarajati, Cirebon.

Ia memulai desa Cirebon dengan mebuka hutan dan membangun tempat istirahat pada tahun 1445 M. Semenjak itulah banyak orang yang berdatangan ke Cirebon.

Apa yang terjadi di Cireboh tidak bisa lepas dengan Kesultanan Demak.

Panglima Kesultanan Demak mendirikan Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1522.

Sementara Sultan pertama adalah Sunan Gunung Jati.

Berikut ini daftar sultan yang pernah memimpin Kesultanan Cirebon:

  1. Sunan Gunung Jati (1479-1568)

Kesultanan Cirebon berkembang pesat di bawah kekuasaan Sunan Gunung Jati.

Ia juga diyakini sebagai penyebar agama Islam di kawasan Jawa Barat seperti Sunda Kelapan, Banten, Majalengka, Kuningan, dan Kawali.

  1. Fatahillah (1568-1570)

Sebagai penyebar agama Islam, Sunan Gunung Jati sering meninggalkan Kesultanan Cirebon untuk melaksanakan tugas dakwah.

Saat itulah Kesultanan Cirebon dijabat oleh Fatahillah yang resmi menjadi raja di tahun 1568.

Namun masa kepemimpinannya tak lama karena ia meninggal dunia setelah 2 tahun memimpin.

Makamnya pun bersebelahan dengan Sunan Gunung Jati.

  1. Panembahan Ratu I (1570-1649)

Setelah ditinggal oleh Fatahillah, cucu Sunan Gunung Jati menjadi raja selanjutnya.

Cucu tersebut bernama Pangeran Mas yang bergelar Panembahan Ratu I.

Ia memimpin Kesultanan Cirebon selama 79 tahun.

  1. Panembahan Ratu II (1649-1677)

Di akhir masa Panembahan I, pemerintahan Kesultanan Cirebon akhirnya jatuh ke tangan Panembahan Ratu II, Pangeran Rasmi.

Cucu dari Panembahan Ratu I ini mendapatkan tahta karena putra dari Panembahan Ratu I telah terlebih dulu wafat.

Pangeran Rasmi pun menggunakan gelar sang ayah yakni Panembahan Ratu II atau juga disebut Panembahan Girilaya.

Kekosongan penguasa mulai terjadi saat Panembahan Girilaya meninggal.

Sultan Ageng Tirtayasa dengan segera memberikan penobatan Pangeran Wangsakerta untuk menggantikan Panembahan Girilaya di bawah tanggung jawab Kerajaan Banten.

Kesultanan Cirebon sudah tak lagi mencapai masa kejayaan sebagai pengembang agama Islam setelah masa kemerdekaan Indonesia.

Namun kerajaan masih tetap menjalankan kebudayaan Islam di Cirebon.

4. Kerajaan Demak

kerajaan islam tertua di indonesia adalah brainly
Image source: www.travel.detik.com

Kerajaan Demak memiliki perananan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Namun, kekuasaanya tak bertahan lama hanya selama 79 tahun dengan lima raja yang pernah memerintah.

Walau pun hanya sebentar, tokoh Kerajaan Demak masih tersohor hingga kini yakni Wali Sanga yang merupakan penyebar agama Islam.

Sebanyak sembilan orang wali dikirimkan ke daerah yang masih menyisakan sisa kekuasaan Hindu-Budha.

Mereka bertugas untuk mengislamkan orang di kawasan Pulau Jawa.

Kerajaan ini muncul usai terjadinya kemunduran kekuasaan dari Kerajaan Majapahit.

Demak akhirnyadisebut sebagai penganti Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah, mengalami puncak kejayaan oleh Sultan Trenggana yang merupakan anak dari Raden Patah.

Sementara masa kekuasaan berakhir di bawah kepemimpinan Arya Penangsang.

Kerajaan Demak berada di puncak kejayaan saat berhasil merebut wilayah Sunda Kelapa dari Portugis.

Namun masa keemasan itu lambat laun menurun saat terjadi perebutan kekuasaan.

Daftar Raja-Raja Kerajaan Demak

  1. Raden Patah

Meski Kerajaan Majapahit telah runtuh, namun salah satu garis keturunanya telah berhasil diselamatkan dan menjadi raja pertama di Kerajaan Demak adalah Raden Patah.

