Kerajaan Mataram

Dari Daerah Istimewa Yogyakarta, di situlah asal Kerajaan Mataram Kuno berdiri.

Bisa dibilang Kerajaan Mataram Kuno punya tempat yang indah karena dikelilingi pegunungan tinggi.

Sebut saja Gunung Tangkuban Perahu, Sindoro, dan Gunung Sumbing, tak hanya itu di sisi lain juga masih ada Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, dan Pegunungan Sewu.

Selain dikelilingi gunung, Kerajaan Mataram juga memiliki tanah yang subur karena banyak aliran sungai yang mengitari.

Mulai dari Sungai Elo, Sungai Bogowonto, Sungai Bengawan Solo dan Sungai Progo.

Namun, Kerajaan Mataram Kuno sering terkena bencana alam sehingga lokasinya selalu berpindah.

Kerajaan Mataram dikenal memiliki dua penyebutan yakni Mataram Kuno dan Mataram Islam.

Akan tetapi kedua kerajaan tersebut sangat berbeda karena berdirinya juga telah terpaut ratusan tahun.

Kebanyakn masyarakat Mataram Kuno beragama Hindu Syiwa, namun lambat laun berubah menjadi Budha Mahayana.

Sementara pusat pemerintahan Mataram Kuno sempat berada di Jawa Tengah dan kemudian pindah ke Jawa Timur dan dikenal sebagai Kerajaan Medang.

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu)

kerajaan mataram hindu
Image source: www.histori.id

Beradasarkan prasasti Mantyasih, Kerajaan Mataram Kuno berdiri sekitar tahun 907 Masehi dan Ratu Sanjaya merupakan penguasa pertama.

Walaupun bergelar ratu, Sanjaya merupakan seorang laki-laki sementara gelar tersebut merupakan istilah asli untuk menyebut seorang penguasa.

Sanjaya adalah putra dari Sannaha yang merupakan cucu dari Ratu Shima.

Sannaha memiliki saudara bernama Sanna. Sanna juga memimpin sebuah kerajaan, sayang kerajaan itu tak bisa berjaya dan malah hancur karena pemerintahannya yang kacau.

Melihat permasalahan itu, Ratu Sanjaya kemudian dimintai tolong untuk membereskan semua kekacauan tersebut.

Di tahun 733 Masehi, sebuah prasasti dikeluarkan untuk menandakan Ratu Sanjaya menjabat sebagai Raja.

Sanna juga telah menikahkan anaknya dengan Ratu Sanjaya sebelum kerajaan yang ia pimpin mulai carut marut.

Sanjaya berhasil mendirikan Mataram Kuno dan lebih dikenal sebagai Wangsa Sanjaya.

Selama berdiri, Mataram Kuno memiliki dua dinasti kepemimpinan yakni Wangsa Sanjaya atau Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.

  • Dinasti Sanjaya

Dinasti Sanjaya melalui Ratu Sanjaya merupakan raja pertama Mataram Kuno.

Jiwa kepemimpinan Ratu Sanjaya membuat dirinya diakui pantas menyandang gelar raja.

Kelayakan akan tahtanya juga ditunjukkan dari ketaatan Ratu Sanjaya memahami isi kitab yang telah ia anut.

Ia juga dikenal sebagai pemeluk agama Hindu Syiwa yang sangat patuh akan ajaran.

Seperti hanya pendahulunya, Ratu Sanjaya pun dihormati sebagai raja karena sikap bijak yang ia miliki.

Semua nilai-nilai keagamaan sangat dijunjung tinggi dan membuat Sanjaya ikut mendukung penyebaran agama Hindu di Nusantara.

Tak cukup sampai di situ, Sanjaya makin dihormati lantaran ia juga tak pernah menunggu Brahmana dan meminta membangun pura untuk dijadikan tempat peribadatan orang Hindu.

Saat ia menjabat, Kerajaan Mataram Kuno memiliki barang dagangan di bidang pertanian.

Banyak olahan bidang pertanian seperti padi yang menjadi komoditi dan dipasok untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat di luar dan dalam kerajaan.

Raja Sanjaya juga seorang yang memiliki jiwa nasionalis tinggi. Di bawah kepemimpinanya Kerajaan Mataram Kuno melejit jadi kerajaan dengan simbol Bhinneka Tunggal Ika sesuai Kitab Negarakertagama.

Ia juga ikut andil dalam menjembatani warga Mataram yang ingin memeluk agama selain Hindu yakni Budha.

Karena di zaman itu hanya dua agama besar yang berkembang.

Adapun raja yang sempat memerintah pada Dinasti Sanjaya berdasarkan prasasti Metyasih, yakni:

  • Rakai Sri Mataram berkuasa di tahun 732-760 M

Masa kepemimpinan wangsa Sanjaya merupakan masa pendirian candi-candi Shiwa di Gunung Dieng, Jawa Tengah.

Pada masa kekuasaanya Sri Rakai Mataram menduduki tahta pada pertengahan dan kemudian digantikan oleh putranya, Rakai Panangkaran.

  • Sri Maharaja Rakai Panangkaran berkuasa di tahun 760-780 M

Memiliki arti nama raja mulia, Rakai Panangkaran sukses mengembangkan potensi wilayah di bawah kepemimpinannya.

Pada masanya, Rakai Panangkaran telah dibangun sebuah candi. Candi tersebut diberi nama Candi Tara yang berada di sekitar Kalasan.

Di sana pula kamu bisa menemukan patung dari Dewi Tara.

Karena letakanya candi Tara malah terkenal dengan nama Candi Kalasan.

  • Sri Maharaja Rakai Panunggalan berkuasa di tahun 780-800 M

Berarti raja mulia yang peduli siklus waktu.

Rakai Panunggalan berjasa dalam penanggalan di kalender Jawa kuno. Dalam visi-misinya, ia selalu menjunjung tinggi pentingnya ilmu pengetahuan.

Hingga di akhir hayat, ia dikenal sebagai Catur Guru karena kepintarannya dalam ilmu pengetahuan.

  • Sri Maharaja Rakai Warak berkuasa di tahun 800-820 M

Sri Maharaja Rakai Warak merupakan berperan besar dalam dunia militer.

Dunia militer berkembang pesat pada masa kepemimpinanya. Banyak pasukan berhasil ia kendalikan.

  • Sri Maharaja Rakai Garung berkuasa di tahun 820-840 M

Artinya raja mulia yang tahan banting. Nama ini dinilai sangat cocok untuk Sri Maharaja Rakai Garung yang merupaka orang taat bekerja untuk rakyatnya.

Bahkan ia kerap kali bekerja dari pagi hingga malam hari demi kesejahteraan rakyatnya.

  • Sri Maharaja Rakai Pikatan berkuasa di tahun 840 – 856 M

Dinasti Sanjaya mengalami masa yang gemilang dan puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Rakai Pikatanlah.

Rakai Pikatan sukses mempertahankan kedaulatan kerajaanya saat pasukan Balaputra Dewa menyerang kekuasannya.

Pasukan Balaputra Dewa pun berhasil ditaklukkan dan dipukul mundur hingga ke Palembang.

  • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi berkuasa di tahun 856-882 M

Sri Maharaja Rakai Kayuwangi melanjutkan kepemimpinan sepeninggal Rakai Pikatan seperti telah ditulis dalam Prasasti Siwagraha dan diberi gelar Sang Prabu Dyah Lokapal.

  • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang berkuasa di tahun 882-899 M

Rakai Watuhumalang dikenal sebagai raja yang memiliki kemampuan mengelola uang dengan bijak.

Salah satu perinsipnya yang paling dikenal adalah Tri Parama Arta.

  • Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitong berkuasa di tahun 898-915 M

Masa kekuasaan Dyah Balitong juga merupakan masa kejayaan untuk Wangsa Sanjaya.

Saat itu sang raja menciptakan inovasi untuk mengembangkan kemajuan rakyatnya, Yakni dengan berkegiatan olah Cipta Karya.

  • Sri Maharaja Rakai Daksottama berkuasa di tahun 915 – 919 M

Selanjutnya ada Sri Maharaja Rakai Daksottama yang berkuasa selama 4 tahun menggantikan Dyah Balitong menjadi raja Mataram Hindu.

  • Sri Maharaja Dyah Tulodhong berkuasa di tahun 919 – 921 M

Dalam prasasti Poh Galuh, Dyah Tulodhong diminta untuk menggantikan Rakai Daksottama untuk memimpin masyarakat Kerajaan Mataram Kuno.

Di masa kekuasaan Dyah Tulodhong, kaun Brahmana sangat mendapat perhatian.

  • Sri Maharaja Dyah Wawa berkuasa di tahun 921 – 928 M

Sri Maharaja Dyah Wawa berkuasa selama 7 tahun. Namanya mulai dikenal karena mahir di bidang berdiplomasi.

Ia berhasil membawa Mataram Kuno ke urusan politik Internasional.

  1. Dinasti Syailendra

Di masa Dinasti Syailendra, agama Budha Mahayana melekat dalam kerajaan.

Salah satu cirinya dapat dilihat dari peninggalan candi yang memiliki corak Budha.

Kedua dinasti sama-sama dikenal memiliki kekuasaan yang hebat di Mataram Kuno.

Saat dikuasai oleh Dinasti Syailendra, rakyat di Mataram Kuno bermata pencaharian sebagai petani.

Saat itu pajak juga sudah mulai diterapkan untuk kerajaan.

Pajak tersebut juga dituliskan di sebuah prasasti Krang Tengah.

Di sana ada bangunan suci yang menjadi simbol bahwa rakyat sudah mulai membayar pajak saat Dinasti Syailendra berkuasa.

Berdasarkan berbagai prasasti yang ditemukan, Dinasti Syailendra dipimipin oleh beberapa raja saat itu:

  • Bhanu berkuasa di tahun 752- 775 M

Raja Bhanu merupakan pendiri dinasti Syailendra.

Ia adalah raja pertama yang berkuasa di Mataram Kuno di Dinasti Syailendra.

  • Wisnu berkuasa di tahun 775- 782 M

Di masa pemerintahan Wisnu terjadi pembangunan candi Buddha besar-besaran.

Salah satunya Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad 778 M.

  • Indra berkuasa di tahun 782 -812 M

Di masa pemerintahan Indra, Dinasti Syailendra memiliki perkembangan di bidang sistem politik. Kemajuan politik yang paling menonjol saat Indra melakukan perluasan wilayah guna menguasai daerah sekitar Selat Malaka.

Selain itu Indra juga melakukan perkawinan politik pada Sriwijaya ddengan menikahkan anaknya dengan putri di Kerajaan Sriwijaya.

  • Samaratungga berkuasa di tahun 812 – 833 M

Samaratungga mulai berkuasa setelah menggantikan tahta sang ayah di abad 812 M.

Segala aspek kehidupan rakyat Mataram Kuno diatur di bawah kekuasaanya.

Samaratungga juga merupakan raja yang sangat memahami nilai agama dan budaya Budha.

Di masa Samaratungga, Candi Borobudur kembali dikokohkan.

  • Pramodhawardhani berkuasa di tahun 883 – 856 M

Ia adalah putri dari Samaratungga yang terkenal cantik dan cerdas.

Pramodhawardhani bergelar Sri Kaluhunan berarti seorang sekar keratin yang jadi tumpuan serta harapan rakyat.

Karena kecantikannya ia pun dipersunting Raja Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya.

  • Balaputera Dewa berkuasa di tahun 883 – 850 M

Ia adalah putra dari Raja Samaratungga, ibunya merupakan putri Kerajaan Sriwijaya bernama Dewi Tara.

Rakai Pikatan yang merupakan suami Pramodhawardhani dan Balaputera Dewa yang kemudian terjadi perebutan tahta dari keduanya.

Cerita itu tertuang dalam Prasasti Ratu Boko.

Sebagai anak laki-laki Syailendra, Balaputera Dewa merasa dirinya lebih pantas mendapatkan tahta. Akhirnya perang saudara itu pun tak terhentikan dan menyebabkan dia kalah.

Karena kekalahannya, Balaputera Dewa pun memilih untuk melarikan diri ke Palembang.

Awal Mula Berdirinya 

kerajaan mataram islam ekonomi
Image source: www.yuksinau.id

Pendirian Kerajaan Mataram Kuno tak lepas dari peranan Sanjaya dan Sanna.

Sanna juga dikenal dengan berbagai nama, Senna dan Bratasenawa.

Sanna merupakan Ratu Kerajaan Galuh. Setelah 10 tahun menjadi Ratu, Sanna akhirnya turun tahta setelah dipicu pemberontakan yang tidak dapat diredam.

Kekacauan tersebut tidak lain bermaksud untuk mengkudeta Raja Sanna.

Otak dari pemberontakan itu adalah Purbasora yang tidak lain paman dari Sanjaya.

Usai diturunkan dari tahta, Raja Sanna masih merasa memiliki hak menduduki tahtanya kembali.

Ia pun meminta bantuan pada sahabatnya bernama Tarusbawa yang merupakan Raja Sunda.

Raja Galuh dan Raja Sunda memiliki hubungan dekat karena keduanya merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanegara. Mereka pun lantas terpecah jadi dua.

Sanna pun diperhatikan dengan baik oleh Raja Sunda Tarusbawa.

Hingga akhirnya rasa simpati tersebut muncul dari Tarusbawa menikahkan Sanjaya yang merupakan keponakan dari Sanna dengan putrinya.

Atau dengan kata lain Sanna memiliki adik bernama Sannaha, sementara Sannaha mempunyai anak bernama Sanjaya. Sanjaya inilah yang dinikahkan Tarusbawa dengan anaknya.

Sanjaya makin leluasa bermain politik di kerajaan Sunda usai mendapatkan tahta.

Niat Jahat pun semakin menjadi. Ada keinginan untuk membalaskan dendam pada keluarga Purbasora atas kudeta yang pernah mereka lakukan.

Sanjaya pun memberikan bantuan pada sang paman dengan menyampaikan maksud untuk mengkudeta Purbasora pada mertuanya, Raja Sunda.

Sanjaya meminta restu pada Raja Sunda untuk mengadakan perang dan merebut kembali kerajaan keluarganya.

Permainan pun di mulai, Sanjanya melancarkan aksi balas dendam ketika ia diangkat menjadi raja di Kerajaan Sunda.

Hal tersebut dilakukan agar Sanjaya memiliki titah untuk mengembalikan kerajaan keluarganya.

Sanjaya memerintah bukan untuk kebesarannya, tapi untuk menjalankan misi pemerintahan menggantikan sang mertua yang sudah mulai menua.

Padahal istri Raja Sanjanyalah yang harusnya menjalankan pemerintahan. Sayang istri Sanjaya malah dinilai kurang mampu memimpin kerajaan sehingga tahtanya jatuh ke menantunya.

Perang dengan Purbasora pun berlangsung.

Ia berhasil mengalahkan sang pemberontak dengan mengembalikan kerajaan milik keluarganya.

Tak hanya itu, Sanjaya dan dinastinya juga berhasil menguasai tiga kerajaan sekaligus.

Ia kemudian memerintah Kerajaan Sunda, peninggalan mertuanya. Termasuk wilayah Jawa Barat.

Andil Sanjaya tak hanya itu, ia bahkan juga ikut membesarkan Kerajaan Kalingga ketika Ratu Sima wafat.

Saat itu Ratu Sima dikenal sangat adil di Kerajaan Kalingga dan Sanjaya pun bisa menggantikan peranan tersebut.

Di abad ke-7, kerajaan akhirnya dibagi menjadi dua bagian.

Hal itu turut menjadi tanda akhir kekuasaan Sanjaya.

Dua bagian tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya.

Setelah membagi kerajaan Sanjaya malah memilih pergi ke Mataram untuk mewujudkan maksudnya.

Ia berhasil mengambil alih kekuasaan Mataram dan menjadi raja di Mataram Kuno.

Tujuan telah tercapai, Sanjaya kemudian memulai semuanya dari awal.

Ia kembali membangun kerajaan baru, hingga sejarah lebih mengenal Sanjaya sebagai pendiri dari Dinasti Sanjaya yang menguasai kerajaan Mataram Kuno sejak awal berdiri.

Masa Kejayaan 

kerajaan mataram ada dimana
Image source: www.yuksinau.id

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram terjadi saat Raja Dyah Balitong berkuasa di tahun 898 hingga 910 M. Keberhasilan tersebut terlihat saat Raja Balitong berhasil menakhlukkan daerah-daerah yang berada di sebelah timur Kerajaan. Dampaknnya Kerajaan Mataram Kuno di bawah kekuasaan Dyah Balitong berhasil memperluas daerah kekuasaan yang meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dyah Balitong juga memperoleh masa kejayaan di samping bidang militer dari mataram yang telah ahli sejak jaman Raja Sanjaya.

Masa kejayaan lainnya juga dipengaruhi adanya pembangunan waduk di daerah Waringin Sapta.

Waduk tersebut dibuat untuk mengatur arus aliran sungai Berangas yang juga menjadi jalur perdagangan.

Sungai Berangas difungsikan sebagai pelabuhan di mana banyak kapal dagang dari Benggala, Sri Lanka, Champa, Burma, dan Chola yang berkunjung ke pelabuhan tersebut.

Masa kekuasaan Kerajaan Mataram juga sempat berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Hal yang menyebabkan perpindahan tersebut yakni adanya aliran sungai yang disesuaikan dengan jalur perdagangan.

Seperti sungai Brantas dan Bengawan Solo yang berguna untuk memudahkan lalu lintas perdagangan.

Faktor lainnya yakni adanya lahan yang luas di dataran rendah sehingga memungkinkan untuk penanaman padi dan bertani.

Jawa Timur saat itu juga menjadi jalur perdagangan utama rempah-rempah dari Maluku.

Runtuhnya Mataram Kuno

kerajaan mataram abad
Image source: www.yuksinau.id

Banyak faktor dari luar dan dari dalam yang memengaruhi keruntuhan Mataram Kuno.

Seperti faktor bencana alam dengan meletusnya Gunung Merapi membuat banyak candi yang rusak hingga tertimbun lahar.

Serta Kerajaan Mataram Kuno juga mengalami krisis politik di tahun 927 hingga 929 M.

Perpindahan kembali Kerajaan Mataram di Jawa Tengah juga menjadi faktor runtuhnya Mataram.

Karena Jawa Tengah dianggap kurang subur dari perkembangan ekonomi, tak ada sungai besar sehingga perdagangan mulai menyusut.

Selain ada pula Mpu Sendok yang memiliki jabatan saat Wawa berkuasa.

Saat Wawa berkuasa, kerajaan dipindah ke Jawa Timur dan mendirikan Dinasti Isyana di Walunggaluh. Mpu Sendok pun turut andil dalam Dinasi Isyana dan membuat kerajaan yang berkelanjutan dari Mataram Kuno.

Mpu Sendok memimpin Dinasti Isyana di tahun 929-948 M.

Sejarah Kerajaan Mataram Islam (Mataram Baru)

kerajaan mataram kuno politik ekonomi sosial budaya
Image source: www.sejarahindonesiadahulu.blogspot.com

Kerajaan Mataram Islam juga disebut sebagai kesultanan Mataram.

Kerajaan ini berdiri di abad ke-16. Awalnya,  kerajaan ini merupakan hadiah dari Raja Pajang untuk Ki Ageng Pemanahan yang mampu mengalahkan Arya Penangsang.

Awal berdirinya kerajaan Mataram Islam bermula saat Sultan Hadiwijaya melantik Ki Ageng Pemanahan sebagai bupati di wilayah Mataram sebagai imbalan.

Kemudian putra dari Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya diangkat sebagai anak angkat oleh Sultan Hadiwijaya.

Hingga pada tahun 1575 Sutawijaya menggantikan Ki Ageng Pemanahan yang wafat sebagai bupati.

Menjadi bupati dirasa kurang oleh Sutawijaya, ia lalu berambisi menjadi raja yang menguasai seluruh Jawa.

Oleh sebab itu, Sutawijaya mulai memperkuat sistem pertahanan yang ada di dalam internal kekuasaan Mataram.

Keinginannya untuk menguasai kerajaan ternyata tercium oleh Sultan Hadiwijaya. Sultan Hadiwijaya kemudian Hadiwijaya mengirim pasukannya untuk menyerang kekuasaan dalam Mataram.

Pada tahun 1582 peperangan terjadi antara pasukan dari Pajang yang menerima kekalahan karena Sultan Hadiwijaya sedang sakit dan selang beberapa waktu Sultan Hadiwijaya wafat.

Perebutan kekuasaan pun akhirnya terjadi. Para bangsawan Pajang pun tak ingin membiarkan begitu saja tahta tersebut kosong.

Di sisi lain, Pangeran Pangiri pun juga menginginkan tahta tersebut. Menantu Sultan Hadiwijaya pun ikut perebutan kekuasaan tersebut.

Pertentangan semakin memanas, ara bangsawan Pajang yang telah bekerjasama dengan Sutawijaya pun semakin bringas hingga akhirnya Pangeran Pangiri dan pasukannya berhasil dikalahkan dan diusir dari Pajang.

Usai upaya perebutan kekuasaah oleh Pangeran Pangiri, keadaan Kerajaan Pajang pun berangsur membaik. Saat itulah putra Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benawa menyerahkan tampuk kekuasaanya pada saudara tirinya yakni Sutawijawa.

Alhasil, pusat pemerintahan pun akhirnya dipindahkan dari Kerajaan Pajang ke Mataram oleh Sutawijaya. Dari sinilah cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram dengan raja pertamanya Sutawijaya yang berkelar Panembahan Senopati.

Letak Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram adalah kerajaan gabungan antara
Image source: www.markijar.com

Kerajaan Mataram Islam berpusat di Yogyakarta tepatnya di Kota Gede.

Sementera wilayah kekuasaan di tahun 1613 menguasai Kerajaan Pajang atau Jawa Tengah.

Pada tahun setelahnya, wilayah kekuasaan Mataram Islam diperluas hingga ke Surabaya, Pasuruan, Tuban, hingga ke Madura.

Penanda suburnya Kerajaan Mataram Islam yakni Gunung Merapi dan gunung yang mengitarainya seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan beberapa gunung lainnya.

Karenanya, perkembangan ekonomi di sekitar Mataram Islam adalah agraris.

Kerajaan pun jadi kaya akan komoditas andalan seperti kapas, gula, kelapa, kayu, hingga beras yang melimpah karena banyaknya lahan pertanian yang maju. Selain itu kerajaan ini juga mengembangkan areal persawahan yang luas di Jawa Tengah.

Silsilah Kerajaan Mataram Islam

kerajaan mataram berada di
Image source: www.an-najah.net
  1. Ki Ageng Pamanahan

Ki Ageng Pamanahan merupakan pendiri desa Mataram dan memiliki anak bernama Sutawijaya.

Seiring berjalannya waktu desa ini berubah menjadi Kerajaan Mataram Islam di tahun 1556.

Desa Mataram menjadi wilayah kerajaan Mataram pertama yang dipimpin oleh anaknya bernama Sutawijaya.

  1. Panembahan Senapati

Ki Ageng Pamanahan yang berupakan sahabat Sultan Hadi Wijaya wafat pada tahun 1584.

Wilayah Mataram selanjutnya dipimpin oleh putranya Sutawijaya.

Awalnya, Sutawijaya merupakan senapati dari kerajaan Pajang, yang bergelar Panembahan Senapati sebab masih dianggap sebagai senapati utama dari Pajang di bawah Sultan Pajang.

Pada tahun 1523, Panempahan Senapati wafat lalu posisinya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang.

  1. Raden Mas Jolang

Setelah era Panembahan Senopati Kerajaan Mataram dipimpin oleh putranya yang bernama Raden Mas Jolang dari hasil pernikahannya dengan putri Ki Ageng Panjawi sang penguasa Pati.

Raja ke dua Mataram ini bergelar Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram.

Selama 12 tahun masa pemerintahannya, Sultan Hanyakrawati menghadapi beberapa persoalan pemberontakan. Sebaliknya, ia juga memperluas wilayah Kerajaan Mataram dengan melakukan ekspansi ke kerajaan lain.

Setelah menjabat sejak tahun 1606 hingga 1613 Sulta Hanyakrawati pun akhirnya wafat dan dimakamkan di bawah makam ayahnya di Pasar Gede.

  1. Raden Mas Rangsang

Masa keemasan Kerajaan Mataram terjada pada era pemerintahan putra Raden Mas Jolang.

Raja ketiga Mataram ini bergelar Sultal Agung Adi Prabu Hanuakrakusuma.

Nama asli Sultan Agung adalah Raden Mas Jatmika yang dikenal dengan nama Raden Mas Rangsang.

Sultan Agung memerintah dari tahun 1613 hingga 1645.

Sultan Agung memimpin Kerajaan Mataram Islam menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada era tersebut.

Di puncak kejayaanya Sultan Agung pernah menggempur benteng Belanda di Batavia.

  1. Amangkurat I

Amangkurat I merupakan putra dari Sultan Agung. Sultan Amangkurat I memiliki tabiat berbeda dibanding ayahnya.

Ia dikenal memiliki sifat kejam, tega membantai anggota keluarganya sendiri.

Amangkurat I juga dikenal sebagai raja yang memindahkan pusat pemerintahan Mataram dari Kota Gede ke Keraton Plered  di tahun 1647.

Di masa kepemimpinanya kerajaan mengalami perpecahan karena Amangkurat I menjadi sekutu dari VOC

Sebelum wafat pada tanggal 10 Juli 1677 ia masih sempat menyerahkan mandat kekuasan Kerajaan Mataram Islam pada putranya yang nantinya bergelar Sultan Amangkurat II.

  1. Amangkurat II

Adalah raja ke-6 sekaligus pendiri dari Kasunanan Kartasura yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Islam.

Kedekatan Kerajaan Mataran dan VOC makan terasa pada masa pemerintahan Sultan Amangkurat II. Bahkan, Amangkurat II menjadi raja pertaman Mataram yang mengenakan seragam gaya Belanda sebagai pakaian dinasnya.

Kehidupan Politik, Agama, serta Sosial dan Budaya

kerajaan mataram bercorak
Image source: www.yuksinau.id

Kerajaan Mataram Islam dapat ditinjau berbagai aspek kehidupan masyarakatnya dari sudut pandang politik, agama, serta sosial dan budayanya.

Bidang Politik

kerajaan mataram cirebon
Image source: www.yuksina.id

Politik Kerajaan Mataram Islam dimulai dari anak pendiri kerajaan yakni Sutawijaya atau Panembahan Senapati.

Ia diangkat jadi raja pada tahun 1586-1601 dengan Kota Gede sebagai ibu kota.

Saat itu Sutawijaya berhasil memainkan politiknya hingga berhasil memperluas daerah kerajaan.

Terbukti saat dirinya berkuasa, Mataram Islam memperluas kekuasaan hingga ke Jawa Timur, dan Jawa Barat dengan menaklukkan Cirebon dan Kerajaan Galuh.

Akhirnya Kerajaan Mataram Islam mendapatkan masa keemasn ketika dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo atau Raden Mas Rangsang.

Sultan Agung Hanyokrokusumo berhasil menduduki tahta selama 32 tahun.

Saat dipimpin, Sultan Agung berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Kalimantan dan Goa.

Sultan Agung mengalami kekalahan saat melancarkan serangan ke Batavia karena pasukan dari Mataram sudah mengalami kelelahan.

Saat itu pasukan harus menempuh perjalanan dari Jawa Tengah ke Jakarta, juga banyak yang menderita wabah penyakit di tengah jalan hingga meninggal.

Setelah Sultan Agung wafat, terjadi perbutan kekuasaan antar saudara.

Bidang Agama

kerajaan mataram dan cirebon
Image source: www.wikipedia.org

Ada pengaruh percampuran budaya Islam dan Hindu Budha.

Seperti kesenian Grebeg yang mulanya digunakan sebagai pemujaan roh nenek moyang berganti menjadi perayaan hari besar Islam.

Hingga saat ini masih banyak acara Grebeg yang ditemui di kawasan Jawa Tengah, DIY, maupun Jawa Timur seperti Grebeg Syawal, Grebeg Maulud dan acara lainnya.

Bidang Sosial dan Budaya

kerajaan mataram kuno.com
Image source: www.harianmerapi.com

Karena letaknya yang berada di lahan yang subur, kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Islam ditopang oleh bidang agraris atau pertanian.

Lahan pertanian sangat sukses bahkan bisa melakukan ekspor beras yang terbesar saat itu.

Selain dari bidang pertanian, Mataram Islam juga diperkuat dengan adanya perdagangan laut.

Wilayah sepanjang Pantai Utara Jawa juga bisa menopang kehidupan Mataram Islam karena banyaknya daerah pelabuhan.

Karena memiliki komoditas pertanian yang sukses, banyak pejabat yang memanfaatkan hal tersebut. Mereka memanfaatkan dengan memeroleh imbalan berupa tanah garapan.

Hal tersebut memicu timbulnya tuan tanah yang menguasai Jawa.

Sementara kehidupan budaya yang berkembang sangat bagus di Kerajaan Mataram Islam.

Banyak budaya yang juga dipengaruhi oleh agama Islam seperti sastra, adapula kesenian tari dan seni pahat.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram

kerajaan mataram dipimpin oleh
Image source: www.sisata-religi.com

Masa Kejayaan Mataram Islam berada di bawah pemerintahan Sultan Agung atau Raden Rangsang.

Ia berhasil memerluas kerajaan hingga ke Jawa dan Madura kecuali Batavia (Jakarta).

Perluasan terjadi usai Kerajaan Mataram bergesekan dengan VOC.

Kerajaan Mataram Islam lantas berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon untuk menjatuhkan VOC.

Runtuhnya Kerajaan Mataram

kerajaan mataram dan banten
Image source: www.tirto.id

Kerajaan Mataram Islam mengalami keruntuhan sejak Sultan Agung mulai gagal mengusir VOC dari Batavia.

Namun seiring berjalannya tampuk kekuasaan, Kerajaan Mataram islam benar-benar mengalami masa keruntuhan di masa pemerintahan Amangkurat I.

Di tahun 1647 paja memindahkan keraton ke Plered. Masa Amangkurat I mengalami pemberontakan oleh pasukan Trunajaya yang bersekutu dengan VOC.

Amangkurat I lalu takhluk dan digantikan Amangkurat II. Raja saat itu tak disukai oleh istana karena sangat tunduk dengan VOC sehingga terjadi pemberontakan dari dalam keraton.

Sepeninggalan Amangkurat II, kekuasaan akhirnya jatuh ke tangan Amangkurat III, Amangkurat IV dan Pakubuwana II.

Raja setelahnya tak lagi tunduk ke VOC yang membuat pihaknya geram.

Pakubuwana I pun ditetapkan sebagai raja dan membuat perpecahan di dalam keraton. Pemberontakan pun tak luput dilakukan oleh Amangkurat III yang kemudian membuat dirinya ditangkap di Batavia.

Kekacauan politik tersebut akhirnya bisa diatasi setelah Pakubuwana III membagi wilayah Mataram. Ada dua wilayah  yakni Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang kini lebih sering kita dengar dengan Keraton Jogja dan Keraton Solo.

Bukti Peninggalakan Kerajaan Mataram

kerajaan mataram ekonomi
Image source: www.indonesiakaya.com

Prasasti Mataram Kuno

  1. Prasasti Canggal
  2. Prasasti Kelurak
  3. Prasasti Mantyasih
  4. Prasasti Sojomerto
  5. Prasasti Tri Tepusan
  6. Prasasti Wanua Tengah III
  7. Prasasti Rukam
  8. Prasasti Plumpungan
  9. Prasasti Siwargrha
  10. Prasasti Gondosuli
  11. Prasasti Kayumwungan/Karang Tengah Prasasti Kayumwungan
  12. Prasasti Sankhara
  13. Prasasti Ngadoman
  14. Prasasti Kalasan

Bukti Peninggalan Mataram Islam

Bukti peninggalan Mataram Islam bisa dilihat dari Gapura Candi Bentar yang berada di makam Sunan Tembayar (Klaten).

Karya tersebut diperkirakan dibuat saat Sultan Agung memipim.

Selain itu ada pula bukti peninggalan seni lukis, ukir, patung dan seni hias.

Kerajaan Mataram Islam juga mengembangkan perayaan sekaten sebagai perongatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Puncak acara sekaten adalah terjadi saat acara gunungan dari keraton ke depan Masjid Agung.

***

Nah, itu tadi sekilas pembahasan tentang sejarah dan seluk beluk Kerajaan mataram Kuno.

Dari ini semoga kita bisa terus melestarikan kebudayaanya dan menjaga peninggalan sejarah untuk anak cucu kita kelak.

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar