Kerajaan Kediri

Apa yang pertama kali terlintas di benak ketika mendengar nama Kediri? Gethuk pisang? Seni Jharanan? Atau Simpang Lima Kediri yang beberapa waktu belakangan menjadi tempat wisata ikonik?

Jauh sebelum saat ini, kota Kediri merupakan bagian dari kerajaan Kediri atau Kadiri, sebuah kerajaan Budha terbesar di Nusantara kala itu.

Kerajaan yang berdiri selama 177 tahun ini mulanya merupakan bagian dari kekuasaan Airlangga.

Namun, karena perebutan takhta di antara kedua putranya, Airlangga memutuskan untuk membagi Kahuripan menjadi dua; yakni  Panjalu (Kediri) yang berpusat di Daha, dan  Janggala yang berpusat di Kahuripan.

Hal tersebut dicatat dalam Prasasti Pamwatan oleh Prabu Airlangga, yang menyebutkan Daha sebagai ibukota Panjalu.

Tidak banyak catatan yang dapat digunakan untuk menelusuri periode awal sejarah kerajaan Kediri, Prasasti Turun Hyang II (1044 M) hanya menyebutkan bahwa pernah terjadi perang antar dua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Hasil pemecahan Kahuripan dengan bantuan Mpu Baradha, Airlangga menyerahkan Kerajaan Kediri kepada Sri Jayawarsa, putra Airlangga.

Sedangkan Janggala jatuh pada putra Airlangga yang lain, yakni Lembu Amiluhung. Daerah yang termasuk dalam kekuasan kerajaan Kediri adalah Madiun dan Kediri, konon dijelaskan dalam Prasasrti Mahaksubya (1289 M) dalam kitab Negarakertagama (1365 M), Calon Arang (1540 M).

Sejarah Kerajaan Kediri

Raja-raja Kediri

corak kerajaan kediri brainly
Sumber: ganaislamika.com

Sepanjang masa berdirinya, dari awal mula hingga runtuh, Kediri di pimpin oleh delapan raja.

Raja Jayabaya adalah satu-satunya raja Kediri yang mampu membawa daerah kekuasannya pada puncak kejayaan.

Sebagai sistem pemerintahan monarki, Kediri mengalami beberapa kali pergantian kekuasaan.

Adapun urutan raja-raja Kediri berdasarkan masa kepemimpinannya adalah:

  1. Raja Sri Jayawarsa

Raja Sri Jayawarsa memimpin Kediri sekitar tahun 1104 bergelar Sri Maharaja Jayawarsa Digja Sastraprabhu.

Tidak ada catatan pasti kapan Sri Jayawarsa naik takhta, begitupun dengan waktu turun takhta.

Prasasti Panumbangan tahun 1120 hanya menyebutkan tentang pemakamannya di Gajapada. Raja baru yang menggantukan Sri Jayawarsa naik takhta pada tahun 1117.

  1. Raja Bameswara

Catatan tentang era Bameswara dapat banyak dijumpai dalam prasasti, terutama seperti yang ditemukan di Tulungagung juga Kertosono.

Prasasti-prasasti peninggalan Sri Bameswara kebanyakan berisi tentang keagamaan, sehingga sangat mudah bagi peneliti untuk menemukan corak pemerintahan Bameswara.

Ia memimpin Kediri sejak tahun 1117-1135 M.

  1. Raja Jayabaya

Raja ketiga Kediri ini merupakan raja yang paling cemerlang sepanjang sejarah Kediri.

Ia memimpin dari tahun 1135-1157 M, pada masa kepemimpinannya ia didampingi oleh beberapa cendikiawan.

Seperti Empu Sedah, Panuluh, Darmaja, Triguna dan juga Manoguna. Kitab hokum yang terkumpul dalam Kakawih Baratayudha, Gathutkacasarya dan Hariwangsa merupakan bukti dari kejayaan yang berhasil diraih oleh Kediri pada masa kepemimpinan Jayabaya.

Tak cukup sampai di situ, strategi Jayaba dalam memakmurkan rakyatnya membuat tanah begitu subur dan hasil panen melimpah ruah.

  1. Raja Sri Sarweswara

Raja Sri Sarweswara diperkirakan memimpin Kediri sekitar tahun 1159-1161. Sri Sarweswara merupakan sosok raja yang sangat teguh terhadap agama dan budaya, oleh karena itu ia memegang prinsip tat wam asi ‘Dikaulah itu, dikaulah (semuanya itu), semua makhluk ialah engkau. Prasasti Padelegan adalah salah satu peninggalan sejarah beliau. Selain itu, ada pula Prasasti Kahyunan yang merupakan prasasti termuda peninggalan Raja Sri Sarweswara.

  1. Raja Sri Aryeswara

Berdasarkan temuan pada prasasti Angin, Raja Sri Aryeswara memimpin Kediri sekitat tahun 1171. Tidak ada catatan pasti kapan tepatnya  ia naik takhta, begitu pula dengan tahun berakhirnya. Pada masa ini, Sri Aryeswara menjadikan lambang Ganesha sebagai simbol kerajaan.

  1. Raja Sri Ganda

Prasasti Jaring dari tahun 1181 M menunjukkan bahwa Raja Sri Ganda meimipin pada sekitar tahun tersebut. Prasarti itu Jaring juga memuat kebiasaan raja menggunakan nama hewan sebagai nama pejabat di Kediri kala itu.

  1. Raja Sri Kameswara

Raja Sri Kameswara memimpin Kediri pada tahun 1182-1185. Sepanjang masa pemerintahannya, seni sastra berkembang cukup pesat. Penyair pada masa ini di antaranya seperti Empu Dharmaja yang mengarang Samaradha. Peninggalan sejarahnya adalah Candi Ceker tahun 1182 M.

  1. Raja Sri Kertajaya

Raja ini merupakan raja terakhir dalam sejarah kerajaan Kediri.

Ia memimpin pada tahun 1190-1222 M.

Pada masa kepemimpinan Raja Sri Kertajaya, stabilitas kerajaan menurun karena ia mengurangi hak-hak Brahmana.

Kedudukan Brahmana yang tidak aman mendorong mereka untuk lari ke Tumapel dan meminta perlinungan Ken Arok.

Dari sinilah kekalahan Sri Kertajaya dan runtuhnya kerajaan Kediri berakar.

Lencana Kerajaan Kediri

corak kerajaan kediri
Sumber: gramho.com

Adalah hal yang lazim pada saat itu apabila setiap raja atau kerajaan memiliki lencana yang melambangkan kekuasaan sang raja.

Masing-masing lencana terdiri atas bentuk tertentu sebagai representasi dari diri sang empunya.

Dalam sejarah kerajaan Kediri, tercatat ada tujuh Lencana yang pernah dipakai oleh penguasa kerajaan tersebut, yang saat ini disimpan di Museum Airlangga dan beberapa tempat lain.

Tujuh lencana itu adalah:

Garudha Mukha Lancana adalah lencana yang dipakai oleh Sri Maharaja Airlangga.

Lencana bergambar garuda ini dapat ditemukan pada prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Airlangga.

Lencana kedua adalah Bamecwaralancana, adalah lancana berupa gambar tengkorak yang menggigit bulan sabit.

Lencana ini digunakan oleh Bameswara, raja kedua Kediri setelah Sri Jayawarsa.

Ketiga, Jayabhayalancana, yakni lencana yang dipakai oleh Raja Jayabaya.

Wujud lencana ini berupa manusia dengan kepala singa tengah menggigit perut Hiranyakasipu (Raja Raksasa), ini merupakan tanda Narasinghavatara, satu avatara Dewa Wisnu.

Lencana ini dapat dilihat dalam prasasti Hantang (1135 M).

Lencana ke empat adalah Sarwwecwaralancana. Raja Sarweswara memakai lencana ini untuk menandai prasastinya.

Sayang, lencana ini tidak dapat dipastikan bentuknya, karena lencana yang ada pada prasasti telah rusak dan sulit untuk dikenali.

Apabila diperhatikan, lencana itu seperti Sembilan sayan yang ujungnya terdapat lingkaran berjambul.

Sayap-sayap itu dikelilingi tiga bulatan bergaris.

Kelima adalah Aryyecwaralancana adalah lencana bergambar Ganesha yang digunakan oleh Raja Aryeswara.

Lencana ini dapat ditemukan pada prasasti yang beliau keluarkan: prasasti Mleri (1169 M) dan prasasti Angin (1171 M).

Lencana yang ke enam adalah Kamecwaralancana. Lencana ini digunakan oleh Raja Kameswara dalam prasasti yang dikeluarkannya.

Misalnya dalam prasasti Semanding (1182 M) dari desa Bangle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.

Terakhir adalah Crnggalancana, lencana yang dipakai oleh raja Kertajaya.

Pada periode awal pemerintahannya, lencana Raja Kertajaya bergambar dua cangka yang diapit dua tanduk dan bersambung dengan tulisan Krtajaya di atasnya.

Tetapi, pola lencana berubah di prasasti berikutnya menjadi benda kotak miring berlipat yang dihimpit oleh tanduk dan dikelilingi sayap. Karena inilah dinamakan Crnggalancana (lencana bertanduk).

Kehidupan politik pada masa kerajaan Kediri berdiri relatif aman dan stabil setelah kepemimpinan Raja Bameswara pada tahun 1116.

Pergantian kekuasaan berjalan dengan lancar tanpa melibatkan perang saudara.

Kehidupan raja dan rakyatnya sangat tentram.

Sedangkan selama kurang lebih enam puluh tahun sebelumnya kehidupan politik Kediri dan Jenggala menjadi tidak jelas akibat pertempuran yang terjadi terus menerus.

Akan tetapi, stabilitas politik yang terjaga selama sekian tahun itu pecah pada masa era kepemimpinan Raja Kertajaya.

Selisih paham dan pembatasan yang dilakukan oleh Kertajaya pada kelompok Brahmana memicu pemberontakan dari kalangan tersebut dengan melibatkan Ken Arok, penguasa Tumapel.

Akibatnya, kerajaan Kediri jatuh dan menjadi bagian dari kekuasaan Tumapel.

Kejadian ini sekaligus menutup Dinasti Isana yang didirikan oleh Empu Sindok.

Sistem Pemerintahan Kediri

Sebagai pemerintahan yang menganut sistem monarkhi, pemerintahan Kediri beberapa kali berganti pemangku kekuasaan.

Adapun raja-raja yang pernah memimpin Kediri antara lain:

  1. Jayawarsa, raja pertama yang menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
  2. Kameshwara, raja yang mengubah wajah Dahana atau Daha lebih baik, sampai-sampai Mpu Samaradana mengubah kitab Samaradana dan menyanjung-nyanjung sang raja.
  3. Jayabaya, raja ketiga ini selain masyhur karena kehebatannya mengelola Kediri, ia juga di kenal dengan ramalan-ramalan yang dihimpun dalam kitab Jongko Joyoboyo.
  4. Sarwaswera, raja yang menjunjung tinggi budaya dan spiritualitas. Ia sangat berpegang teguh pada prinsip-prinsip keilahiahan dengan tujuan hidup
  5. Kroncharyadipa, raja yang dikenal taat beragama, bijaksana dan sangat mencintai rakyatnya. Ia juga orang yang sangat berpegang teguh pada prinsip.
  6. Kertajaya, adalah raja yang bekerja keras dan memegang prinsip kesucian. Namun sayangnya ia dikalahkan oleh Ken Arok dari Tumapel.

Kitab Perundang-undangan Kediri

Kitab perundang-undangan di kerajaan Kediri disusun oleh sekelompok ahli hukum yang ditunjuk oleh kerajaan lalu tergabung dalam Dewan Kapujanggan Istana.

Dalam proses penyusunan undang-undangnya, anggota Dewan Kapujanggan Istana sering melakukan studi banding dengan penyusunan konstitusi di negeri lain.

Produk hukum yang dihasilkan adalah kitab Darmapraja.

Sebuah kitab yang berisi Tata Tertib Penyelenggaraan Pemerintahan dan Kenegaraann.

Terkait dengan pengadilan, raja senantiasa berpegang teguh terhadap pedoman yang telah ada dalam kitab tersebut.

Di dalam pasal kitab Darmapraja, apabila memuat kata “agama”, maka ia merujuk pada undang-undang dan kitab perundang-undangan.

Ini terutama adalah kitab hukum pidana, meski di samping itu tetap mencakup juga terhadap hukum perdata.

Pada zaman ini, belum ada perincian yang jelas antara hukum perdata dan hukum pidana.

Dari pada mengelompokkan kepada salah satu, produk kitab hukum yang ada pada zaman Kediri merupakan campuran dan hukum pidana dan perdata.

Sistem Peradilan Kediri

Dalam mukaddimah Darmapraja, dituliskan: Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menerapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah trap.

Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindaan. Itulan kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya.

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa sistem peradilan dan perundang-undangan yang disusun oleh Kediri bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan pemerintahan tetap berada di jalan yang tepat.

Selain itu juga berkeinginan untuk mencapai kesejahteraan dan ketenteraman rakyat.

Dalam hal ini, dua Adidarma Dyaksa bertugas membantu raja.

Pertama adalah Adidarma Dyaksa Kasiwan, dan kedua adalah Adidarma Dyaksa  Kabudan.

Artinya kepala Siwa dan kepala Budha.

Kepala agama Siwa dan kepala agama Buddha yang biasanya disebut Sang Maharsi dipilih untuk membantu raja karena dua agama tersebut merupakan agama yang dianut oleh mayoritas keluarga istana dan masyarakat kerajaan Kediri.

Selain itu pula faktor agama menjadi landasan setiap perundang-undangan Kerajaan Kediri yang dibuat dan diberlakukan.

Jika diselaraskan dengan saat ini, posisi dari Adidarma Dyaksa setara dengan posisi Hakim Tinggi yang memiliki hak tertinggi untuk memutuskan perkara.

Segala keputusan yang telah diputuskan melalui pengadilan, hasilnya diumumkan atas nama raja atau Sang Amawabhumi.

Artinya adalah orang yang punya kuasa penuh atas suatu Negara atau kerajaan.

Adidarma Dyaksa dibantu lagi oleh lima orang Upapati, pembantu yang khusus membantu pelaksanaan peradilan oleh Adidarma Dyaksa.

Karena agama resmi dan mayoritas di kerajaan Kediri adalah Siwa, maka kelimat Upati semuanya merupaka seorang pemanut agama Siwa.

Adidarma Dyaksa dan Upapati sama-sama mendapat julukan Maharsi.

Awalnya hanya terdiri dari lima orang, kemudian berkembang menjadi tujuh: lima upapati Siwa, dan dua upapati Budha.

Jumlah perbandingan tersebut sesuai dengan jumlah pemeluk agama Siwa yang lebih banyak dari pada penganut agama Budha.

Adapun lembaga peradilan yang ada bertanggungjawab kepada raja secara langsung, terkecuali persoalan yang menyangkut raja dan keluarganya, maka yang digunakan adalah peradilan khusus guna menghindari intervensi.

Perundang-undangan ini  tentu tidak hanya berlaku terhadap rakyat, namun antara pejabat istana pun turut andil menjalankannya.

Mereka semua menghormati hukum dan darma yang telah dicanangkan agar kepentingan bersama bisa tercapai dengan sempurna.

Ketika kerajaan dipimpin oleh Raja Prabu Jayabaya di wilayah Mamenang, Ia dihadapkan dengan Dyaksa, Upapati, dan para Panji yang ahli dalam perundang-undangan.

Dalam hal ini mengisyaratkan bahwa para Panji bertugas membantu para Upapati di bidang pengadilan yang berada di daerah-daerah.

Jabatan Panji terus terkenal hingga tahun 1940.

Bahkan dalam kesultanan Yogyakarta para panji mendapat tugas pengadilan yang tidak jauh berbeda dengan tugas panji di era kerajaan Kediri.

Lembaga peradilan yang dimiliki kerajaan bertugas dan bertanggung jawab kepada seluruh raja secara langsung.

Akan tetapi apabila terjadi masalah sekelas sengketa di antara keluarga kerajaan, maka raja tidak menggunakan lembaga peradilan yang dimaksud.

Melainkan ada peradilan khusus yang menangani sengketa tersebut.

Staf-staf yang ada di dalamnya adalah orang pilihan yang professional. Kredibilitas dan integritasnya sudah teruji dan diakui tanpa keraguan.

Hukum Positif dan Budaya Simbolik

cerita kerajaan kediri secara singkatPrinsip pelaksanaan kenegaraan pada kepemimpinan Jayabaya terbagi menjadi dua, yakni dengan penerapan hukum positif dan budaya simbolik.

Hukum positif, sebagaimana yang telah dibahas pada sub-bab sebelumnya, berlaku berdasarkan kesepakatan bersama, tertulis dan sifatnya mikro.

Dalam bidang ekonomi, politik, karier, birokrasi, organisasi, bahkan pada perihal perkawinan juga diperhatikan di dalam hukum positif yang tertulis secara jelas.

Hal-hal rinci seperti aktivitas jual beli diatur dan pelanggarannya diberikan sangsi oleh penegak hukum yang berlaku.

Namun, Raja Jayabaya tidak memandang hal itu sebagai sesuatu yang sudah cukup.

Berangkat dari kesadaran bahwa tidak semua pihak dapat memahami hukum positif dengan baik, terutama di kalangan masyarakat awam, raja Kediri memanfaatkan pendekatan simbolik.

Ia memerintahkan para pujangga untuk menulis sebuah karya cipta memuat nasihat-nasihat berbau mistis agar masyarakat patuh pada norma susila.

Hanya saja, pada hal-hal yang diatur oleh budaya simbolik ini, pelanggarannya diberi sangsi secara ghaib spiritual.

Hasilnya, masyarakat percaya akan nasihat-nasihat tersebut dan mejauhi larangannya.

Berbagai nasihat tersebut diperintahkan oleh raja kepada para pujangga yang memang kompeten dalam menulis syair.

Di antara penulis itu adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh yang menulis kitab spiritual untuk keberlangsungan budaya simbolik di Kediri.

Pujangga yang telah diberikan tugas untuk menulis kitab spiritual itu di antaranya: Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Buku lain yang sedang ditulis oleh Empu Sedah adalah Kakawin Baratayudha pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi.

Sayang sekali ia menghembuskan nafas terakhir sebelum karyanya rampung.

Setelah itu Kakawin Baratayudha dipersembahkan untuk raja Prabu Jayabaya, Mapanji Jayabaya, dan Jayabaya Laksana sebagai bentuk rasa hormat dan kenang-kenangan darinya.

Dibuatnya nasehat-nasehat simbolik pada masa itu sesungguhnya adalah sebuah strategi untuk mengimbangi ketimpngan yang terjadi pada masyarakat Kediri.

Hal itu dikarenakan tingkat kecerdasan mereka yang berbeda-beda, maka kemampuan untuk menyerap hukum positif pun tidak lah sama.

Masih banyak yang tidak bisa memahami hukum positif dari para pejabat kerajaan.

Dengan menyadari kondisi tersebut, raja Jayabaya tidak membiarkannya berlarut-larut.

Maka terciptalah pendekatan simbolik dan berhasil memberikan pemahaman kepada masyarakat secara menyeluruh.

Mereka pun mematuhi peraturan yang ada dengan lebih antusias.

Prabu jayabaya adalah raja kerajaan Kediri yang terkenal dengan kebijaksanaanya.

Sifat wibawa yang dimilikinya berhasil menjadikan kondisi sosial ekonomi rakyat Kediri aman dan sejahtera.

Dengan itu pula masa keemasan kerajaan Kediri berlangsung di bawah kepemimpinannya.

Keberhasilan tersebut mencapai cita-cita Negara yang Gedhe Obore, Padhang Jagadhe, Dhuwur Kukuse, Adoh Kuncarane, Ampuh Kawibawane atas kerja keras Jayabaya yang totalitas.

Sistem tata Negara pun ia jalankan dengan kesungguhan yang mengagumkan.

Masyarakat Kerajaan Kediri sangat bersyukur atas itu semua.

Mereka bisa menikmati kehidupan bernegara yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Artinya, Negara tersebut dipenuhi kekayaan alam yang berlimpah serta kehidupan yang aman dan sejahtera.

Konsep andalan Prabu jayabaya yang diaplikasikan pada masa itu adalah konsep Saptawa, yakni: Wastra (sandang), Wareg (pangan), Wisma (papan), Wasis (pendidikan), Waras (kesehatan), Waskita (keruhanian), dan Wicaksana (kebijaksanaan).

Prabu jayabaya dipercaya oleh masyarakat sebagai pemimpin yang adil dan menjunjung tinggi tata hukum yang ada.

Mereka memberikan dukungan penuh terhadap sistem pemerintahan Prabu jayabaya.

Segala kearifan lokal yang turun-temurun dari para leluhur menjadi fondasi yang kuat sebagai refleksi dan referensi untuk membawa Negara pada kondisi yang lebih baik.

Kejayaan yang diraih Kediri di masa kepemimpinannya juga didukung oleh faktor perundang-undangan yang disusun secara mengikat dengan bahan pertimbangan yang tidak abal-abal.

Kepentingan bersama adalah poin utama dari tujuan perundang-undangan tersebut.

Masyarakat menjadi yakin untuk menjalankan peraturan yang telah dibuat sehingga terciptalah perdamaian di seantero wilayah kerajaan Kediri.

Hal tersebut juga diperkuat dengan kesetiaan aparat kerajaan yang bekerja sesuai amanat konstitusi.

Tentu jika hal ini juga bisa diterapkan di masa sekaang dengan konsisten dan komitme yang kuat, maka masa kejayaan akan dirasakan seluruh rakyat Indonesia berkali-kali lipat melebihi kemakmuran masa kerajaan Kediri.

Karya di Bidang Hukum Tata Negara

Pada masa keemasannya, kerajaan Kediri berhasil meraih kejayaan terutama dibidang social dan kenegaraan.

Kakawih Baratayudha, Gatutkacasraya, dan Hariwangsa adalah kitab-kitab yang didalamnya terdapat hal terkait tata negara.

Perundang-undangan sendiri cukup banyak, salah satunya adalah Kitab Darmapraja; berisi tentang tata tertib penyelenggaraan pemerintahan dan kenegaraan.

Karya yang cukup terkenal dibidang Hukum Tata Negara adalah karya Empu Triguna pada masa pemerintahan Raja Warsajaya, Kakawih Kresnayana.

Karya ini berisi tentang ilmu hukum dan pemerintahan.

Ada pula Empu Manoguna yang menulis Kakawih Sumanasantaka bersumber dari Kitab Raguwangsa karya Sang Kalisada, seorang pujangga masyhur dari India.

Empu Dharmaja juga menulis karya hukum tata praja dengan judul Kakawih Smaradahana dan Kakawih Bomakawya.

Peraturan dan perundangan yang cukup terkenal di Kediri diantaranta berubungan dengan delapan kejahatan, hak dan kewajiban rakyat biasa, delapan penyimpangan kenegaraan yang bersifat adiminstratif, perdagangan dan pegadaian.

Pada masa kepemimpinan Prabu Jayawarsa, pengembangan ilmu hukum dan tata praja didukung penuh dengan menjadikan dirinya sebagai patron bagi para pujangga.

Cendekiawan pun dibiayai dan diberi fasilitas yang memadai guna mengekspresikan idealisme mereka yang berpengaruh terhadap keberlangsungan kerajaan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, ada seorang pujangga bernama Empu Triguna yang melahirkan karya hukum dan tata praja.

Karya tersebut adalah Kakawin kresnayana yang isinya tentang bidang hukum dan amat luar biasa.

Rekan pujangganya yang bernama Empu manoguna juga memberikan pengaruh besar dalam menciptakan tata hukum dan pemerintahan melalui karya-karyanya.

Keduanya bekerja sama bertahun-tahun mendampingi raja.

Mereka bukan hanya para pujangga yang menulis tata Negara, akan tetapi mereka juga lah yang menjadi penasehat utama raja Prabu Jayawarsa.

Perihal karya Empu Manoguna, ia menciptakan karya tulis hukum dan tata praja berjudul kakawin sumanasantaka.

Referensi yang ia gunakan adalah Kitab Raguwangsa yang merupakan karya penyair sohor dari India bernama Sang Kalisada.

Sebab itu pula kerajaan Kediri mendapat banyak pengaruh kebudayaan Hindu Budha dari India.

Tampak dalam ungkapan-unkapannya yang berbahasa Sansekerta yang mendukung kondisi demikian.

Sumanasantaka iitu sendiri terdiri dari duakata yaitu sumanasa yang berarti kembang, lalu kata antaka yang memiliki makna mati.

Jadi arti dari gabungan dua kata tersebut adalah kematian yang disebakan kembang.

Salah satu kandungan dari kitab ini menceritakan perihal seorang raja yang bijaksana dalam memimpin rakyat-rakyatnya.

Ada juga penyair ulung bernama Empu Dharmaja yang ikut andil menyumbangkan idenya melalui karya hukum dan tata praja berjudul Kakawin Smaradahana dan Kakawin Bomakawya.

Dalam kitab Kakawin Smaradahana dijelaskan perihal Batara Kamajaya yang agung.

Lalu terdapat instruksi menarik dalam hal kepemimpinan berlandaskan keadilan dan perdamaian dalam Kakawin Bomakawya.

Selain kitab-kitab yang telah dijelaskan di atas, masih ada banyak karya lain dari para cendekiawan tentang hukum dan tata pemerintahan yang menyokong kejayaan kerajaan Kediri.

Hal tersebut tidak lain terjadi di masa pemerintahan Prabu Jayabaya.

Karya-karya tersebut lantas tidak hanya menjadi hiasan belaka, namun berlandaskan kitab para pujangga pemerintahan Kediri dijalankan.

Upaya yang dilakukan oleh Prabu Jayabaya dalam menfasilitasi para cendekiawan dan para pujangga pada masa kekuasaanya tidak sia-sia dan berbuah manis.

Aspek Kehidupan Kerajaan Kediri dalam Berbagai Bidang

Kitab Chi Fan Chi dan Ling Wai Tai Ta menyebutkan bahwa masyarakat kerajaan Kediri bermatapencaharian dengan cara berdagang, bertani dan beternak.

Kediri dikenal sebagai penghasil kapas, beras dan ulat sutra.

Hal ini memberikan dampak yang baik kepada masyarakat.

Kehidupan masyarakat makmur dan roda perekonomian bergerak dengan lancar.

Kerajaan juga memberikan upah tetap kepada para pegawai berupa hasil tani.

Dari segi agama dan spiritual, dapat dilihat bahwa kerajaan Kediri sangat kuat dengan pengaruh Hindu.

Peninggalan-peninggalan arkeologi, Candi Gurah dan Candi Tondowongso misalnya, lekat dengan corak Hindu, terutama Siwa.

Unsur Budhisme tidak ditemukan pula dalam Petirtaan Kepung, sehingga kemungkinan besar situs tersebut juga memiliki sifat Hindu.

Menurut beberapa prasasti, nama Abhiseka yang biasanya dimiliki oleh para raja mengandung arti penjelmaan dari Wisnu.

Akan tetapi hal ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai bukti dari perkembangan Wisnuisme pada masa itu.

Di lihat secara keseluruhan, Hinduisme, terutama Siwa, memberikan pengaruh yang sangat besar kepada kerajaan Kediri.

Secara sosial dan budaya, masyarakat kerajaan Kediri memiliki pola hidup yang terstruktur dan teratur.

Pakaian yang dikenakan masyarakat kala itu sudah berupa kain dan dipakai menutupi hingga bawah lutut.

Ketika menikah, pihak perempuan menerima mas kawin berupa emas dari pihak laki-laki.

Kepercayaan terhadap dewa-dewa juga mengakar kuat di kalangan masyarakat, sehingga mereka yang sakit memohon kesembuhannya dengan berdoa kepada para dewa.

Adanya Lubdaka yang merupakan catatan tentang kehidupan sosial budaya masyarakat, menunjukkan perhatian raja yang tinggi terhadap kehidupan rakyatnya.

Pada konstruk masyarakat kerajaan Kediri, derajat seseorang tidak diukur berdasarkan harta kekayaan yang ia miliki.

Masyarakat kala itu lebih menghargai moral dan tingkah laku yang baik sebagai tolok ukur derajat manusia. Sebagai hasil baik, masyarakat dapat beraktivitas dengan bebas.

Sastra berkembang dengan sangat pesat pada zaman Kediri.

Banyak sekali karya sastra yang dihasilkan oleh para pujangga kala itu.

Empu Sedah pernah diperintahkan oleh Raja Jayabaya untuk mengubah Baratayudha ke dalam versi bahasa Jawa Kuno.

Karena pekerjaan itu tidak selesai, kemudian dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Selain dalam bentuk kitab, karya sastra dari era Kediri ini juga dapat dijumpai pada di relief candi.

Terjadi perubahan dalam seni arsitektur di kalangan masyarakat kerajaan Kediri.

Dahulu, banyak sekali pertanyaan tentang mengapa kerajaan Kediri tidak membangun Candi sebagaimana kerajaan sebelum dan sesudahnya.

Akan tetapi, lama sekali hingga dapat dibuktikan bahwa gurah yang masih tersisa memiliki pelipit sisi genta di kaki candi Perwara, sementara pada candi induk memiliki makara di bagian ujung bawah tangga dan beberapa ciri tersebut memperlihatkan gaya kesenian Jawa Tengah di abad ke VII – X Masehi.

Kehidupan Politik Kerajaan Kediri

Keberlangsungan perpolitikan di kerajaan Kediri tidak jauh berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain yang memunculkan tragedy peperangan serta perebutan kekuasaan bahkan antar saudara.

Salah satu raja Kediri yang tidak lama masa jabatannya adalah Mapanji Garasakan.

Ia tidak sekuat raja-raja yang lain sehingga tidak bisa memerintah dalam masa yang panjang.

Kedudukannya digantikan oleh Raja Mapanji Alanjung selama 7 tahun dari tahun 1052-1059 Masehi.

Setelah itu raja yang meneruskan kepemimpinannya adalah Sri Maharaja Samarotsaha.

Terjadi pertempuran sepanjang 60 tahun antara kerajaan Panjalu (Kediri) dan Kerajaan Jenggala.

Perang yang tidak berkesudahan itu memunculkan efek terhadap informasi yang tidak jelas tentang keduanya.

Peperangan itu terus berlanjut hingga muncullah raja bernama Bameswara dari Kediri.

Perpindahan ibu kota kerajaan Panjalu dari Daha ke Kediri membuat kerajaan ini lebih terkenal dengan nama Kerajaan Kediri.

Selama masa kekuasaan raja Bameswara, lencana yang digunakan adalah bentuk serupa tengkorak dengan taring yang dimilikinya berada di atas bulan sabit.

Lencana itu terkenal dengan sebutan Candrakapala.

Setelah masa jabatan Bameswara berakhir, sosok yang menduduki takhta kerajaan adalah Prabu Jayabaya yang pada akhirnya mampu menaklukkan Kerajaan Jenggala.

Sebuah pencapaian yang luar biasa setelah puluhan tahun mengalami masa sulit karena peperangan yang tidak henti-henti.

Kondisi kerajaan berangsur membaik di bawah kendalinya bahkan mengalami masa keemasan yang mendatangkan banyak kebaikan untuk seluruh rakyatnya.

Jauh sebelum terkenal dengan sebutan Kerajaan Kediri, kerajaan ini merupakan hasil perpecahan dari kerajaan Medang Kamulan yang dipecah menjadi dua kerajaan oleh raja Airlangga.

Berikut ini asal muasalnya:

Airlangga diresmikan menjadi raja Medang Kamulan pada tahun 1019.

Segala upaya ia kerahkan untuk memulihkan keperkasaan Medang Kamulan yang mengalami penurunan.

Keperkasaan dan kewibaan Medang Kamulan ternyata berhasil dikembalikannya dengan berbagai cara yang tidak sembarangan.

Lalu setelah keberhasilannya tersebut, Airlangga memindahkan ibu kota Medang Kamulan ke wilayah Kahuripan dan mencapai masa kejayaan.

Raja Airlangga tidak benar-benar menyelesaikan masa jabatannya hingga usai.

Ia memilih untuk mengundurkan diri sebelum pemerintahannya berakhir guna menjadi pertapa yang mana setelah itu ia dikenal dengan julukan Resi Gentayu.

Pada tahun 1049 Masehi, ia wafat selagi menjadi pertapa.

Penerus berikutnya setelah Raja Airlangga seharusnya adalah Sri Sanggramawijaya yang merupakan puteri dari kerajaan Medang Kamulan.

Akan tetapi puteri menolak untuk menduduki takhta kerajaan karena dia ingin menjadi pertapa dan pergi dari istana.

Hal itu menyebabkan beralihnya takhta kepada putra raja yang lahir dari seorang selir.

Demi terhindarnya pertikaian dan peperangan sengit, Airlangga bertindak cepat dengan cara memecah kerajaan Medang Kamualan menjadi dua bagian.

Satu bagian bernama kerajaan Jenggala yang beribu kota Kahuripan, sedang bagian satunya bernama kerajaan Panjalu yang dengan ibukota Daha yang akhirnya lebih sohor dengan nama Kediri.

Strategi tersebut ternyata malah menyulut pertikaian yang lebih sengit dari apa yang dibayangkannya.

Peperangan demi peperangan terus berlanjut hingga puluhan tahun sebagaimana telah diceritakan di atas.

Peperangan tersebut berakhir setelah raja Jayabaya memimpin Kediri  dan berhasil menaklukkan Jenggala kemudian dipersatukan kembali di bawah kepemimpinannya yang penuh kejayaan.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kediri

Prestasi yang ditorehkan oleh raja Jayabaya selama memimpin kerajaan Kediri memang tidak diragukan.

Masa kejayaan tersebut tidak terelakkan melihat dari bagaimana strategi yang dijalankannya untuk berbagai bidang, termasuk dalam hal ekonomi.

Kerajaan Kediri berpusat di wilayah Dahanapura, tepatnya di bawah kaki Gunung Kelud.

Kawasan di sana memiliki tanah yang amat subur dan tentu sangat cocok untuk lahan pertanian.

Kondisi tersebut tidak disia-siakan oleh masyarakat Kediri untuk mendapatkan hasil rempah-rempah yang melipah.

Hasil bumi tersebut ternyata tidak hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri.

Mereka bisa melakukan ekspor ke luar wilayah Kediri yakni ke kota Jenggala menggunakan perahu sebab lewat jalur sungai.

Dengan pemberian hasil pertanian dan perkenbunan yang melimpah ruah itu, masyarakat tidak kekurangan akan makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Ditambah lagi dengan adanya aliran sungai Brantas yang mengandung air jernih.

Banyak sekali ikan tawar yang hidup di sana sehingga kebutuhan masyarakat akan protein bisa terpenuhi dengan mudah.

Tak heran jika kerajaan Kediri dijuluki dengan Negara Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Karta Raharja.

Kondisi perekonomian Kediri juga disokong dengan peternakan dan perdagangan.

Banyak sekali daerah yang menghasilkan beras, kapas serta kain sutra yang diperoleh dari pemeliharaan ulat sutra.

Kemakmuran semakin pas untuk menyebut kondisi perekonomian mereka.

Kemakmuran tersebut kian menguat sebagaimana dalam kitab Chi-Fan-Chi dan Kitab Ling-wai-tai.

Terdapat keterangan bahwasanya pegawai kerajaan mendapatkan gaji tetap dari pihak kerajaan.

Itu adalah program penting yang dilakukan oleh pemerintah meskipun gaji tetap yang didapat berupa hasil pertanian.

Penghasilan kerajaan diperoleh dari pajak yang diberlakukan untuk seluruh wilayah kerajaan.

Saat itu komoditas dagang dari Kediri terdairi dari perak, daging, beras, dan kayu cendana.

Sedangkan pajak yang dibebankan pada rakyat dibayar dalam bentuk beras, kayu, dan palawija.

Kehidupan Agama dan Spiritual Kerajaan Kediri

kerajaan kediri berdiri pada
Sumber: britannica.com

Tidak hanya di bidang ekonomi, bidang spiritual kerajaan Kediri juga tidak kalah majunya.

Agama yang tersebar dan dianut oleh kerajaan Kediri yakni agama Hindu aliran Waisnawa yang mempercayai Airlangga sebagai titisan Dewa Wisnu.

Terdapat banyak sekali tempat ibadah pada saat itu sehingga masyarakat mudah sekali dalam melakukan ritual keagamaan.

Keberadaan guru kebatinan atau yang disebut Ulama dalam agama Islam sangat dijunjung tinggi dan diberikan posisi terhormat baik oleh masyarakat maupun dari pejabat kerajaan.

Beberapa sumber menerangkan bahwa sang Prabu Jayabaya sering melakukan semedi, tapa brata dan juga tirakat untuk meningkatkan spriritualitasnya.

Biasanya tempat ia bersemedi adalah kawasan yang tenang dan sepiseperti dalam hutan.

Puasa dari makan dan tidur dilakukannya selama masa tirakat.

Kegiatan ini bukan cuma dilakukannya dalam waktu tertentu, namun sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari.

Sebab itulah Jayabaya memiliki kemampuan sadurunge winarah ( tahu sebelum terjadi) serta bisa meramal tanda-tanda di masa mendatang.

Semua yang diucapkannya mengenai ramalan yang ia lihat, ternyata sangat relevan dengan apa yang terjadi di masa kini.

Di masa kepemimpinannya dari tahun 1130-1157 Masehi, dukungan spiritual terus diberikan baik dalam bentuk kebijakan maupun dalam bentuk materi.

Sikapnya yang dermawan dan bijaksana membuatnya disanjung dan sangat dihormati.

Bahkan kebijaksanaannya dalam aspek spiritual terlihat dari kebijakan yang ia buat.

Terdapat undang-undang khusus dalam bidang agama yang disusun secara adil dan penuh pertimbangan.

Adapun kitab hukum per Undang-undangan yang disusun sebagai berikut ini:

Bab I: Sama Beda Dana Denda, berisi mengenai ketentuan diplomasi, aliansi, konstribusi dan sanksi.

Bab II: Astadusta, berisi mengenai sanksi delapan kejahatan (penipuan, pemerasan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, pembalakan, penindasan dan pembunuhan)

Bab III: Kawula, berisi mengenai hak-hak dan kewajiban masyarakat sipil.

Bab IV: Astacorah, berisi mengenai delapan macam penyimpangan administrasi kenegaraan.

Bab V: Sahasa, berisi mengenai sistem pelaksanaan transaksi yang berkaitan pengadaan barang dan jasa.

Bab VI: Adol-atuku, berisi mengenai hukum perdagangan.

Bab VII: Gadai atau Sanda, berisi mengenai tata cara pengelolaan lembaga pegadaian.

Bab VIII: Utang-apihutang, berisi mengenai aturan pinjam-meminjam

Bab IX: Titipan, berisi mengenai sistem lumbung dan penyimpanan barang.

Bab X: Pasok Tukon, berisi mengenai hukum perhelatan.

Bab XI: Kawarangan, berisi mengenai hukum perkawinan.

Bab XII: Paradara, berisi mengenai hukum dan sanksi tindak asusila.

Bab XIII: Drewe kaliliran, berisi mengenai sistem pembagian warisan.

Bab XIV: Wakparusya, berisi mengenai sanksi penghinaan dan pencemaran nama baik.

Bab XV: Dendaparusya, berisi mengenai sanksi pelanggaran administrasi

Bab XVI: Kagelehan, berisi mengenai sanksi kelalaian yang menyebabkan kerugian publik.

Bab XVII: Atukaran, berisi mengenai sanksi karena menyebarkan permusuhan.

Bab XVIII: Bumi, berisi mengenai tata cara pungutan pajak

Bab XX: Dwilatek, berisi mengenai sanksi karena melakukan kebohongan publik.

Kehidupan Sosial Dan Budaya 

Apabila membahas mengenai aspek kehidupan sosial budaya kerajaan Kediri, maka bisa dikata aspek ini sudah sangat teratur dijalankan oleh masyarakat Kediri.

Tampak dari keseharian mereka yang memiliki hunian bersih nan rapi, mengenakan kain selutut serta berambut terurai.

Tampak pula dari bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain yang sudah sangat komunikatif dengan bahasa keseharian.

Perihal perkawinan, mereka menerapkan adanya mahar untuk kaum perempuan yang hendak dinikahi dalam bentuk emas.

Dan apabila ada yang sakit di antara mereka, permohonan kesembuhan dipanjatan kepada Dewa dan Buddha.

Pada masa itu seluruh rakyat mendapatkan perhatian yang amat dalam dari sang Raja.

Dijelaskan mengenai  hal ini dalam kitab Lubdaka yang memuat kisah kehidupan rakyat Kediri yang makmur dengan perlindungan dari raja.

Terlebih lagi kedudukan seseorang di masa itu tidak dipandang atas dasar kekayaan maupun pangkat yang dimilikinya.

Derajat seseorang bergantung pada adab dan kepribadiannya.

Mereka juga dibebaskan untuk melakukan aktivitas apapun yang mereka suka selama tidak menyimpang dari peraturan serta norma-norma kerajaan.

Sisi istimewa dari aspek kehidupan sosial budaya Kerajaan Kediri terletak pada karya sastra mereka yang berkembang dengan sangat pesat.

Jumlah karya sastra yang dihasilkan tak terhitung jumlahnya dengan berbagai topik yang diangkat.

Menariknya lagi, di era kekuasaan Raja Jayabaya diutuslah sastrawan yang berkompeten bernama Empu Sedah.

Ia diberikan mandate untuk menerjemahkan Kitab Bharatayuda ke dalam bahasa Jawa Kuno.

Sayangnya proses penerjemahan tersebut tidak rampung di tangan Empu Sedah karena ia wafat terlebih dahulu.

Kemudian tugas yang diembannya diteruskan oleh Empu Panuluh agar Kitab Bharatayuda bisa diselesaikan.

Dalam Bharatayuda terdapat banyak sekali penyebutan nama raja Jayabaya.

Hal itu sebagai bentuk pujian dan sanjungan terhadap raja dari sang pujangga.

Selain Bharatayuda, Empu Panuluh juga menyusun Kitab Gatutkacasraya dan Hariwangsa.

Kebudayaan sasra terus berlanjut hingga di masa kepemimpinan raja Kameswara.

Lahir juga berbagai karya sastra saat itu, di antaranya adalah:

  1. Kitab Wertasancaya: memberikan informasi tentang tata cara bersyair yang tepat. Penulisnya adalah Empu Tan Akung.
  2. Kitab Smaradhahana: berisi pujian-pujian kepada baginda raja yang diyakini sebagai titisan Dewa Kama. Kitab ini merupakan sebuah kakawin yang disusun Empu Dharmaja dengan menarik. Terdapat cerita tentang Dahana di dalamnya yang merupakan nama ibu kota dari kerajaan Kediri.
  3. Kitab Lubdaka: berkisah tentang sosok pemburu bernama Lubdaka yang awalnya ditakdirkan masuk neraka. Namun dengan pemujaannya yang luar biasa, Lubdaka mendapat pertolongan dewa lalu rohnya dihantarkan ke surge. Penulisnya adalah Empu Tan Akung.

Karya sastra yang dihasilkan di masa kerajaan Kediri tidak hanya berupa syair-syair maupun cerita yang berbentuk kitab, namun juga tercipta karya sastra yang ditulis dalam relief di beberapa sisi candi.

Semisal candi Jago yang memiliki relief bertuliskan kisah tentang Kresnayana.

Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna yang menceritakan tokoh Kresna yang berkepribadian sangat nakal.

Kenakalan tersebut ternyata tidak membuatnya dibenci banyak orang.

Justru masyarakat di sekitarnya tetap mengasihinya karena Kresna memiliki kesaktian dan suka menolong.

Ia kemudian menikah dengan Dewi Rukmini di masa dewasanya.

Ada pula kitab Samanasantaka yang disusun oleh Empu Managuna. Isinya berupa kisah tentang bidadari Harini.

Ia mendapat kutukan dari Begawan Trenawindu yang membuat hidupnya menderita.

Masa Kejayaan Kediri

peninggalan kerajaan kediri candi
Sumber: youtube.com

Kerajaan Kediri mencapai kejayaannya di era kepemimpinan Jayabaya.

Daerah kekuasaannya meluas hingga hampir ke seluruh pulau Jawa.

Pengaruhnya bahkan tersebar hingga ke pulau Sumatera yang merupakan daerah kekuasaan Sriwijaya.

Di tangan Jayabaya, Kediri atau Panjalu akhirnya berhasil mengalahkan Jenggala.

Semboyan atau prinsip yang selalu digaungkan oleh Jayabaya yaitu “Panjalu Jayati” atau Menaglah Panjalu.

Momen kemenangan ini tertera dalam prasasti Ngatan (1135 M).

Bukti Peninggalan Kerajaan Kediri

Ada cukup banyak bukti untuk melihat kejayan kerajaan Kediri di masa lampau.

Ada 22 bukti yang sejauh ini berhasil ditemukan dan dipublikasikan.

Kedua puluh dua peninggalan itu berupa candi, arca, prasasti dan kitab. Kedua puluh dua peninggalan itu adalah:

  1. Candi Tondowongso
kerajaan kediri beragama
Sumber: pintasilmu.com

Situs ini terhitung sebagai penemuan baru, sebab keberadaannya baru diidentifikasi pada tahun 2007 di desa Gayam, Gurah, Kediri.

Candi dengan luas satu hektar ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke Sembilan.

Karena luasnya yang mencapai satu hektar itu, candi Tondowongso tercatat sebagai penemuan terbesar benda bersejarah kerajaan Indonesia dala 30 tahun terakhir.

Kemudian seorang professor pada tahun 1957 yang bernama Soekomo ternyata mendapatkan sebuat penemuan arca di lokasi yang sama dengan candi Tondowongso.

Sebelumnya para perajin batu bata lah yang menemukan tanda-tanda keberadaan beberapa arca tersebut.

Situs ini kemudian diyakini sebagai bukti keberadaan kerajaan Kediri di awal abad XI.

Saat itu adalah fase dipindahkannya pusat politik Kediri yang awalnya di wilayah Jawa Tengah kemudian beralih ke Jawa Timur.

Hal tersebut bias diketahui dari identifikasi tatanan serta bentuk dari arca. Sejauh ini kerajaan Kediri bisa diketahui dari karya-karya sastranya saja.

Belum banyak ditemukan peninggalan dalam bentuk lain seperti candi, gapura, arca, dan sejenisnya.

  1. Candi Panataran
kerajaan kediri berada di tepi sungai apa
Sumber: asamgaram.site

Candi yang disebut juga dengan nama Candi Palah ini terletak di Lereng Kelud, Blitar.

Dibangun pada sekitar abad 12-14, Candi Panataran dulunya difungsikan sebagai tempat melakukan pemujaan agar terhindar dari bahaya Erupsi Gunung Kelud.

  1. Candi Gurah
kerajaan kediri aspek sosial
Sumber: sejarahlengkap.com

Candi  Gurah berada di desa Gurah, Kediri, pertama kali ditemukan pada tahun 1957.

Jaraknya dengan Candi Tondowongso hanya dua kilometer.

Oleh karena itu, beberapa peneliti menduga Candi Gurah dan Candi Tondowongso berada dalam satu komplek.

  1. Candi Mirigambar
kerajaan kediri berjaya pada masa pemerintahan
Sumber: buildasign.com

Candi ini terletak di sebuah lapangan Desa Mirigambar, Sumbergompol.

Layaknya candi khas pulau Jawa, Candi Mirigambar terbuat dari batu bata merah yang diperkirakan berasal dari tahun 1214-1310 Saka.

  1. Candi Tuban
kerajaan kediri berdiri pada abad
Sumber: sejarahlengkap.com

Lokasi candi Tuban hanya berjarak 500 meter dari candi Mirigamar.

Sayangnya, candi Tuban sudah rusak dan tidak dapat dibangun kembali karena telah tertimbun tanah.

Waktu ditemukannya candi ini adalah tahun 1967 di mana itu adalah 2 tahun pasca terjadinya gelombang besar di Tulungagung tahun 1965.

Kemudian terjadi aksi penghancuran ikon-ikon kebudayaan yang dianggap sebagai benda berhala oleh warga setempat.

Aksi tersebut terkenal dengan sebutan ikonoklastik.

Ikon yang selamat adalah candi Mirigambar karena ada salah satu petinggi desa yang tidak menghendakinya untuk dihancurkan.

Selain itu pula kawasannya adalah kawasan angker.

Candi Tuban tidak seberuntung candi Mirigambar, candi Tuban masuk dalam list ikon yang dihancurkan.

Hanya tersisa bagian kakinya kemudian ditimbun dipendam tanpa sisa.

Di tempat terpendamnya situs ini, dibangun kandang hewan ternak seperti bebek, ayam dan kambing.

Namun jika ingin mengidentifikasinya, candi tuban masih bisa diamati dengan menggaliny hingga satu meter dari tanah.

Terdapat legenda dari candi Tuban yang mengisahkan tentang sosok lelaki bernama Aryo Damar.

Diceritakan dalam legenda Angling Dharma, apabila sosok ini dihancurkan, maka kemenangan adalah hal yang mutlak terjadi.

  1. Prasasti Kamulan

Prasasti ini berada di desa Kamulan, Trenggalek.

Prasasti Kamulan diciptakan pada tahun 1194 M atas perintah raja Kertajaya.

Prasasti ini bercerita tentang penyerangan kerajaan Timur ke Kediri, dengan menyebutkan tanggal 31 Agustus 1194.

  1. Prasasti Galunggung

Prasasti ini ditemukan di Rejotangan, Tulungagung. Prasasti berukuran 160x80x75 cm. Sayangnya, selain aksara Jawa Kuno, tidak banyak yang dapat digali dari prasasti ini karena kondisinya sudah rusak dan beberapa bagian tulisan yang ada tidak dapat terbaca karena sudah semakin lapuk termakan usia. Jumlah keseluruhan tulisan dalam prasasti ini adalah 20 baris yang masih bisa dilihat dan dibaca. Di bagian depan prasasti Galunggung, terlihat lingkaran yang mengisyaratkan sebuah lambang yang mana pada bagian tengahnya ada gambar persegi panjang dihiasi beberapa logo. Di sisi yang lain terdapat tulisan 1123 C.

  1. Prasasti Jaring
cerita kerajaan kediri
Sumber: travellersblitar.com

Prasasti ini dibuat pada 19 November 1181 berisi tentang pengabulan permohonan penduduk Dukuh Jaring yang tidak dikabulkan oleh raja sebelumnya.

  1. Prasasti Panumbangan

Maharaja Bameswara pada tahun 1120 menciptakan prasasti ini, tanggal yang terpahat pada prasasti ini adalah 2 Agustus 1120.

Prasasti berisi tentang pembebasan pajak bagi warga Panumbangan.

  1. Prasasti Talan

Prasasti ini ditemukan di Desa Gurit, Blitar dan diciptakan pada tahun 1136 Masehi.

Prasasti berisi tentang pembebasan pajak bagi warga Talan.

Mereka kemudian memohon kepada raja Jayabaya agar prasasti Talan dipindah ke atas batu dengan pemberian stempel kerajaan Narasingha.

Permohonan tersebut dikabulkan sebab kesetiaan mereka terhadap raja Jayabaya.

Selain itu juga raja memberikan beberapa hak istimewa.

Pahatan Garudhamukalancana juga ada pada prasasti ini.

Terletak di sisi atas prasasti di tubuh manusia yang berbentuk kepala menyerupai burung Garuda dan memiliki sayap.

  1. Prasasti Sirah Keting

Prasasti ini dibuat oleh Raja Jayawarsa untuk diberikan kepada rakyatnya sebagai pernghargaan atau tanda jasa pada kerajaan Kediri.

  1. Prasasti Kertosono

Berasal dari era kepemimimpinan Raja Kameshwara yang berisi problematika agama pada masa itu.

  1. Prasasti Nganthang
kerajaan kediri candi
Sumber: .gurupendidikan.co.id

Hampir sama dengan Prasasti Panumbangan dan Talan, prasasti ini berisi pembebasan tanah desa Nganthang dari pajak.

Hanya saja, isi dari prasasti ini disalin kembali ke media lontar atas permohonan rakyat.

  1. Prasasti Padelegan

Prasasti berbentuk stella ini berisi tentang kesetiaan rakyat Padelegan kepada sang raja, Kameshwara.

Saat ini, prasasti Padelegan disimpan di Museum Panataran, Blitar.

  1. Prasasti Ceker

Prasasti ini merupakan hadiah dari raja kepada rakyat Desa Ceker yang telah setia dan dianggap berjasa.

  1. Kitab Kakawin Baratayudha
kerajaan kediri bercorak hindu atau budha
Sumber: scroll.in

Merupakan karya dari Empu Sedah lalu dilanjutkan oleh Empu Papuluh yang bercerita tentang perjuangan Panjalu mengalahkan Jenggala hingga akhirnya berhasil di tangan Jayabaya.

Penceritaan dalam prasasti ini menggunakan perumpamaan dengan pertempuran Pandawa dan Kurawa.

  1. Kitab Kresnayana

Kitab ini ditulis oleh Mpu Triguna yang mengisahkan tentang anak berkekuatan besar namun berhati lembut bernama Kresna.

Dalam cerita, Kresna yang sangat baik hati menikahi Dewi Rukmini.

  1. Kitab Sumarasantaka

Kisah tentang Harini, bidadari yang diusir dari kahyangan karena melakukan dosa ini ditulis oleh Mpu Monaguna.

  1. Kitab Gatotkacaryasa

Kitab ini mengisahkan sisi heroik Arjuna ketika menyelamatkan putra Arjuan dengan Siti Sundhari, Abimayu.

  1. Kitab Smaradhana

Kitab ini ditulis oleh Empu Dharmaja tentang sepasang suami istri yang lenyap secara misterius setelah terkena api mata ketiga Dewa Syiwa.

  1. Arca Buddha Vajrasattva

Arca ini diperkirakan berasal dari abad 10 atau 11 yang kini dikoleksi oleh Museum fur Indische Kunst, Jerman.

  1. Kitab Hariwangsa

Kitab Hariwangsa juga bercerita tentang Kresna, sosok yang diceritakan oleh Kitab Kresnayana.

Akan tetapi, pada Kitab Hariwangsa, diceritakan bahwa Kresna menculik Dewi Rukmini tepat satu malam sebelum acara pernikahannya dengan Prabu Bismaka.

Inilah serangkaian sejarah kerajaan Kediri yang memiliki banyak cerita menarik.

Sudah dapat berapa banyak informasi baru nih mengenai kerajaan Kediri?

Semoga artikel ini bermanfaat!

Freelance content writer yang suka jalan-jalan, baik di jalan sungguhan atau di jalanan yang diceritakan penulis lain melalui buku-bukunya.

Tinggalkan komentar