Keturunan terakhir Raja Majapahit sebenarnya memiliki nama asli Brawijaya.

Senapati Jumbang Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Palembang Panatagama lantas disematkan pada gelar Raden Patah.

Nama Pelembang di tengah-tengah gelarnya sengaja disematkan lantaran Raden patah lahir dari sana.

Keturuan terakhir Kerjaan Majapahit ini memerintah Demak selama 43 tahun dari tahun 1475 Masehi hingga 1518 Masehi.

  1. Pati Unus

Pati Unus dikenal sebagai pemimpin yang berani.

Ia adalah anak dari Raden Patah yang memimpin Kerjaan Demak selama 3 tahun saja.

Pada masa kepemimpinannya, Patu Unus yang juga dikenal sebagai Pangeran Sebrang Lor ini memimpin armada untuk mengerang Portugis.

Keputusan besar itu ia lakukan karena geram melihat Portugis menduduki Malaka.

Setelah wafat, kepemimpinannya pun jatuh ke tangan adiknya.

  1. Sultan Trenggana

Adik dari Pati Unus ini menjadi raja paling hebat di Demak saat itu.

Keberhasilannya dibuktikan saat Sultan Trenggana berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan portugis.

Sejak menerima tahta di tahun 1521 Masehi Sultan Trenggana terus bergerak melancarkan aksi perluasan wilayah.

Setelah Sunda Kelapa, Sultan Trenggana juga berhasil merebut kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Wilayah kerajaan Hindu-Buddha itu pun jadi kekuasaan Demak.

Sayang, raja hebat ini harus terbunuh di medan perang pada tahun 1546 M.

  1. Sunan Prawata

Setelah Sultan Trenggana mangkat, terjadi sengketa kekuasaan antara Pangeran Surowito dan Raden Mukmin.

Pangeran Surowito akhirnya terbunuh pada 1546 Masehi setelah menjalankan salat Jumat sepulang dari masjid.

Kekosongan itu pun lantas diisi oleh Raden Mukmin yang hanya menjabat selama 1 tahun.

Ia kemudian dibunuh oleh anak Pangeran Surowito, Arya Panengsang yang menuntut balas atas kematian sang ayah.

  1. Arya Penangsang

Tujuh tahun menduduki singgahsana, kepemimpinan Arya Penangsang diwarnai ketidakpercayaan para pemimpin di daerah-daerah kekuasaan Demak.

Hingga pada 1554 M Arya Panengsang terbunuh dalam aski pemberontakan yang dipimpin oleh Adipati Pajang alias Joko Tingkir.

5. Kerajaan Banten

ciri kerajaan islam di indonesia
Image source: www.yusinau.id

Berbeda dengan Demak dan Samudera Pasai, Banten awalnya bukanlah pusat atau jaluar perdagangan.

Pada abad ke 13 M, Banten masih sangat sepi.

Penduduk di Banten pun hanya mengenal agama Hindu seperti yang ditinggalkan oleh Kerajaan Pajajara.

Saat itu  Kerejaan Pajajaran juga melakukan perjanjian dengan Portugis untuk mendirikan pusat perdagangan di wilayah Sunda Kelapa.

Setelah Laut Jawa dilewati sebagai jalur perdagangan, baru nama Banten mulai dikenal.

Sejak saat itu Agama Islam mulai mengebar luas di Banten.

Wilayah Banten yang cukup luas, membuatnya menjadi penguasa perdagangan dan pelayaran di Selat Sunda.

Daftar Raja yang pernah memerintah Kerajaan Banten

  1. Sultan Hasanuddin

Berdirinya Kerajaa Banten tidak lepas dari campur tangan Sultan Hasanuddin yang awalnya merupakan wilayah Kerajaan Demak.

Putra dari Sunan Gunung Jati ini memilih untuk melepaskan bayang-banyak Demak dan menjadi kerajaan sendiri yang berdaulat.

Kepemimpinan Sultan Hasanuddin yang berlangsung selama 18 tahun bisa disebut sukses.

Dibawah tangan dinginnya, Lampung berhasil ditaklukkan.

Hasil rempahnya yang melimpah pun menjadi keuntungan sendiri bagi Kerajaan Banten.

Nama Kerajaan Banten makin di kenal setelah Selat Sunda menjadi pusat pelayaran dan perdagangan.

Dan sejak saat itu Banten makin ramai dikunjungi pedagang luar.

Sultan Hasanuddin berkuasa sejak tahun 1552 – 1570 M.

Sultan Hasanuddin wafat dan kemudian digantikan oleh anaknya Maulana Yusuf.

  1. Maulana Yusuf

Di bawah kepemimpinan raja kedua ini, Banten juga tak kalah berjaya.

Maulana Yusuf  yang mulai menaiki tahta sejak tahun 1570 itu pun berhasil menaklukkan Kerajaan Pajajaran.

Tak hanya itu, Maula Yusuf pun dapat memukul mundur Pimpinan Kerajaan Pajajaran, Prabu Sedah dari tahtanya.

Akibatnya, banyak rakyat Pajajaran yang memilih mengungsi di gunung.

Kini keturuan Pajajaran masih bisa kita temui sebagai Suku Badui.

  1. Maulana Muhammad

Sepeninggalan Sultan Maulana Yusuf pada tahun 1580, Kerajaan Banten akhirnya turun tahta ke putranya yang masih belia yakni Sultan Maulana Muhammad.

Karena masih berumur 9 tahun kepemimpinan pun akhirnya dikendalikan oleh Mangkubumu Jayanegara.

Dan setelah Sultan Maulana Muhammad berumur 16 tahun barulah Kerajaan Banten sepenuhnya dia pimpin.

  1. Pangeran Ratu

Tahta pun akhirnya bergeser ke Pangeran Ratu alias Abdul Mufakhir.

Di bawah kepemimpinannya Belanda mulai masuk ke Banten.

Saat itu, 22 Juni 1596 pasukan belanda dipimpin oleh Cornelius de Houtman.

  1. Sultan Ageng Tirtayasa

Salah satu raja yang membawa kemajuan pesat di Kerajaan Banten adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia adalah putra dari Pangeran Ratu.

Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Banten tercatat sukses menjalin hubungan baik dengan negar luar, Moghul dan Turki.

  1. Sultan Abdul Nasar

Sultan Abdul Nasar merupakan raja keenam dan terakhir.

Kegigihannya menolak kerjasama dengan Belanda ternyata tak berjalan baik.

Ternyata kekuatan Belanda semakin besar dan membuat Kerajaan Banten pun runtuh saat itu.

6. Kerajaan Pajang

ciri2 kerajaan islam di indonesia
Image source: www.abangnji.com

Kehancuran Kerajaan Demak ternyata juga melahirkan kerajaan-kerajaan baru, salahsatunya Kerajaan Pajang.

Sebenarnya kerajaan ini merupakan “sisa-sisa” Kerajaa Demak yang berhasil dipindahkan oleh Jaka Tingkir.

Sebagai pendiri Kerajaan Pajang, Jaka Tingkir membuat wilayah yang ada di pedalaman ini menjadi cukup maju terutama dibidang perkembangan Islam.

Sebalum kerajaan ini berdiri pun Jaka Tingkir telah memegang peran pending di Kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono.

Sayang, Kerajaan Pajang pun tak berumur lama.

Banyak faktor yang membuat kerajaan tersebut akhirnya menghilang.

Hadirnya Kerajaan pajang juga berada di tengah Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram Islam.

Yang berdiri pada abad ke-16 Masehi.

Berdirinya kerajaan ini juga menandakan bergesernya kerajaan islam di pesisir utara ke pedalaman dengan corak agraris.

Sebenarnya wilayah Kerajaan Pajang tidaklah luas yang hanya meliputi Jawa Tengah saja.

Akan tetapi seiring kelincahan Jaka Tingkir, ia mampu melaukan ekspansi hingga banyak daerah di Jawa Timur.

Daftar Raja Kerajaan Pajang

  1. Jaka Tingkir

Jaka Tingkir bukanlah nama aslinya.

Itu adalah nama julukan yang berikan saat Ia masih remaja.

Nama kecil Jaka Tingkir yakni Mas Krebet karena saat dilahirkan ada pertunjukan wayang beber di rumahnya.

Ia merupakan menantu dari Sultan Trenggana yang merupakan sultan di Kerajaan Demak.

Jaka Tingkir melalui pemberontakan Kerajaan Demak berhasil mendirikan kerajaan Islam baru.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Pajang berhasil melakukan usaha ekspansi wilayah kekuasaan, seperti ke daerah Madiun, Blora, dan Kediri.

  1. Arya Pangiri

Raja kedua Kerajaan Pajang ini masih memiliki garis keturunan Demak.

Ia adalah anak dari Sultan Prawoto yang merupakan raja keempat Kerajaan Demak.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Pajang jadi semakin tak terkendali.

Sultan Arya Pangiri sama sekali tak memilikirkan kesejahteraan rakyat.

Ia bahkan mulai memainkan monopoli untuk mengganti para pejabat dengan orang-orang yang dia datangkan dari Demak.

Alhasil, penduduk asli Pajang yang tersisih jadi alih profesi sebagai perampok setelah kehilangan mata pencaharian.

Akhirnya Arya Pangiri pun dikalahkan Banewa dan membuatnya dipuangkan lagi ke Demak.

  1. Pangeran Benawa

Anak dari Sultan Hadiwijaya ini memiliki gelar Sultan Prabuwijaya.

Semasa kecilnya, Sultan Prabuwijaya sudah dikenalkan dengan Sutawijaya.

Sutawijayalah yang kelak mendirikan kerajaan Mataram.

7. Kerajaan Mataram Islam

contoh soal kerajaan islam di indonesia
Image source: www.fajarnurmala19.blogspot.com

Kerajaan Mataram Islam juga disebut sebagai kesultanan Mataram yang berdiri sejak abad ke-16.

Awalnya, kerajaan ini merupakan hadiah dari raja Pajang untuk Ki Ageng Pemanahan yang telah mampu mengalahkan Arya Penangsang.

Pada tahun 1575 Sutawijaya pun akhirnya menduduki tahta menggantikan Ki Ageng Pemanahan sebagai bupati.

Ambisinya yang besar mendorong Sutawijya menjadi raja yang berkuasa di seluruh Jawa.

Ia pun mulai melancarkan aksi memperkuat pertahanan di dalam intern kekuasaan Mataram.

Sayang, keinginan Sutawijaya ditolak Sultan Hadiwijaya.

Pasukan pun akhirnya dikirmkan Sultan Hadiwijayauntuk menyerang kekuasaan dalam Mataram.

Pada tahun 1582 peperangan terjadi antara pasukan dari Pajang yang menerima kekalahan karena Sultan Hadiwijaya sedang sakit dan selang beberapa waktu Sultan Hadiwijaya wafat.

Wafatnya Sultan Hadiwijaya ternyata memunculkan permasalahan baru.

Para bangsawan di dalam Pajang, menantu Sultan Hadiwijaya, dan Pangeran Pangiri pun salaing berebut kekuasaan.

Peperangan pun tak terbendung hingga Pangeran Pangiri beserta pasukannya dipukul mundur dan diusir dari Pajang.

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, putra kandungnya yang bernama Pangeran Benawa menyerahkan tahta kerajaannya kepada Sutawijaya, saudara angkatnya.

Sutawijaya yang merupakan putra Ki Ageng Pamanahan lalu memindahkan seluruh pusat pemerintahan Kerajaan Pajang ke wilayah Mataram di tahun 1586.

Daftar raja Kerajaan Mataram Islam

  1. Ki Ageng Pamanahan

Adalah raja sekaligus pendiri dari Kerjaan Mataram Islam di tahun 1556.

Desa Mataram menjadi wilayah kerajaan Mataram pertama yang dipimpin oleh anaknya bernama Sutawijaya.

  1. Panembahan Senapati

Panembahan Senapati atau Sutawijaya akhirnya meneruskan tahta Ki Ageng Pamanahan yang wafat di tahun 1584.

Awalnya, Sutawijaya merupakan senapati dari kerajaan Pajang, yang bergelar Panembahan Senapati sebab masih dianggap sebagai senapati utama dari Pajang dibawah Sultan Pajang.

Pada tahun 1523, Panempahan Senapati wafat lalu posisinya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang.

  1. Raden Mas Jolang

Pada saat memimpin Mataram Panembahan Senapati menikah dengan putri Ki Ageng Panjawi sang penguasa Pati.

Mereka dikaruniai serorang anak bernama Raden Mas Jolang yang kenal menjadi pewaris tahta Mataram sejak tahun 1606 hingga 1613.

Sewaktu menjadi raja Mataram Raden Mas Jolang berganti nama menjadi Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati.

Pada masa pemerintahan Prabu Hanyakrawati yang merupakan ayah Sultan Agung ini, Kerajaan Mataram melakukan penaklukkan kerajaan-kerajaan lain yang semakin memperluas wilayah kekuasaanya.

  1. Raden Mas Rangsang

Masa keemasan Kerajaan Mataram terjada pada era pemerintahan putra Raden Mas Jolang.

Raja ketiga Mataram ini bergelar Sultal Agung Adi Prabu Hanuakrakusuma.

Nama asli Sultan Agung adalah Raden Mas Jatmika yang dikenal dengan nama Raden Mas Rangsang.

Sultan Agung memerintah dari tahun 1613 hingga 1645.

Sultan Agung memimpin Kerajaan Mataram Islam menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada era tersebut.

Di puncak kejayaanya Sultan Agung pernah menggempur benteng Belanda di Batavia.

  1. Amangkurat I

Putra dari Sultan Agung memiliki tabiat berbeda dibanding ayahnya.

Ia dikenal memiliki sifat kejam, tega membantai anggota keluarganya sendiri.

Amangkurat I juga dikenal sebagai raja yang memindahkan pusat pemerintahan Mataram dari Kota Gede ke Keraton Plered  di tahun 1647.

Di masa kepemimpinanya kerajaan mengalami perpecahan karena Amangkurat I menjadi sekutu dari VOC.

Sebelum wafat pada tanggal 10 Juli 1677 ia masih sempat menyerahkan mandat kekuasan Kerajaan Mataram Islam pada putranya yang nantinya bergelar Sultan Amangkurat II.

  1. Amangkurat II

Adalah raja ke-6 sekaligus pendiri dari Kasunanan Kartasura yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Islam.

Kedekatan Kerajaan Mataran dan VOC makan terasa pada masa pemerintahan Sultan Amangkurat II.

Bahkan, Amangkurat II menjadi raja pertama Mataram yang mengenakan seragam gaya Belanda sebagai pakaian dinasnya.

8. Kerajaan Ternate dan Tidore

kerajaan islam di indonesia doc
Image source: www.yusinau.id

Terdapat empat kerajaan Islam yang ada di Maluku dua di antaranya adalah Ternate dan Tidore.

Kesultanan Ternate yang diperintah Sultan Zainal Abidin sejak tahun 1486 hingga 1500 sementara Kesultanan Tidore diperintah oleh Sultan Mansur, Kesultanan Jailolo yang diperintah oleh Sultan Sarajati, serta Kesultanan Bacan yang diperintah oleh Sultan Kaicil Buko.

Kerajaan ini berada di Maluku Utara atau tepatnya di sebelah Pulau Halmahera.

Selain itu ada pula dua kerajaan lain sehingga terjadi perebutan untuk hegemoni politik warga di daerah Maluku.

Perebutan wilayah juga terjadi di Irian Jaya dan Maluku bgian timur.

Kerajaan Tidore bahkan berhasil menguasai dua wilayah tersebut.

Sedangkan sebagaian lain di Maluku, Gorontalo, dan Banggai Sulawesi, Flores dan Mindanao dikuasai oleh Kerajaan Ternate.

Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, Kerajaan Ternate semakin berada dipuncak kejayaan. Sedangkan Kerajaan Tidore juga tak kalah berjaya di bawah kepempinan Sultan Nuku.

Persaingan antara dua kerajaan ini sampai-sampai memunculkan persekutuan dagang.

Daftar raja di Ternate dan Tidore

  • Kolano Syahjati atau sering dikenal dengan nama Muhammad Nakil bin Jaffar Assidiq
  • Kolano Bosa Mawange
  • Kolano Syuhud atau sering dikenal dengan nam Subu
  • Kolano Balibunga
  • Kolano Duko Adoya
  • Kolano Kie Matiti
  • Kolano Seli
  • Kolano Matagena
  • Kolano Nuruddin (1334 – 1372 )
  • Kolano Hasan Syah (1372 – 1405)
  • Sutan Ciriliyati atau sering dikenal dengan nama Djamaluddin (1495 -1512)
  • Sultan Al Mansur (1512 – 1526 )
  • Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen (1526 – 1535 )
  • Sultan Kyai Mansur (1535 – 1569)
  • Sultan Iskandar Sani (1569 – 1586)
  • Sultan Gapi Baguna (1586 – 1600)
  • Sultan Mole Majimo atau sering dikenal dengan nama Zainuddin (1600 – 1626)
  • Sultan Ngora Malamo atau sering dikenal dengan nama Alauddin Syah (1626-1631)
  • Sultan Gorontalo atau sering dikenal dengan nama Saiduddin (1631-1642)
  • Sultan Saidi (1642 – 1653)
  • Sultan Mole Maginyau atau sering dikenal dengan nama Malikiddin (1653 – 1657)
  • Sultan Saifuddin atau sering dikenal dengan nama Jou Kota (1657 – 1674)
  • Sultan Hamzah Fahruddin (1674 – 1705)
  • Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705 – 1708)
  • Sultan Hassanudin Kaicil Garcia (1708 – 1728)
  • Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728 – 1757)
  • Sultan Muhammad Mashud Jamalludin (1757 – 1779)
  • Sultan Patra Alam (1780 – 1783)
  • Sultan Hairul Alam Kamalludin Asgar (1784 – 1797)
  • Sultan Syahidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati, Nuku (1797 – 1805)
  • Sultan Zainal Abidin (1805 – 1810)
  • Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810 – 1821)
  • Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821 – 1856)
  • Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856 – 1892)
  • Sultan Achmad Fatahuddin Alting (1892 – 1894)
  • Sultan Achmad Kawiyuddin Alting (1894 – 1906) Setelah tiada,terjadi konflik dalam,Instana Kie dihancurkan.
  • Sultan Zainal Abidin Syah (1947 – 1967)
  • Sultan Djafar Syah , melakukan pembangunan kembali Instana Kie
  • Sultan Husain Syah (1967 – Sekarang)
  • Bersatunya Kerajaan kedalam NKRI
  • Bersatunya Kerajaan kedalam NKRI
  • Dengan presiden Indonesia pertama yakni Ir.Soekarno, beliau telah memantau perkembangan yang terjadi di Kepulauan Tidore.

9. Kerajaan Gowa dan Tallo

soal essay kerajaan islam di indonesia
Image source: www.kompasiana.com

Ini adalah simbol kejayaan Islam di Indonesia bagian timur.

Kerajaan Gowa Tallo di Sulawesi Selatan yang berdiri sejak tahun 1605 menjadi pusat penyebaran agama Islam terluas saat itu.

Raja Gowa, Daeng Manrabia dan raja Tallo, Karaeng Matoaya keduanya sama-sama memeluk agama Islam.

Mereka kemudian menggabungkan wilayah dan dipilihlah Daeng Manrabia sebagai rajanya sedangkan perdana menteri diduduki oleh Karaeng Matoaya.

Daeng Manrabia dan Karaeng Matoaya kemudian diberi gelar Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah.

Karena sama-sama menganut Islam, Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah menjadi berselisih dengan himpunan pedagang Belanda di Hindia Timur atau VOC.

Perselisihan semakin terasa saat pedagang dari Belanda ditolak masuk ke daerah Gowa Tallo.

Bahkan hingga Sultan Alauddin wafatnya pada tahun 1639, wilayahnya tak pernahdiinjak kapal-kapal Belanda.

Masyarakat Gowa-Tallo dikenal sebagai pembuat kapal yang berjenis Pinisi dan Lombo.

Daftar raja Kerajaan Gowa Tallo

  • Tumanurung berkuasa di tahun ±1300
  • Tumassalangga Baraya
  • Puang Loe Lembang
  • I Tuniatabanri
  • Karampang ri Gowa
  • Tunatangka Lopi berkuasa di tahun ±1400
  • Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna
  • Pakere Tau Tunijallo ri Passukki
  • Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna berkuasa di awal abad ke-16
  • I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng berkuasa di tahun 1546-1565
  • I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
  • I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo berkuasa di tahun 1565-1590
  • I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu berkuasa di tahun 1593
  • I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin I Tuminanga ri Gaukanna, berkuasa tahun 1593 dan wafat tanggal 15 Juni 1639, merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk agama Islam
  • I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafat 6 November 1653
  • I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’pangkana; Lahir tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai 1669, dan wafat pada 12 Juni 1670
  • I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tuminanga ri Allu’; Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga 1674, dan wafat 7 Mei 1681
  • Sultan Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara; Lahir 29 November 1654, berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus 1681
  • I Mappadulu Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung. (1677-1709)
  • La Pareppa Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
  • I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
  • I Manrabbia Sultan Najamuddin
  • I Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi; Menjabat untuk kedua kalinya pada tahun 1735
  • I Mallawagau Sultan Abdul Chair (1735-1742)
  • I Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
  • Amas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
  • I Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
  • I Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging (1770-1778)
  • I Manawari Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
  • I Mappatunru / I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
  • La Oddanriu Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
  • I Kumala Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna (1826 – wafat 30 Januari 1893)
  • I Malingkaan Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893 – wafat 18 Mei 1895)
  • I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu’na; Memerintah sejak tanggal 18 Mei 1895, diberhentikan dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906, kemudian meninggal akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906
  • I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri Sungguminasa (1936-1946)
  • Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1978)[3]
  • Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II (2011-2014)
  • I Kumala Andi Idjo Sultan Kumala Idjo Batara Gowa III Daeng Sila Karaeng Lembang Parang (2014-Sekarang)

10. Kerajaan Islam di Sumatera

kerajaan islam di indonesia menerapkan undang undang dengan berlandaskan
Image source: www.qudsfata.com

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di Sumatra.

  1. Kerajaan Jeumpa (777M)
  2. Kesultanan Peureulak (840-1292)
  3. Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
  4. Kesultanan Lamuri (800-1503)
  5. Kerajaan Pedir (1400-1524)
  6. Kerajaan Daya (1480-Kini)
  7. Kerajaan Linge (1025-Kini)
  8. Kesultanan Aceh (1496-1903)
  9. Kesultanan Indrapura (1347-Kini)
  10. Kerajaan Pagaruyung (1347-Kini)
  11. Kerajaan Siguntur (1250-Kini)
  12. Kerajaan Sungai Pagu (1500-Kini)
  13. Kerajaan Bungo Setangkai
  14. Kesultanan Jambi (1600-Kini)
  15. Kesultanan Serdang (1723-Kini)
  16. Kesultanan Asahan (1630-Kini)
  17. Kesultanan Deli (1632-Kini)
  18. Kesultanan Langkat (1568-Kini)j
  19. Kesultanan Siak
  20. Kesultanan Palembang (1455-Kini)
  21. Kesultanan Riau Lingga (1824-1911)
  22. Kesultanan Kota Pinang (1630-1946)
  23. Kesultanan Pelalawan (1725-1946)
  24. Kerajaan Indragiri (1347-1945)
  25. Kerajaan Aru (1200-1613)
  26. Kesultanan Barus (1300-1858)
  27. Kerajaan Padang (1630-1946)
  28. Kerajaan Tamiang (1330-1558)
  29. Kerajaan Tulang Bawang (1500-Kini)
  30. Kepaksian Sekala Brak (1400-Kini)
  31. Kerajaan Dharmasraya

Kerajaan Islam di Semenanjung Malaka dan Johor

sejarah kerajaan islam di indonesia lengkap
Image source: id.wikipedia.org

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di Semananjung Malaka dan Johor.

  1. Kesultanan Malaka
  2. Nagari Johor

Daftar Kerajaan Islam di Jawa

kerajaan islam di indonesia lengkap pdf
Image source: www.ibnudin.net

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di jawa.

  1. Kesultanan Cirebon (1430 – 1666)
  2. Kesultanan Demak (1500 – 1550)
  3. Kesultanan Banten (1524 – 1813 )
  4. Kesultanan Pajang (1568 – 1618)
  5. Kesultanan Mataram (1586 – 1755)
  6. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (1755-sekarang)
  7. Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1755-sekarang)

Daftar Kerajaan Islam di Kalimantan

kerajaan islam di indonesia kelas x
Image source: www.heikaku.com

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di Kalimantan.

  1. Kerajaan Selimbau (600-Kini)
  2. Kerajaan Sintang (1500-Kini)
  3. Kerajaan Mempawah (1740-Kini)
  4. Kerajaan Tanjungpura (800-1590)
  5. Kerajaan Landak (1292-Kini)
  6. Kerajaan Kubu (1772-Kini)
  7. Kerajaan Bangkalaan (1780-1905)
  8. Kerajaan Sanggau (1310-Kini]
  9. Kerajaan Tayan (1780-Kini)
  10. Kerajaan Kusan (1785-1912)
  11. Kesultanan Pasir (1516-1905)
  12. Kesultanan Banjar (1526-1905)
  13. Kesultanan Kotawaringin (1615-Kini)
  14. Kerajaan Pagatan (1750)
  15. Kesultanan Sambas (1671-Kini)
  16. Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura (1300-Kini)
  17. Kesultanan Berau (1377-1830)
  18. Kesultanan Sambaliung (1810-1960)
  19. Kesultanan Gunung Tabur (1800-1953)
  20. Kesultanan Pontianak (1771-Kini)
  21. Kerajaan Tidung (1515-1916)
  22. Kerajaan Tidung Kuno (1076-1551)
  23. Dinasti Tengara (1551-1916)
  24. Kesultanan Bulungan (1731-1964)

Daftar Kerajaan Islam di Sulawesi

kerajaan islam di indonesia kerajaan demak
Image source: www.cocostourindonesia.com

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di Sulawesi.

  1. Kesultanan Gowa (1300-Kini)
  2. Kesultanan Buton (1332 – 1911)
  3. Kesultanan Bone (abad 17)
  4. Kesultanan Makassar
  5. Kerajaan Banggai (abad 16)
  6. Kerajaan toli-toli
  7. Kerajaan Muna
  8. Kerajaan Buol
  9. Kerajaan Wajo
  10. Kedatuan Luwu
  11. Kerajaan Tallo
  12. Kerajaan Palu
  13. Kerajaan Parigi
  14. Kerajaan Soppeng
  15. Kerajaan Bungku
  16. Kerajaan Siang
  17. Kerajaan Gorontalo
  18. Kerajaan Mongondow
  19. Kerajaan Tawaeli

Daftar Kerajaan Islam di Maluku

kerajaan islam di indonesia makassar
Image source: www.yuksinau.id

Berikut adalah daftar kerajaan Islam di Maluku.

  1. Kesultanan Ternate (1257-Kini)
  2. Kesultanan Tidore (1081-Kini)
  3. Kesultanan Jailolo
  4. Kesultanan Bacan
  5. Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682)
  6. Kerajaan Iha
  7. Kerajaan Huamual

Daftar Kerajaan Islam di Nusa Tenggara Barat

kerajaan islam di negara indonesia
Image source: www.ttnotes.com
  1. Kesultanan Bima
  2. Kesultanan Sumbawa
  3. Kerajaan Adonara
  4. Kerajaan Taliwang
  5. Kerajaan Dompu
  6. Kerajaan Selaparang
  7. Kerajaan Lamakera

***

Ternyata Kerajaan Islam yang ada di Indonesaia ini tersebar cukup banyak dengan latar belakang sejarah yang berbeda-beda.

Dengan mengetaui sejarah Kerajaan Islam di Indonesia kita bisa menjaga dan menghormati peninggalannya yang nantinya bisa kita bagi ke generasi berikutnya.

Jangan lupa untuk tetap menjaga budaya dan peninggalannya ya.

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar