Kerajaan Pajajaran

Jika berbicara mengenai keberadaan situs kerajaan masa lalu di tanah Sunda, sudah pasti yang terbesit adalah sejarah Kerajaan Pajajaran.

Kerajaan Pajajaran mempunyai nama besar di hati masyarakat Sunda, keran pada masa inilah dalam sejarahnya masyarakat Sunda berada dalam puncak kejayaan, tepatnya saat Prabu Siliwangi memerintah.

Jadi tidak heran kan, jika kamu ada di tanah Sunda, nama “Siliwangi” banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Misalkan untuk nama gedung, nama bangunan, nama jalan, dan lain-lain.

Pemakaian patung harimau yang identik dengan cerita Prabu Siliwangi juga tak ketinggalan banyak tersebar di wilayah tanah Sunda atau Jawa Barat.

Nah, jika kamu penasaran mengnai sejarah Kerajaan Pajajaran, berikut adalah sejarahnya yang disajikan lengkap hanya untuk kamu, ya.

Selamat membaca.

Sejarah Kerajaan Pajajaran

kerajaan pajajaran ringkasan
Image source: www.sejarahbogor.com

Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan Hindu yang berdiri di sebelah barat Pulau Jawa.

Sekarang wilayah yang masuk daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran ini masuk dalam daerah Provinsi Jawa Barat.

Pusat kerajaan berada di Pajajaran atau Pakuan Pajajaran, yang sekarang masuk wilayah Bogor.

Kebudayaan saat itu, terutama sekali kebiasaan di wilayah Asia Tenggara, sering menyebut nama kerajaan dengan nama ibukotanya.

Sebut saja Kerajaan Pajajaran yang beribukota di daerah Pajajaran.

Kerajaan Pajajaran berdiri pada tahun 1482 ketika Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja naik tahta.

Mengenai sejarah Kerajaan Pajaran banyak sekali kitab cerita, pantun, kisah babad, berbagai catatan, dan prasasti-prasasti masa lalu yang menyebutkan sejarah panjang kerajaan Pajajaran ini.

Namun, sejauh ini misteri sejarah Kerajaan Pajajaran memang tidak diketahui banyak cerita sejarahnya sehingga masih dilakukan penelitian terus-menerus secara lebih mendalam.

Sumber Sejarah Kerajaan Pajajaran

benarkah kerajaan pajajaran itu ada
Image source: www.piknikasik.com

Untuk mempelajari sejarah Kerajaan Pajajaran, ada beberapa nsakah kuno yang berhasil ditemukan.

Rata-rata, naskah tersebut menggunakan aksara dan bahasa Sunda kuno.

Di antara sumber sejarah tersebut adalah naskah Carita Waruga Guru dan Kitab Carita Parahyangan.

1. Naskah Carita Waruga Guru (1750)

Naskah Carita Waruga Guru merupakan salah satu sumber sejarah yang menceritakan eksistensi Kerajaan Pajajaran.

Dalam naskah yang ditulis dalam Bahasa Sunda ini disebutkan bahwa di lokasi Kerajaan Pajajaran banyak berdiri pohon Pakujajar sehingga kerajaan tersebut juga disebut dengan nama Pakuan Pajajaran.

Menurut penelitial K.F. Holle pada 1869, dia menyebutkan bahwa di kampung Cipaku, yang letaknya tidak jauh dari Kota Bogor, banyak tumbuh pohon paku.

Oleh karena itu, selain erat kaitannya dengan kampung Cipaku, menurut K.F. Holle, Pakuan ini juga erta dengan pohon paku yang ada di daerah kampung Cipaku tersebut.

Jadi Pakuan Pajajaran menurut K.F. Holle artinya adalah pohon paku yang berjajar.

2. Kitab Carita Parahyangan (Abad ke-16)

Carita Parahyangan merupakan sebuah naskah kuno berbahasa Sunda.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para sejarawan, Kitab Carita Parhyangan ini diperkirakan berasal dari abad ke-16.

Carita Parahyangan menjadi bagian penting dalam penelusuran jejak sejarah Kerajaan Pajajaran karena isinya menceritakan sejarah Tanah Sunda,

khususnya mengenai Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pakuan yang saat itu menguasai tanah Sunda.

Naskah Carita Parahyangan ditemukan dalam bentuk 24 lembar daun lontar, dengan ukuran 21×3 cm.

Dalam setiap lembar daun lontar itu, terdapat naskah yang ditulis dalam 4 baris beraksara Sunda Kuno.

Carita Parahyangan menceritakan sejarah panjang zaman kerajan di Tanah Sunda, muali dari masa awal kerajaan Galuh pada zaman Wretikandayun hingga zaman jatuhnya Pakuan Pajajaran karena diserang oleh Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Demak.

Dalam Carita Parahyangan ini juga diceritakan peristiwa Perang Bubat yang mengambil bagian antara Prabu Maharaja dan anaknya, Aki Kolot.

Sekuel tersebut diceritakan, “Manak deui Prabu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna. Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda. Pan prangrang di Majapahit”, yang artinya “Karena anak, Prabu Maharaja yang menjadi raja selama tujuh tahun, kena bencana, terbawa celaka oleh anaknya, karena Putri meminta terlalu banyak. Awalnya mereka pergi ke Jawa, sebab putri tidak mau bersuami orang Sunda. Maka terjadilah perang di Majapahit“.

Dalam Carita Parahyangan juga menuliskan Prabu Surawisesa, yang merupakan putra Prabu Jayadewata.

Ia meneruskan pemerintahan Kerajaan Sunda dalam kondisi sulit karena pemberontakan terjadi di mana-mana, antara lain Banten, Sunda Kalapa dan Cirebon.

Dalam waktu yang tidak menguntungkan itu, Prabu Surawisesa melewati 15 kali pertempuran perang.

Carita Parhyangan menuliskan, “Disilihan inya ku Prabu Surawisésa, inya nu surup ka Padarén, kasuran, kadiran, kuwamén. Prangrang limawelas kali hanteu éléh, ngalakukeun bala sariwu. Prangrang ka Kalapa deung Aria Burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol kiyi. Prangrang ka Wahanten girang. Prangrang ka Simpang. Prangrang ka Gunungbatu. Prangrang ka Saungagung. Prangrang ka Rumbut. Prangrang ka Gunung. Prangrang ka Gunung Banjar. Prangrang ka Padang. Prangrang ka Panggoakan. Prangrang ka Muntur. Prangrang ka Hanum. Prangrang ka Pagerwesi. Prangrang ka Medangkahiyangan. Ti inya nu pulang ka Pakwan deui. hanteu nu nahunan deui, panteg hanca di bwana. Lawasniya ratu opatwelas tahun“.

Dalam naskah Carita Parahyangan juga banyak menyebutkan nama-nama tempat, diantaranya Balamoha, Balaraja, Balitar, Cina, Ciranjang, Cirebon, dan masih banyak lagi.

Asal Usul Kerajaan Pajajaran

apakah kerajaan pajajaran itu ada
Image source: www.pewartanusantara.com

Di tanah Sunda, atau tanah Parahyangan, dulunya terdapat dua kerajaan besar, yakni Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.

Saat itu Raja Dewa Niskala memerintah Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda diperintah oleh Raja Susuktunggal.

Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh awalnya memiliki hubungan yang sangat dekat.

Dulunya, raja kedua kerajaan tersebut, yakni Raja Dewa Niskala dan Raja Susuktunggal, adalah besan.

Putri Raja Susuktunggal dipersunting oleh putra Raja Dewa Niskala.

Hubungan yang baik ini mulai renggang dikarenakan raja Kerajaan Galuh saat itu, Raja Dewa Niskala, menerima dengan baik kedatangan rombongan pengungsi dari Kerajaan Majapahit.

Kepala rombongan pengungsi, yakni Raden Baribin, yang masih jadi saudara Prabu Kertabumi (raja Majapahit), diambil sebagai mantu dengan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Ratna Ayu Kirana.

Bahkan seorang wanita dari rombongan pengungsi Majapahit inipun juga diambil sebagai istri oleh Raja Dewa Niskala.

Kejadian ini membuat Raja Susuktunggal naik pitam.

Dia menuduh Raja Dewa Niskala sudah tidak menghormati lagi masa lalu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, bahwa mereka dilarang keras menikah dengan keturunan Majapahit.

Kedua besan inipun terlibat dalam sengketa yang cukup sengit.

Mencium aroma akan terjadinya perang besar, dewan penasihat dari Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh pun akhirnya bertemu untuk membicarakan nasib kedua kerajaan ke depannya.

Hasilnya, dewan penasehat kedua kerajaan akhirnya meminta kedua raja untuk turun tahta demi menghindari perang.

Kemudian dewan penasehat kedua kerajaan pun bersama-sama menunjuk satu orang raja pengganti yang akan memimpin dua kerajaan.

Tak disangka-sangka, dewan penasehat kedua kerajaan sama-sama menunjuk nama Jayadewata untuk naik tahta, dan ini disetujui oleh Raja Susuktunggal dan Raja Dewa Niskala yang berkuasa saat itu.

Raja Dewa Niskala adalah ayah dari Prabu Jayadewata, sedangkan Raja Susuktunggal adalah mertua Prabu Jayadewata.

Dengan peristiwa ini, berakhirlah sengketa Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda.

Jalan damai tersebut menjadi awal berdirinya Kerajaan Pajajaran yang menyatukan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh di bawah kepemimpinan raja tunggal.

Jayadewata dalam sejarah lebih dikenal dengan nama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi sangat mahsyur namanya di tanah Sunda.

Silsilah Kerajaan Pajajaran

sejarah kerajaan islam pajajaran
Image source: www.apollo-singapore.akamaized.net

Setelah Sri Baduga Maharaja naik tahta, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda hidup di era baru bersatu di bawah bendera Kerejaan Pajajaran.

Selama Kerajaan Pajajaran berkuasa, paling tidak ada 6 raja yang pernah berkuasa, sebagai berikut.

  1. Sri baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, memerintah tahun 1482 – 1521, bertahta di Pakuan.
  2. Surawisesa, memerintah tahun 1521 – 1521, bertahta di Pakuan.
  3. Ratu Dewata, memerintah tahun 1535 – 1543, bertahta di Pakuan.
  4. Ratu Sakti, memerintah tahun 1543 – 1551, bertahta di Pakuan.
  5. Ratu Nilakendra, memerintah tahun 1551 – 1567, meninggalkan Pakuan karena diserang anaknya sendiri.
  6. Raja Mulya, memerintah tahun 1567-1579, dikenal juga sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah kerajaan dari Pandeglang

Sri Baduga Maharaja

Sri Baduga Maharaja yang memiliki nama asli Prabu Jayadewata adalah seorang raja yang pengaruhnya tinggi di tanah Sunda.

Pada masa kecil, nama beliau adalah Prabu Pamanah Rasa.

Beliau dikenal juga dengan gelar Siliwangi yang memiliki makna tinggi.

Siliwangi berasal dari kata “Silih” dan “Wangi” yang maknanya adalah orang yang menggantikan atau meneruskan Prabu Wangi.

Menurut cerita, sejarah Jayadewata ini awal mulanya adalah berasal dari keturunan Maharaja Adi Mulya.

Dari Maharaja Adi Mulya, lahirlah 3 sosok yang berpengaruh besar, yaitu Prabu Ciung Wanara, Prabu Lingga Hiang, serta Sri Ratu Purbasari.

Dari sosok Prabu Lingga Hiang, lahirlah 2 orang putra istana, yakni Cakrawati dan Prabu Lingga Wesi.

Dari Prabu Lingga Wesi, banyak terlahir keturunan-keturunannya, yakni Susuk Tunggal, Banyak Wangi, Banyak Larang, Prabu Mundingkawati (Siliwangi I), Prabu Linggawastu, dan Prabu Anggalarang (Siliwangi/Dewa Niskala).

Dari Prabu Anggalarang, lahirlah keturunan Siliwangi selanjutnya, yakni Prabu Jaya Pupukan dan Prabu Rangga Pupukan.

Prabu Jayadewata ini adalah generasi ke-12 dari Maharaja Adi Mulya.

Sejak kecil, Prabu Jayadewata juga dikenal dengan nama Prabu Pamanah Rasa.

Dia diasuh dan dididik langsung oleh Ki Gendeng Sindangkasih, yang merupakai seorang yang berpengaruh besar di Pelabuhan Muara Jati, Kerajaan Singapura, yang dalam sejarahnya kerajaan ini kini berada di daerah Cirebon.

Setelah dia beranjak dewasa dan dianggap cukup tinggi kesaktiannya, oleh Ki Gendeng Sindangkasih, Prabu Siliwangi diajak kembali ke istana.

Di dalam istana, Jayadewata mengabdi kepada ayahandanya Prabu Anggalarang yang bergelar Dewa Niskala.

Dia dikenal dengan kesaktian aji mandraguna.

Meski seorang yang sakti, saat menjabat sebagai raja, Prabu Siliwangi juga dikenal dalam sejarahnya sebagai seorang raja yang bijaksana.

Sehingga nama Siliwangi ini, sekarang pun masih banyak dipakai dan dielu-elukan.

Dengan kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang begitu luas, memang pantaslah Prabu Siliwangi menjadi seorang raja.

Apalagi saat itu dibutuhkan ilmu kanuragan yang tinggi untuk memimpin tanah Sunda dari serangan musuh.

Kesaktian Prabu Siliwangi sangat dikenal di Tanah Sunda, utamanya degan kesaktian ajian harimau putih yang dimilikinya.

Dalam Kitab Suwasit, diceritakan Prabu Siliwangi pernah bertarung sengit dengan seekor siluman harimau putih.

Kejadian ini terjadi saat Prabu Siliwangi sedang melakukan perjalan di daerah Majalengka.

Di situ ia dihadang oleh siluman harimau putih dan terjadilah pertarungat hebat di dalam hutan di Majalengka.

Kesaktian Prabu Siliwangi dikeluarkan semua untuk menaklukkan Siluman Harimau Putih.

Siluman itu bukan sembarang siluman karena memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.

Akan tetapi, pada akhirnya kesaktian Prabu Siliwangi lah yang akhirnya menaklukkan Siluman Harimau Putih, dan menjadikannya tunduk dan patuh kepada Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi juga memiliki senjata pusaka sakti yang diberi nama Kujang.

Kujang ini saat ini dijadikan sebagai logo Provinsi Jawa Barat.

Menurut legenda, Kujang ini juga turut menambah kesaktian Prabu Siliwangi dalam memimpin Kerajaan Pajajaran.

Pada senjata Kujang ini terdapat ukiran-ukiran kepala harimau pada gagangnya.

Menurut cerita, ukiran kepala harimau yang ada pada gagang senjata yang berbentuk melengkung ini konon dijadikan sebagai pengingat bagi Prabu Siliwangi akan jasa-jasa pengikut setianya, yakni siluman Harimau Putih.

Prabu Pamanah rasa adalah putera dari Prabu Dewa Niskala yang lahir pada tahun 1401 Masehi di Kawali Ciamis.

Dia memerintah Kerajaan Pajajaran selama 39 tahun, dari 1482 hingga 1521.

Selama masa pemerintahannya, Kerajaan Pajajaran ini mengalami puncak kejayaan.

Berdasarkan aksara yang ditulis dalam Prasasti Batutulis, Prabu Siliwangi yang bergelar Sri Baduga Maharaja dinobatkan menjadi raja sebanyak dua kali.

Penobatan pertama terjadi saat Prabu Dewa Niskala menyerahkan jabatannya kepada anaknya, Prabu Pamanah Rasa alias Prabu Jayadewata.

Sejak saat itu, Kerajaan Galuh kemudian diperintah oleh seorang raja yang harum namanya, yakni Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi.

Prosesi penobatan kedua terjadi saat ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, yakni Prabu Susuktunggal.

Dengan peristwa ini, Kerajaan Galuh-Sunda kini dipimpin oleh raja tunggal yakni Prabu Jayadewata yang kemudian diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji.

Peristiwa ini tercatat sebagai peristiwa pertama sejak 149 tahun, Kerajaan Galuh-Sunda dipimpin oleh seorang raja.

Oleh karenanya kemudian ia juga diberi gelar Prabu Siliwangi karena dianggap meneruskan silih kakeknya, Prabu Wangi alias Niskala Wastu Kancana, yang dulunya juga memimpin tanah Sunda.

Prabu Siliwangi sendiri melakukan moksa seiring masuknya ajaran Agama Islam ke tanah air.

Karena tidak bersedia menjadi mualaf, dia memilih menyingkir dari kerajaannya dan melakukan tapa moksa.

Moksa adalah istilah untuk menyebut meninggal dunianya seseorang tanpa meninggalkan jasad, atau lebih gampangnya disebut menghilang tanpa jejak.

Moksa sendiri disebut konsep dari agama Hindu dan Buddha.

Dalam ajaran agama tersebut, moksa dilakukan untuk melepaskan semua kepentingan dunia yang kemudian berputar menuju fase reinkarnasi kehidupan fana.

Istilah ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, utamanya sejak zaman kerajaan.

Letak Kerajaan Pajajaran

puseur dayeuh karajaan pajajaran harita ayana di
Image source: www.historyofcirebon.id

Kerajaan Sunda merupakan kerjaan yang wilayahnya sekarang masuk dalam Provinsi Jawa Barat.

Kerajaan Pajajaran berpusat pada di daerah Pakuan, yang sekarang masuk wilayah Bogor.

Daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran menurut kisah Bujangga Manik, yang menjelajah Pulau Jawa di abad ke-16 Masehi, di bagian timur dibatasi oleh Sungai Cimapali atau sekarang adalah Kali Pemali.

Di sisi barat, kerajaan ini dibatasi oleh Selat Sunda.

Untuk batas di sebelah utara dibatasi oleh pantai utara Jawa Barat sampai ke wilayah Brebes.

Dan untuk sisi perbatan di sebelah selatan, wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dibatasi oleh Laut Selatan atau Saudera Hindia.

Di bagian wilayah pantai utara, menurut catatan Pires, Kerajaan Pajajaran memiliki 6 buah pelabuhan pelayaran, yakni Pelabuhan Banten (Bantam), Pelabuhan Pontang, Pelabuhan Cigede, Pelabuhan Tamgara (Tangerang), Pelabuhan Kalapa (jakarta), serta Pelabuhan Cimanuk.

Menurut Catatan Tome Pires, seluruh wilayah Jawa Barat sekarang dulunya merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Selain itu disebutkan juga, wilayah Kerajaan Pajajaran bukan saja wilayah Jawa Barat, tapi setengah dari Jawa Tengah dulunya juga merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran.

Sejarah Kerajaan Pajajaran memang identik dengan etnis Sunda.

Dalam persepsi masyarakat, Sunda adalah etnis yang berasal dari daerah Jawa Barat, sementara Jawa adalah etnis yang asalnya dari Jawa selain Jawa Barat.

Kalau berdasarkan laporan Pires di atas, Kerajaan Pajajaran sejarahnya bukan saja milik etnis Sunda, karena wilayahnya sebagian masuk wilayah Jawa Tengah, tepatnya wilayah Kerajaan Galuh.

Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran

kerajaan pajajaran islam
Image source: www.iskandaaar.blogspot.com

Puncak kejayaan Kerajaan Pajajaran terjadi pada masa pemerintahan Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi.

Nama Siliwangi berasal dari nama sang kakek, yakni Prabu Wangi atau Prabu Wastu Kencana.

Gelar ini diberikan kepada Prabu Jayadewata karena menurut kepercayaan masyarakat Sunda bahwa Prabu Jayadewata atau Prabu Siliwangi setara dengan kakeknya.

Saat itu, Prabu Siliwangi memerintah kerajaan dengan kebijakan-kebijakan sangat adil dan bijaksana.

Masyarakat pun saat itu juga merasakan hidup yang bahagia, dengan makmur serta sejahtera.

Saat itu, Prabu Siliwangi banyak melakukan pembangunan infrastruktur untuk mensejahterakan rakyat.

Harumnya kemahsyuran nama Prabu Siliwangi ini, bahkan namanya sampai sekarang masih dielu-elukan dan dipercaya oleh masyarakat Sunda.

Di bawah ini adalah berbagai pembangunan yang sudah dilakukan oleh Prabu Siliwangi untuk rakyatnya.

1. Pembangunan Infrastruktur

Sebagai kerajaan baru, Kerajaan Pajajaran banyak melakukan pembangunan infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur ini terlacak dari Prasasti Kabantenan dan Batutulis.

Prabu Siliwangi melakukan beberapa pembangunan pembangunan, di antaranya:

– Dari Pakuan (Ibu kota) hingga ke Wanagiri dihubungkan jalan baru.

– Untuk pengairan sawah, dibangun Talaga Maharena Wijaya.

– Sebagai tempat tinggal putri-putri kerajaan, dibangun Kabinihajian atau keputren.

– Sebagai tempat hiburan, dibangun Pamingtonan.

2. Pembangunan Pertahanan Militer

Untuk menguatkan ketahanan kerajaan dari ancaman serangan musuh, pihak kerajaan membanguan asrama khusus untuk prajuritnya, yang disebut dengan istilah Kesatrian.

Hal ini bertujuan supaya para anak muda berminat menjadi prajurit kerajaan.

Selain itu, para prajurit ini juga dilatih secara khusus tentang berbagai strategi dan formasi pertempuran.

3. Pembangunan Administrasi pemerintahan

Demi kerapihan proses administrasi di lingkungan kerajaan, para abdi raja ditugasnya secara detail dan spesifik mengani tugasnya masing-masing.

Kerajaan Pajajaran juga sudah menerapkan undang-undang untuk mengatur rakyatnya.

Termasuk mengenai pungutan upeti dibuat peraturan yang seadil mungkin untuk menghindari kecurangan dan kesewenang-wenangan.

4. Pembangunan Spiritual

Bagi rakyat Kerajaan Pajajaran, ajaran agama adalah hal penting untuk ditaati dan dilaksanakan.

Oleh karena itu, pihak kerajaan pun merespon pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, dengan mengirimkan para pendeta ke desa-desa perdikan.

Desa perdikan yakni desa yang tidak termasuk dalam obyek pajak.

Diharapkan para pendeta dan muridnya dapat lebih fokus dalam urusan keagaamaan serta tidak terganggu dalam urusan dunia.

Bidang Politik

sejarah kerajaan galuh pajajaran
Image source: www.moondoggiesmusic.com

Dalam penelitian Tome Pires, tahta Kerajaan Pajajaran dipimpin oleh seorang raja.

Raja tersebut bertahta di atas keberadaan raja-raja yang di bawah kekuasaannya.

Apabila sang raja meninggal dunia, maka kekuasaan tersebut akan diteruskan secara turun-temurun kepada anak raja.

Apabila sang raja tidak memiliki seorang anak, maka pemilihan raja dilakukan dengan cara memilih salah seorang raja daerah yang dianggap mumpuni.

Sumber-sumber sejarah mengnai kehidupan politik Kerajaan Pajajaran sangat terbatas jumlahnya, sehingga tidak banyak hal yang bisa dijabarkan dalam sejarah politiknya.

Kehidupan politik ini diketahui sangat terbatas pada pemindahan kekuasaan kerajaan serta pergantian posisi raja saja.

Pada masa itu, pusat kerajaan Pajajaran disebutkan pernah ada di 4 daerah berikut.

1. Kerajaan Galuh

Sejarah Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat berlanjut setelah era Kerajaan Tarumanegara berakhir.

Adalah Prasasti Canggal yang berada di Gunung Wukir, Jawa Tengah.

Prasasti yang dibuat oleh Sanjaya ini dibuat pada tahun 732 Masehi sebagai tanda kebesarannya.

Dalam prasasti tersebut, disebutkan Sanjaya merupakan anak Sanaha, yang merupakan saudara perempuan Raja Sanna.

Nama Sanjaya ini juga dicantumkan dalam kitab kuno Sunda, yakni Kitab Parahyangan.

Bebeda dengan apa yang tercantum di Prasasti Canggal, kalau Sanjaya dalam kitab Parahyangan ini disebutkan sebagai anak Raja Sena.

Raja Sena sendiri adalah raja yang memerintah di Kerajaan Galuh.

2. Kerajaan Parahyangan

Nama Sunda tecantum juga di Prasasti sahyang Tapak yang berangka tahun 952 Saka atau 1030 Masehi,

Dalam prasasti yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang, daerah Cibadak, Sukabumi ini, tersebut nama tokoh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanaman-daleswaranandita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa yang berkuasa atas wilayah Parahyangan Sunda.

3. Kerajaan Kawali

Sejarah yang menyebutkan kapan dan siapa yang mulai menempati Kerajaan Kawali sebagai pusat kerajaan tidak diketahui dengan pasti.

Berdasarkan Prasasti Kawali di Astanagede, diketahui kalau pada masa pemerintahan Rhyang Niskala Wastu Kancana setidak-tidaknya pernah memerintah kerajaan dengan pusatnya di Kawali.

Di sekita istananya, yang dinamakan Surawisesa, raja membangun selokan-selokan untuk mengelilingi istana dan membuat kampung-kampung untuk tempat bermukim para rakyatnya.

4. Pakuan Pajajaran

Saat Prabu Jayadewata mulai memerintah kerajaan, pusat kerajaan berpindah ke Pakuan.
Menurut Prasasti Kebantenan, Prabu Jayadewata dulunya disebut sebagai yang sekarang dikenal dengan istilah Susuhunan di Pakuan Pajajaran.

Prabu Jayadewata bergelar Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.

Begitulah yang tertulis menurut apa yang ada di Prasasti Batutulis.

Sejak Sri Baduga Maharaja memerintah, pusat kerajaan berpindah dari Kawali ke Pakuan.

Menurut kitab Parhyangan, saat itu Sri Baduga Maharaja memerintah kerajaan dengan menjalankan hukum seadil-adilnya, sehingga suasana kerajaan menjadi aman dan tenteram.

Bidang Ekonomi

kerajaan pajajaran sunda galuh
Image source: kumeokpapahdipacok.blogspot.com

Karena terletak di Jawa Barat, secara ekonomi Kerajaan Pajajaran memiliki 3 mata pencaharian utama, yakni pertanian, perdagangan dan pelayaran.

Untuk urusan pertanian, masyarakat banyak bercocok tanam dengan menggarap ladang.

Hasil bumi dari Kerajaan Pajajaran ini di antaranya adalah beras, buah-buahan, sayuran dan lada.

Sementara itu untuk mendukung urusan perdagangan dan pelayaran, Kerajaan Pajajaran memiliki 6 pelabuhan, yakni Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa, dan Cimanuk (sekarang Pamanukan).

Kehidupan Sosial dan Budaya

kerajaan pajajaran raja siliwangi
Image source: www.respublika.id

Struktur sosial Kerajaan Pajajaran dibagi menjadi 3 kelompok masyarakat, yakni golongan seniman, petani dan pedagang, serta golongan penjahat.

Pemain badut dan para penari masuk ke golongan seniman, termasuk juga para pemain musik gamelan.

Kelompok petani dan pedagang hanya terdiri dari petani dan pedagang saja.

Para pembunuh, perampok dan pencuri masuk ke golongan para penjahat.

Bidang Agama

kerajaan pajajaran hindu budha
Image source: www.kerisku.id

Kerajaan Pajajaran adalah kerajaan Hindu, sehinga rakyatnya sangat kental dengan budaya-budaya Hindu.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, dia menaruh perhatian yang dalam atas keberlangsungan kehidupan agama rakyatnya.

Untuk kebutuhan kehidupan spiritual rakyatnya, maka Sri Baduga Maharaja mendirikan perkampungan yang disebut dengan Perdikan.

Perdikan ini, kalau sekarang adalah semacam pondok atau padepokan.

Rakyatnya yang suka belajar agama ataupun mendalami agama untuk kehidupannya bisa masuk ke Perdikan ini.

Supaya orang-orang di Perdikan ini bisa fokus menjalankan ajaran agamanya dengan leluasa, maka Sri Baduga Maharaja pun membuat kebijakan kalau orang-orang itu adalah orang yang bukan masuk dalam obyek pajak.

Artinya selama mereka tinggal di Perdikan, mereka tidak akan ditarik upeti ataupun pajak kepada kerajaan.

Hal ini disambut suka cita oleh orang-orang perdikan yang memang ingin fokus pada ajaran agama daripada harus juga turut mengurusi masalah urusan duniawi.

Runtuhnya Kerajaan Sunda

kerajaan pajajaran sebagai kerajaan hindu mengalami keruntuhan karena terdesak
Image source: www.kebudayaan.kemdikbud.go.id

Nama besar Sri Baduga Maharaja sepertinya emang tak bisa ditandingi oleh para penerusnya.

Semua catatan sejarah, yang terdiri dari prasasti, kidung, pantun, babad menunjukkan bahwa memang berkembangnya Kerajaan Pajajaran merupakan hasil kerja keras seorang Sri Baduga Maharaja.

Keruntuhan Kerajaan Pajajaran bermula saat datang serangan dari Kesultanan Banten tahun 1579 Masehi.

Kesultanan Banten merupakan anak kerajaan dari Kerajaan Demak yang berdiri di Jawa Tengah.

Awal keruntuhan ini disimbolkan dengan berhasilnya Kesultanan Banten memboyong singgasana raja yang bernama Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Keraton Surosowan di Banten.

Serangan yang dipimpin oleh Maulana Yusuf ini menjadi aksi simbolis yang sesuai dengan budaya di jaman itu, yakni pemboyongan singgasana baru dimaksudkan agar Kerajaan Pajajaran tidak bisa melantik raja baru.

Lantas diangkatlah Maulana Yusuf sebagai penguasa Sunda, lantaran memang ia memiliki silisalah langsung dengan Sri Baduga Maharaja sebaga canggahnya dan tentunya mengalir darah Sunda dalam tubuhnya.

Kerajaan Pajajaran memiliki sejarah unik yang tak lazim pada masa itu soal perang.

Alih-alih memilih jalan perang, untuk menyeleseikan masalah antar kerajaan, Kerajaan Pajajaran selalu berusaha menempuh jalan damai.

Mungkin peristiwa Perang Bubut yang membuat tanah Sunda hancur berantakan memberikan trauma tersendiri, bahwasannya jalan perang mesti dihindari.

Berakhirnya riwayat Kerajaan Pajajaran menandai berakhirnya pula pengaruh Agama Hindu di tanah Suda, dan menjadi tonggak sejarah baru masuknya pengaruh Agama Islam.

Konon para abdi istana akhirnya melarikan diri ke Lebak, Banten dan para keturunannya ini sekarang kita kenal sebagai Suku Badui.

Peninggalan Kerajaan Pajajaran

kerajaan pajajaran bercorak hindu budha
Image source: www.tripadvisor.com

Secara geografis, Kerajaan Pajajaran berada di tanah Parahyangan atau Tanah Sunda.

Dalam catatan Tom Peres tahun 1513 Masehi yang ditulis dalam “The Suma Oriantal”, disebutkan Pakuan adalah ibukota Kerajaan Pajajaran.

Dalam Bahasa Sunda, Pakuan asal katanya adalah Pakuwuan, yang artinya “kota”.

Dia juga menjelaskan bahwa ibukota Kerajaan Pajajaran yang juga disebut Dayo (Dayeuh) itu jika dihitung dari Sunda Kelapa (Jakarta) jauhnya bisa ditempuh selama dua hari perjalanan.

Kerajaan yang berkembang sejak abah 8 Masehi hingga 16 Masehi ini juga memiliki banyak penginggalan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Prasasti Cikapundung

Prasasti Cikapundung berisi tulisan berbahasa Sundo kuno yang berdasarkan penelitian kira-kira salnya dari abad ke-14.

Dalam prassti yang ditemukan di Sungai Cikapundung ini, juga terdapat beberapa gambar telapak kaki, telapak tangan, dan wajah.

Adapaun kalimat yang tertulis dalam prasasti yang ditemukan tanggal 8 Oktober 2010 ini adalah “unggal jagat jalmah hendap” yang maknanya adalah manusia di dunia ini bisa mengalami sesuatu apapun.

Prasasti ini diteliti oleh seoarng a

2. Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh tergolong sebagai prasasti yang telat diteliti oleh para arkeolog.

Pasalnya, keberadaan prasasti ini sebenarnya sudah banyak diketahui oleh masyarakat sekitar.

Namun, para ahli tersebut baru mulai melakukan penelitian pada tahun 1991, tepatnya di bulan September.

Prasasti ini terletak tepat di tengah sawah Kampung Huludayeuh, yang juga berada dalam area Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber, Cirebon.

Sayangnya kondisi prasasti ini sudah tidak utuh lagi.

Beberapa aksara yang tertulis di batu ini sudah mulai hilang,

Prasasti ini ditulis menggunakan Bahasa Sunda Kuno yang terdiri dari sebelas baris tulisan aksara.

Sebagian tulisan yang ada di batu tersebut hilang karena termakan usia.

Namun begitu, prasasti ini konon menceritakan kebijakan-kebijakan Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata untuk memakmurkan rakyatnya.

3. Prasasti Pasir Datar

Prasasti Pasir Datar merupakan prasasti yang terbuat dari batu alam yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Mengenai isinya, prasasti yang dulunya ditemukan di tengah-tengah perkebunan kopi ini, sampai sekarang belum bisa ditranskripsikan.

Sebab, prasasti yang ditemukan pada tahun 1872 di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi ini, belum bisa diterjemahkan aksaranya.

4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis

Prasasti Perjanjian Sunda Portugis dibuat antara Kerajaan Pajajaran dengan Enrique Leme sebagai wakil dari Kerajaan Portugis.

Saat itu Enrique Leme datang menemui Sang Hyang Surawisesa sambil membawa sejumlah barang yang dipersembahkan kepada pangeran yang memimpin utusan raja Pajajaran tersebut.

Prasasti yang berbentuk tugu batu ini dibuat di atas tenah tempat benteng pertahanan dan pergudangan orang-orang Portugis.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1918.

Saat itu, tengah dilakukan penggalian untuk membangun gedung baru di sudut Prinsenstraat atau yang sekarang menjadi jalan Cengkeh dan Groenestraat.

Daerah ini sekarang sudah menjadi jalan Kali Besar Timur I.

Kedua wilayah itu sekarang masuk dalam wilayah administrasi Jakarta Barat.

Untuk dapat melihat replika Prasasti Perjanjian Sunda Portugis ini, replikanya ada di Museum Sejarah Jakarta.

5. Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu ditemukan di Ulubelu yang merupakan wilayah Provinsi Lampung, yang tepatnya ditemukan di Desa Rabangpunggung, Kotaagung pada tahun 1936.

Walau ditemukan di Lampung, prasasti ini disinyalir merupakan penginggalan Pajajaran dari abad ke-15.

Dugaan ini besar kemungkinannya karena aksara yang dipakai dalam prasasti tersebut memakai aksara Sunda Kuno.

Kesimpulan ini diperkuat dari sejarah yang memang Lampung, di Sumatera Selatan, dulunya masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Pasca keruntuhan Kerajaan Pajajaran, wilayah ini di bawah kekuasaan Kesultanan Banten.

Aksara yang tertulis di atas prasasti ini berupa mantra yang ditujukan kepada Batara Guru (Siwa), Wisnu, dan Brahma, yang merupakan Dewa Utama, serta dewa penguasa pohon, air, dan tanah untuk memohon pertolongan supaya selalu diberi keselamatan dari segala mara bahaya dan serangan musuh.

6. Situs Karangmulyan

Peninggalan ini letaknya ada di Ciamis, Jawa Barat.

Tepatnya ada di  Desa Karangmulyan yang areanya seluas 25 Ha.

Di area seluas ini banyak terdapat benda-benda peninggalan Kerajaan Galuh yang kebanyakan adalah tumpukan batu.

Batu-batu tersebut oleh masyarakat setempat diberi nama-nama yang berbeda.

Nama tersebut didasarkan pada kisah-kisah seputar Kerajaan Galuh misalnya pangcalikan atau tempat duduk, tempat peribadatan, tempat persalinan, tempat sabung, dan cikahuripan.

7. Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Kebon Kopi II merupakan Kerajaan SUnda Galuh yang hilang karena adanya pencurian benda berharga ini pada tahun 1940-an.

Prasasti Kebon Kopi II ditemukan di dekat Prasasti Kebon Kopi I yang merupakan prasasti milik Kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Kebon Kopi II yang juga dikenal dengan nama Prasasti Pasir Muara sempat dipelajari oleh seorang pakar yang namanya adalah F.D>K. Bosch.

Menurut dia, parasati ini bercerita tentang keberadaan Raja Sunda yang bertahta kembali.

Tulisannya memakai aksara bahasa Melayu Kuno, dan tertuliskan tahun kejadiannya tahun 932 Masehi.

Prasasti ini ditemukan pada abad ke-19 saat dilaksanakan pembukaan hutan karena adanya perluasan lahan kebun kopi di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat.

Prasasti Kebon Kopi II ditemukan tidak jauh dari lokaso Prasasti Kebon Kopi I atau Prasasti Tapak Gajah, sekitar 1 km saja.

8. Prasasti Batutulis

Penelitian terhadap Prasasti Batutulis diadakan sejak tahun 1806 oleh Universita Leiden di Belanda.

Hingga tahun 1921 sudah ada 4 peneliti yang melakukan riset terhadap Prasasti Batutulis.

Publikasi hasil riset pertama terjadi pada tahun 1853 oleh Friederich.

Dari semua penelitian itu, cuma Cornelis Marinus Pleyte yang mengulas lebih dalam tentang lokasi Pakuan, sedangkan 3 peneliti yang lain lebih banyak mempublikasikan terjemahan dari isi prasasti.

Hasil riset Pleyte ini dibuka ke publik pada tahun 1911 dengan menyebutkan Het Jaartal op en Batoe-Toelis nabij Buitenzorg yang apabila diterjemahkan menjadi angka tahun pada Batutulis dekat Bogor.

Dalam publikasinya, Pleyte menjelaskan, “Waar alle legenden, zoowel als de meer geloofwaardige historische berichten, het huidige dorpje Batoe-Toelis, als plaats waar eenmal Padjadjaran’s koningsburcht stond, aanwijzen, kwam het er aleen nog op aan. Naar eenige preciseering in deze te trachten”, yang artinya “Dalam legenda dan juga berita sejarah yang lebih dipercaya, Kampung Batutulis menjadi tempat Puri Kerajaan Pajajaran dan masalah yang ditimbulkan hanya dengan menelusuri letak yang benar”.

Pleyte menambahkan kalau kata “puri” dalam prasasti tersebut mirip dengan Kota Kerajaan.

Sementara, kadatunan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan merupakan kota.

Dalam Babad Pajajaran juga dijelaskan bahwa Pakuan terbagi menjadi dua bagian, yakni Kota Dalam yang disebut dengan Dalem Kitha (Jero Kuta) dan kota luar yang disebut sebagai Jawi Kitha (Luar Kuta).

Yang menarik, Pleyte juga menyebutkan bahwa di dalam Jero Kuto ada sebuah benteng yang sekarang lokasinya ada di daerah Sukasari, lebih tepatnya di pertemuan Jalan Siliwangi dan Jalan Batutulis.

Dia juga menduga pusat keraton juga berada di Batutulis.

Peneliti Adolf Winkler juga memberi laporan bahwa di Batutulis terdapat lantai berbatu yang memiliki struktur yang sangat rapi.

Menurut penjelasan orang yang mendampinginya, itulah lokasi istana Kerajaan Pajajaran.

Di lokasi itu ada 7 pohon beringin yang jika diukur dari lantai hingga paseban tua.

Tetapi meskipun banyak penelitian dilakukan, sebenarnya lokasi pasti istana Kerajaan Pajajaran masih menjadi mesteri sampai saat ini.

Mengenai isi dari Prasasti Batutulis ini, yakni sebagai berikut.

  • Wangna pun ini sakakala, prebu ratu putune pun,
  • diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
  • di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata
  • pun ya nu nyusuk na pakwan
  • diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang
  • ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi

Artinya :

  • Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum
  • Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana
  • dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata
  • Dialah yang membuat (parit) pertahanan Pakuan
  • Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Nsikala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
  • Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”.

9. Naskah Kuno

Banyak juga naskah-naskah kuno yang ditemukan berkaitan sejarah Kerajaan Pajajaran, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Naskah Babad Pajajaran.
  • Carita Parahiangan.
  • Carita Waruga Guru.
  • Kitab cerita Kidung Sundayana.
  • Berita asing dari Tome Pires (1513).
  • Berita asing dari Pigafetta (1522).

***

Nah itulah tadi sejarah Kerajaan Pajajaran lengkap dari sejarah, asal-susul, silsilah kerajaan, letak kerjaaan, masa kejayaan, keruntuhan, dan sisa-sisa peniggalan Kerjaan Pajajaran yang bisa kamu pelajari.

Kerajaan Pajajaran memiliki arti penting bagi sejarah bangsa Indonesia, utamanya untuk kawasan Jawa Barat, karena memang sampai saat sekarang pun Kerajaan Pajajaran masih begitu lekat sejarahnya dengan Suku Sunda.

Jika kamu ada pertanyaan atau pengetahuan lain terkait Kerajaan Pajajaran, kamu bisa menuliskannya di kolom kemontar di bawah ini.

jangan lupa comment dan share juga, ya.

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar