Kerajaan Singasari

Jaman Prasejarah Indonesia turut ditandai dengan adanya Kerajaan Singasari.

Kerajaan Singasari terletak di daerah Jawa Timur dekat Kota Malang.

Pada masanya, Kerajaan Singasari ini menjadi tonggak kejayaan yang cukup besar.

Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu Budha yang bisa menguasai sebagian wilayah Indonesia.

Namun sebagai kerajaan Hindu Budha, kerajana ini tidak berumur panjang.

Sejumlah pemberontakan dilakukan baik dari dalam kerajaan mau pun dari pihak luar.

Kerajaan Singasari juga menjadi penghubung Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya.

Sejarah Kerajaan Singasari

kerajaan singasari ekonomi
Image source: www.kebudayaan.kemdikbud.go.id

Kerajaan Singasari tak bisa lepas dari nama Ken Arok berdasarkan Kitab Paraton.

Dalam isian kitab tersebut, Ken Arok turut menjadi sejarah berdirinya Kerajaan Singasari pada tahun 1222 M.

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Singasari

kerajaan singasari kehidupan ekonomi
Image source: www.ugm.ac.id

Awal mula Kerajaan Singasari muncul di bawah Kerajaan Kediri.

Ken Arok pada awalnya merupakan seorang pelayan dari Akuwu (sekarang seperti Bupati) Tumapel bernama Tunggul Ametung.

Ken Arok memiliki ambisi tinggi untuk menguasai kerajaan saat itu.

Selain itu Ken Arok juga terpesona dengan kecantikan istri Tunggul Ametung karena bujukan dari gurunya bahwa memersunting istri Tunggul Ametung bisa membuat Ken Arok menjadi raja yang berkuasa.

Ia pun membunuh Tunggul Ametung dan meminang istrinya, Ken Dedes.

Tunggul Ametung dibunuh Ken Arok dengan sebilah keris buatan Mpu Gandring.

Saat itu keris buatan Mpu Gandring belum sempurna, namun Ken Arok sudah tak sabar untuk meminang Ken Dedes.

Saking tak sabarnya, Ken Arok pun segera merebut keris dari Mpu Gandring.

Bak senjata makan tuan, Mpu Gandring turut dibunuh oleh Ken Arok dengan keris buatannya tersebut.

Mpu Gandring pun memberikan kutukan dengan mengatakan keris tersebut bisa membunuh Ken Arok sampai tujuh turunan.

Setelah kejadian tersebut, Ken Arok pun mengumumkan dirinya sebagai pemimpin Tumapel yang merupakan salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Kediri, saat itu dipimpin oleh Raja Ketarjaya alias Dadang Gendis.

Pada rakyatnya ia mengaku bahwa dirinya merupakan jelamaan dari Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Ken Arok lalu menyiapkan rencana untuk memberontak di waktu yang tepat.

Raja Kerajaan Kediri pun akhirnya melancarkan serangan dengan kaum Brahmana.

Peperangan tersebut terjadi pada 1254 yang mana kaum Brahmana sengaja bergabung dengan Ken Arok.

Persengkokolan ini tidak lain untuk memenuhi hasrat Ken Arok yang saat itu dicalonkan sebagai raja pertama di Tumapel.

Setelah menjadi raja, Ken Arok pun mendapat gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Perang pun meletus antara Tumapel dan Kerajaan Kediri di Desa Ganter.

Dari peperangan tersebut, Tumapel berhasil menduduki Kerajaan Kediri.

Namun pada prasasti Mula Malurung yang ditulis  di tahun 1255 disebutkan jika pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bathara Siwa, begitu isi tulisan Kertanegara.

Bathara Siwa memiliki gelar Anumerta dari Ranggah Rajasa.

Hal senada juga disebutkan Nagarakretagama bahwa Kerajaan Tumapel tidak didirikan oleh Ken Arok.

Hal ini kemungkinan selaras dengan Nagarakretagama. Arwah pendiri Kerajaan Tumapel dipuja sebagai Siwa.

Ada juga versi lain menyebutkan bahwa Ken Arok sebenarnya tertulis sebagai pendiri Kerajaan Tumapel.

Namun ia sempat mengatakan bahwa dirinya jelmaan dari Siwa.

Sedangkan dalam prasasti yang berbeda, Kudadu menuliskan jika nama asli dari Kerajaan Singasari adalah Kerajaan Tumapel.

Pada tahun 1222 Kerajaan Singasari memiliki ibu kota bernama Kutaraja.

Nama tersebut tak berlangsung lama dan kemudian diganti menjadi Singhasari pada 1254 ketika Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya, Kertanegara sebagai Yuwaraja.

Namun nama Singhasari tak terkenal dan justru terkenal dengan Tumapel, sehingga Kerajaan Tumapel.

Letak Kerajaan Singasari

kerajaan singasari brainly
Image source: www.ilmudasar.com

Penelitian terkait letak Kerajaan Singasari dilakukan semasa pemerintahan kolonial Belanja.

Penelitan tersebut sempat simpang siur karena setelah Singasari runtuh kemudian langsung dilanjutkan ke Kerajaan Majapahit.

Peninggalan Singasari terlihat dari beberapa candi seperti Candi Singosari, Candi Jago, Candi Kidal, dab beberapa Candi lainnya.

Meski letak Kerajaan Singasari sendiri masih belum jelas tepatnya.

Sebuah penelitian mngatakan Istana Kerajaan Singasari berada di dua wilayah.

Yang pertama semasa Raja Ken Arok hungga Raja Wisnuwardhana.

Sementara Istana yang kedua dipindahkan ke wilayah yang lebih besar.

Istana pertama terletak di wilayah yang disebut Muharto yang dulu disebut sebagai ibu kota Singasari.

Di Muharto, ada pertemuan Sungai Brantas dan Sungai Bango serta berdasarkan catatan ada benteng yang membentang sepanjang 1mil.

Di lokasi tersebut juga pernah ditemukan Arca Dwarapala yang merupakan simbol penjaga Istana Kerajaan Singasari.

Sementara lokasi kedua yakni berada di sebelah timur dari jalan Surabaya-Malang.

Temuan itu diperkuat dengan adanya Arca Dwarapala yang masih ada hingga kini.

Sementara istananya sendiri diperkirakan berada di Dusun Kadipaten, Desa Candirenggo.

Di daerah sana terdapat banyak sisa kerajaan, pemukiman kuno, dan empat buah candi yang berukuran kecil.

Riwayat Ken Arok

kerajaan singasari bercorak
Image source: www.boombastis.com

Kerajaan Singasari tak bisa dipisahkan dari sosok Ken Arok.

Ken Arok merupakan anak dari Ken Ndok, seorang perempuan yang berasal dari Desa Pangkur.

Ken Ndok dipersunting oleh Resi Yogiswara.

Pernikahan keduanya tidak bahagia karena selama 10 tahun Ken Ndok tidak pernah disentuh oleh sang suami.

Ken Ndok yang tidak mendapatkan nafkah batin dari suaminya pun bertemu dengan Gajah Para.

Ken Ndok menganggap Gajah Para lebih mencintainya dibanding Resi Yogiswara.

Percintaan antara Ken Ndok dan Gajah Para pun terjalin hingga akhirnya Ken Ndok memiliki anak dari Gajah Para.

Namun, Gajah Para tidak siap dengan kehamilan Ken Ndok di samping ia masih menjadi istri Resi Yogiswara.

Gajah Para akhirnya meninggalkan Ken Ndok dalam keadaan hamil.

Sementara Ken Ndok merasa bersalah karena telah mengkhianati suaminya.

Ia juga tak mungkin mengaku hamil karena selama ini ia tak pernah disentuh oleh Resi Yogiswara.

Ken Ndok pilih pergi meninggalkan Resi Yogiswara dengan membawa janin yang ia kandung.

Setelah janin tersebut lahir, Ken Ndok enggan merawatnya.

Ia meninggalkan anaknya di sebuah komplek pemakaman.

Saat berada di komplek pemakaman, bayi tersebut ditemukan oleh Ki Lembong.

Ia pun mengasuh bayi yang ditemukan di pemakaman tersebut dengan memberi nama Temon.

Menjadi anak dari Ki Lembong, Temon tumbuh jadi pemuda yang kuat dan gagah berani.

Namun Ki Lembong merupakan seorang perampok, tak ayal Temon pun mengikuti jejak pengasuhnya dengan iktu menjadi perampok.

Bahkan Ki Lembong kerap mengajak Temon untuk merampok bersama.

Lambat laun Ki Lembong sadar bahwa Temon tak seharusnya berada terus bersamanya.

Ki Lembong beranggapan bahwa Temon akan menjadi lelaki yang lebih baik jika tak terus ikut bersamanya.

Temon pun dilepas oleh Ki Lembong untuk memilih jalan hidupnya.

Awalnya Temon enggan meninggalkan Ki Lembong.

Namun ia sadar ia tak seharusnya terus merepotkan ayah angkatnya itu.

Temon akhirnya meninggalkan rumah Ki Lembong dengan tanpa arah dan tujuan dan singgah ke desa Wanua.

Di sana ia bertemu dengan Bango Samparan yang dikenal sebagai penjudi.

Temon pun diangkat anak oleh Bango Samparan dan diganti nama menjadi Ken Arok.

Menurut Bango Samparan, nama Ken Arok lebih gagah dan cocok untuk Temon yang pemberani.

Bak keluar dari mulut macan dan masuk mulut singa, Ken Arok berhenti jadi perampok dan malah menjadi penjudi.

Selain itu aksi Ken Arok juga mengundang kegaduhan.

Selain itu Ken Arok juga membuat cemburu kelima anak kandung Bango Samparan hingga akhirnya Ken Arok memutuskan untuk kembali berkelana.

Ia lalu bertemu dengan Tita, anak kepala desa yang ramah dan memutuskan untuk menampung Ken Arok bersama kepala desa, Ki Sahaja.

Ki Sahaja memiliki padepokan dan meminta Ken Arok untuk belajar.

Namun bukan menjadi baik, Ken Arok justru tambah lihai dalam berbuat kejahatan hingga memiliki komplotan penjahat sendiri.

Di padepokan tersebut Ken Arok juga bertemu dengan Ken Umang dan menikahinya.

Bersama Ken Umang, Ken Arok semakin beringas melakukan aksinya.

Penjalanan semakin panjang, Ken Arok pun bertemu dengan orang-orang baru salah satunya adalah Mpu Palot yang merupakan pemilik padepokan Tantripala.

Dari padepokan tersebutlah Ken Arok mulai bertemu dengan Dan Hyang Lohgawe yang berasal dari Jambudwipa.

Saat itu Ken Arok dikatakan oleh Dan Hyang Lohgawe akan menyatukan kaum Brahmana untuk melawan Kertajaya.

Atas saran Lohgawe, Ken Arok pun bersedia menjadi musuk Kerajaan Kertajaya dengan bergabung ke Kerajaan Tumapel.

Saat itu Kerajaan Tumapel berada di bawah kekuasaan Tunggul Ametung.

Saat menjadi anak buah Tunggul Ametung, Ken Arok terpesona dengan kecantikan istri Tunggul Ametung, Ken Dedes.

Dikisahkan Ken Dedes merupakan wanita tercantik saat itu dan untuk mendapatkanya harus melalui ‘tumpah darah’.

Hal itu kemudian juga terjadi pada Ken Arok.

Bahkan saking cantiknya, Ken Arok tak bisa tidur memikirkan pesona Ken Dedes.

Ditambah lagi dengan pernyataan Lohgawe jika Ken Arok bisa mempersunting Ken Dedes maka ia akan menjadi raja yang hebat.

Ken Arok pun berniat membunuh Tunggul Ametung dengan keris dari Mpu Gandring yang saat itu belum sempurna betul.

Saat berhasil mempersunting Ken Dedes yang sedang hamil 3 bulan atas pernikahannya dengan Tunggul Ametung.

Menurut cerita Pararaton, Ken Arok yang berhasil mengambil alih Kerajaan Tumapel dari Tunggul Ametung pun juga sukses menjadi suami Ken Dedes.

Kerajaan Singasari pun juga mencapai kejayaan di bawah kuasa Ken Arok.

Ia berhasil menarik Kaum Brahmana untuk bergabung di Tumapel.

Kaum Brahmana membuat para pendeta bergabung pula ke Tumapel dan memperkuat kerajaan.

Namun masa kepemimpinan Ken Arok hanya bertahan 5 tahun.

Anak dari Ken Dedes dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati merasa ada yang aneh karena dirinya yang diperlakukan beda dari anak-anak Ken Arok yang lain.

Ken Dedes lalu bercerita bahwa Anusapati bukanlah anak dari Ken Arok.

Amarah dari Anusapati pun memuncak saat mengetahui hal itu hingga ia meminta seseorang untuk membunuh Ken Arok.

Ken Arok dibunuh menggunakan keris Mpu Gandring bekas Tunggul Ametung.

Silsilah Kerajaan Singasari

kerajaan singasari sumber sejarah
Image source: www.yuksinau.id

Ada dua versi yang menyebut Kerajaan Singasai alias Tumapel yakni versi Pararaton dan versi Negarakertagama.

Dari Prasasti Kadudu ditemukan sislsilah versi Pararaton.

Di sini Ken Arok dikisahkan sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Versi kedua ada dari Negarakertagama yang menyebutkan jika Rangga Rajasa Sang Girinathaputralah pendiri Singasari.

Berikut ini silsilah Kerajaan Singasari versi Pararaton

1. A. Ken Arok (1222–1227)

Adalah pendiri sekaligus Raja Singasari pertama yang memiliki gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwahbumi.

Ken Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung namun hanya menjabat lima tahun.

Ken Arok memiliki peranan untuk mengumpulkan Kaum Brahmana yang sempat menolak untuk merapat ke Singasari.

2. Anusapati (1227–1248)

Anusapati menjadi raja setelah membunuh Ken Arok.

Ia juga menjadi raja dengan kepemimpinan yang lama.

Namun ia tak banyak memberikan peranan untuk Kerajaan Singasari karena kesibukan menyabung ayam.

Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga.

Begitulah nasib yang akhirnya diterima Anusapati.

Putra Ken Arok, Tohjoyo akhirnya mengetahui otak di balik kematian sang ayah.

Rencana buruk pun mulai dirancang.

Tak tinggal diam, Tohjoyo pun segera membuat siasat untuk menjebak Anusapati.

Setelah tau jika Anusapati gemar adu ayam, Tohjoyo pun lantas mengundangnya untuk menyabung ayam di Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo).

Anusapati pun mengiyakan ajakan tersebut tanpa rasa curiga.

Saat Anuspati terbuai dengan ayamnya Tohjoyo lalu menyabut keris buatan Empu Gandring dan lantas menusukannya ke Anusapati.

3. Raja Tohjoyo (1248)

Setelah Anusapati meninggal, kedudukan Raja Singasari diambil alih oleh Tohjoyo.

Tohjoyo memiliki selirnya bernama Ken Umang.

Sayangnya, masa pemerintahan Tohjoyo tak berlangsung lama.

Lagi-lagi pembalasan dendam terjadi.

Anak Anusapati yang bernama Ranggawuni juga tak tinggal diam mendengar ayahnya mati di tangan Tohjoyo.

Ranggawuni kemudian berusaha membalas kematian ayahnya.

Tidak sendiri, Mahesa Cempaka dan para pengikutnya ikut membantu Ranggawuni melancarkan balas dendamnya.

Melihat kejanggalan itu, Tohjoyo kamudian mengirimkan pasukan untuk menangkap Ranggawuni dan dan Mahesa Cempaka.

Berita penangkapan ternyata lebih dulu tercium Ranggawuni dan Mahesa Cempaka.

Belum sempat datang pasukan Tohjoyo, Ranggawuni dan Mahesa Cempaka buru-buru melarikan diri hingga akhirnya tahta Kerajaan Singasari diambil alih Ranggawuni.

4. Ranggawuni (1248–1268)

Setelah era Tohjoyo, Ranggawuni menjadi pemimpin Kerajaan Singasari sejak 1248.

Raja Singasari ini mendapat gelar Sri Jaya Wisnuwardhana.

Ia memerintah Kerajaan Singasari dibantu oleh Mahesa Cempaka.

Sri Jaya Wisnuwardha berhasil membangun kesejahteraan dan kemakmuran Kerajaan Singasari.

Mahesa Cempaka yang turut membantu Wisnuwardhana mendapat kedudukan sebagai Ratu Angabhaya yang diberi gelar Narasinghamurti.

Tak lama-lama, putra Wisnuwardhana pun diangkat sebagai raja muda di tahun 1254.

Ini adalah langkah sersiapan kelak Kertanegara menajadi Raja SIngasari usai ayahnya meinggal.

5. Kertanegara (1268–-1292)

Putra dari Wisnuwardhana ini adalah raja terakhir di Singasari.

Kartanegara semakin dikenal sejak berkeinginan untuk menyatukan seluruh Nusantara.

Setelah ayahnya meninggal ia lantas diberi gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara.

mahamentriihino, mahamentriihalu, dan mahamenteriisirikan adalah tiga menteri yang membantu keberlangsungan Kerajaan Singasari di bawah kepemimpinan Kertanagara.

Stabilitasi Kerajaan Singasari pun semakin makmur.

Berikut ini silsilah Kerajaan Singasari versi Negarakertagama

  1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222-1227),
  2. Anusapati (1227-1248),
  3. Wisnuwardhana (1248-1254)
  4. Kertanegara (1254-1292).

Masa Kejayaan Singasari

kerajaan singasari agama apa
Image source: www.kebudayaan.kemdikbud.go.id

Saat dipimpin oleh Anusapati, Kerajaan Singasari belum tersohor.

Singasari baru didengar setelah dipimpin oleh Kertanegara.

Banyak hal yang dilakukan oleh Kertanegara seperti halnya mengadakan ekspedisi pamalayu.

Kesuksesan ekspedisi pamalayu ini ditandai dengan keberhasilan mereka menundukkan kerajaan-kerajaan di luar pulau Jawa.

Arca Amoghapasa merupakan bentuk kesuksesan ekspedisi menaklukkan kerajaan.

Ada hubungan yang tersirat dalam arca tersebut antara Kertanegara di Jawa dan Dharmasraya di pulau Sumatera.

Keduanya sama-sama punya andil besar menolak masuknya Kerajaan Mongol.

Singasari semakin berjaya tatkala berhasil melakukan ekspansi ke Bali, Sumatera, Kalimantan, dan wilayah Indonesia bagian Timur.

Hal ini seperti ditulis pada Kitab Nagarekertagama.

Selain itu, Kerajaan Singasari juga berhasil menaklukkan pulau-pulau kecil yang ada di Nusantara.

Benar saja, Raja Kertanegara saat itu menjunjung tinggi ideologi untuk tak tunduk pada kaisar Tiongkok.

Kaisar Kubilai Khan, sang kaisar Tiongkok saat itu dikenal haus akan kekuasaan.

Ia tas segan-segan meminta seisi Jawa untuk tunduk di bawah dinastinya.

Namun tidak dengan Singasari.

Kerajaan Singasari tak gentar dan jadi kerajaan yang sukses menolak keinginan kaisar Tiongkok pada 1280-an.

Sejak itu Raja Kertanegara dikenal sebagai penggagas perlawanan terhadap Tiongkok.

Tak sendiri, Kertanegara turut serta mengajak raja-raja lain di luar Jawa untuk menghentikan aksi Kubilai Khan.

Raja Kertanegara segera melakukan perubahan dan merancang hubungan internasional hingga ke Kamboja.

Mewadahi hal itu, ada satu wilayah di Jawa yang sengaja Ia siapkan untuk perlindungan bagi kerajaan yang diserang bangsa Mongol.

Bidang Politik

kerajaan singasari adalah kerajaan yang bercorak
Image source: www.toriolo.com

Politik Dalam Negeri

  • Mengadakan pergantian pejabat kerajaan dan pembantu raja seperti Mahapatih.
  • Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang kompak.
  • Menciptakan keamanan dan melakukan politik perkawinan demi kerukunan politik.
  • Berbuat baik pada lawan politik seperti mengangkat anak dari lawan politik.
  • Memperkuat angakatan perang untuk masuknya kerajaan asing yang bertujuan menguasai Nusantara

Politik Luar Negeri

  • Menggalang ekspedisi tentara Pamalayu ke Kerajaan Melayu yang bertujuan untuk melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya
  • Mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang untuk menguasai kerajaan yang ada di sana.
  • Melakukan kerjasama dengan kerajaan lain.

Bidang Ekonomi

ibukota kerajaan singasari
Image source: www.sigitantik.blogspot.com

Tidak banyak bukti sejarah yang bisa menjelaskan kegiatan ekonomi Kerajaan Singasari.

Tapi berdasarkan analisa sejarawan, kemungkinan besar rakyat Kerajaan Singasari menggantungkan hidupnya melalui sektor pertanian.

Ini bisa dilihat dari letak kerajaan Singasari yang terlentak di Lembah Sungai Brantas.

Analisa ini juga didukung oleh fakta perluasan wilayah yang dilakukan oleh Raja Kertanegara ke wilayah-wilayah yang strategis dalam jalur lalu lintas perdagangan guna menjual hasil buminya.

Sungai Brantas juga diyakini memberi peran strategis untuk perekonomian dan hubungan Kerajaan Singasari dengan bangsa asing.

Bidang Kebudayaan

agama kerajaan singasari
Image source: pesona.travel

Banyak candi yang ditinggalkan oleh Kerajaan Singasari dari jaman kekuasananya.

Selain itu ada pula patung yang dibangun. Sebut saja Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Singasari.

Dan satu lagi, patung Ken Dedes.

Patung tersebut dilambangkan sebagai bentuk kesempurnaan ilmu.

Sementara patung Raja Kertanegara ditemukan dalam bentuk Joko Dolok dan Amoghapasa.

Dalam patungter sebutlah diketahui jika Raja Kertanegara berkeyakinan Budha dan berarilan Tantrayana.

Kehidupan Beragama

kerajaan singasari bercorak agama apa
Image source: www.pegipegi.com

Pada masa Raja Kertanegara terjadi paham perpaduan antara agam Hindu dan Budha yang membentuk Syiwa Budha.

Dari sana berkembang aliran Tantrayana.

Hal tersebut juga diperkuat dengan patung Kertanegara yang menganut aliran Tantrayana.

Sistem Pemerintahan yang Dianut

kerajaan singosari candi
Image source: www.tirto.id

Kerajaan Singasari menganut sistem pemerintahan monarki di mana dipimpin oleh satu raja.

Raja dalam Kerajaan Singasari tidak dapat terganti kecuali sang raja meninggal dunia.

Sementara pemerintahan paling lama dipegang oleh Raja Kertanegara.

Masa Keruntuhan Kerajaan Singasari

corak kerajaan singasari
Image source: www.sindonews.net

Berdirinya Kerajaan Singasari bisa dibilang singkat dibanding kerajaan yang ada.

Hal ini dikarenakan lemahnya sistem pertahananan yang dimiliki kerajaan.

Kertanegara malah terlalu fokus pada pertahanan di luar kerajaan, hingga akhirnya dia mendapatkan pemberontakan besar-besaran..

Seperti saat ekspedisi Pamalayu, Kertanegara banyak mengirimkan pasukan dalam jumlah besar.

Ketika semua pasukan keluar pemberontak justru masuk dan mengacaukan Kerajaan Singasari.

Pemberontakan saat itu dilakukan oleh Jayakatwang.

Padahal Jayakatwang merupakan pelaku politik perkawinan dengan anak Raja Kertanegara.

Putri Kertanegara, Dyah Wijaya dinikahkan dengan Ardharaja putra Jayakatwang.

Mulanya pernikahan mereka dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan dan menjaga kestabilan politik.

Dalam kebijakan politik lainnya, Kertanegara pun mengadakan kerjasama antar kerajaan lain.

Sebut saja Campa.

Ekspedisi pamalayu sendiri diadakan untuk menghalang bangsa Mongol dari Dinasti Yuan yang saat itu mereka berhasil melakukan ekspansi hingga Kora, Rusia, Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Jawa dan Jepang menjadi tujuan ekspansi dari Dinasti Yuan berikutnya sehingga ekspansi Pamalayu disiapkan untuk mengadang armada mereka masuk ke perairan Jawa dan Nusantara.

Saat itu Pamalayu mengirimkan pasukan ke Sumatera pada tahun 1275 dengan pimpinan di bawah Kebo Anabrang.

Kertanegara pun berhasil menduduki Bali dan membawa serta rajanya sebagai tahanan pada 1284. Berlanjut pada keberhasilan kerajaan di Sumatera.

Di tahun 1289, duta dari Beijing (Kubilai Khan) pun datang.

Saat itu Kubilai Khan meminta Kertanegara tunduk padanya. Kertanegara sempat tergoyahkan kepemimpinannya.

Tiga tahun kemudian, Kerajaan Singasari kembali digoyahkan dengan pemberontakan Jayakatwang yang juga didukung oleh menantu Kertanegara Raden Wijaya.

Dalam serangan Jayakatwang, Kertanegara dibunuh. Kerajaan Singasari pun runtuh sementara Jayatwang menjadi raja dengan membangun ibu kota baru di Kediri.

Hubungan dengan Majapahit

cerita kerajaan singasari singkat
Image source: www.majapahit1478.blogspot.com

Saat terjadi pemberontakan oleh Jayakatwang, Raden Wijaya melarikan diri.

Dalam Prasasti Kudadu, saat pemberontakan Raden Wijaya berhasil kabur dan lolos dari maut.

Seorang Bupati Madura bernama Arya Wiraraja dengan besar hari memberinya perlindungan.

Kemudian Mogol dan Kaisar Kubilai Khan mendapatkan bantuan dari Raden Wijaya.

Dendam yang mengantarnya bergabung dengan Tiongkok.

Ternyata Kubilai Khan merasa dihina oleh Kertanegara yang saat itu tak mau tunduk pada Kubilai Khan.

Raden Wijaya pun tutup mulut atas kematian mertuanya, ia sama sekali tak menyebutkan alasannya ikut memberontak.

Raden Wijaya dibantu pasukan Kubilai Khan pun lantas menyerang Singasari dan Jayakatwang. Jayakarwang tewas dalam peperangan.

Usai pemberontakan ini Kerajaan Singasari pun lenyap.

Pemerintahan berakhir dan digantikan oleh Raden Wijaya.

Setelah Singasari tinggal nama, Raden Wijaya lantas pergi ke daerah baru dan mendirikan kekuasaan lagi.

Tapi apa yang selanjutnya terjadi pada Kubilai Khan?

Setelah kemenangan atas pemberontakan Singasari, mereka terlalu terbuai hingga melupakan asal usul Raden Wijaya.

Serangan pun berbalik.

Raden Wijaya dan pasukannya mulai memukul mundur Mongol hingga membuat mereka kembali ke wilayah asalnya.

Sejak saat itu, Raden Wijaya memulai pemerintahan baru dengan mendirikan Kerajaan Majapahit.

Nama Raden Wijaya pun menjadi pendiri Kerajaan Majapahit berdasarkan kitab Pararaton.

Dalam pemerintahannya, Raden Wijaya mengangkat para pengikut setianya dalam perjuangan.

Patih Majapahit diisi oleh Nambi, ada Lembu Sora sebagai Patih Daha, hingga Ranggalawe sebagai Pasangguhan.

Bukti Peninggalan Kerajaan Singasari

kerajaan singasari mengirim ekspedisi pamalayu tahun 1275 dibawah pemerintahan
Image source: www.reresepan.com

Kerajaan Singasari memiliki beberapa peninggalan kuno, di antara adalah Candi Singasari, Candi Sumberawan, Candi Jago, Candi Jawi, Prasasti Mula Malurung, Prasasti Singosari, Prasasti Wurane dan Arca Dwarapala.

Candi Singasari

kerajaan singasari dan peninggalannya
Image source: www.wisatajatim.info

Candi Singasari berlokasi di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Dulunya, peninggalan  ini berada di lembah, antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna.

Halaman komplek candi ini dulunya adalah tempat pendharmaan bagi raja Singasari Kertanegara. Hal itu tertulis pada Prasasti Gajah Mada.

Candi Sumberawan

kerajaan singasari dan kediri
Image source: www.bessresort.com

Adalah satu-satunya yang ditemukan di Jawa Timur.

Letaknya sekitar 6 km dari Candi Singasari.

Candi Sumberawan dulunya adalah tempat ibadah bagi umat Buddha. Dibangun pada abad ke-14, candi ini juga memiliki telaga yang bening.

Pemandangan yang berada di sekitar candi pun tak kalah menarik.

Kini candi ini dijadikan sebagai salah satu objek wisata Malang karena pemandangannya yang indah.

Candi Jago

raja di kerajaan singasari
Image source: www.kekunaan.blogspot.com

Candi Jago peninggalan Kerajaan Singasari berada di Kecamatan Tumpang, Malang, Jawa Timur.

Bangunan candi terbuat dari batu andesit yang membentuk teras punden berundak.

Ada yang unik dari candi ini.

Pada bagian atas candi terlihat terpenggal. Menurut legenda, terpenggalnya ujung candi ini lantaran sambaran petir.

Candi Jawi

peninggalan di kerajaan singasari
Image source: www.vibizmedia.com

Berikutnya Candi Jawi. Peninggalan ini terletak di Desa Candi Wates, Kec. Prigen, Pasuruan – Jawa Timur tepatnya  di kaki Gunung Welirang.

Di sinilah abu jenasah raja Singasari terakhir, Kertanegara disimpan.

Oleh karenanya banyak juga yang mengatakan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan.

Abu mendiang raja juga disimpan di dalam candi ini.

Beberapa relief pahatan juga ditemukan pada dinding candi, namun beberapa relief tak lagi terbaca.

Prasasti Mula Malurung

prasasti di kerajaan singasari
Image source: www.kalimat.id

Adalah piagam penganugerahan untuk desa Mula dan desa Malurung kepada tokoh Pranaraja.

Bentuknya berupa lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanegara.

Hingga saat ini ada sekitar 10 lempeng ditemukan pada tahun 1975 yang berlokasi dekat kota Kediri, Jawa Timur.

Isinya pun berbeda-beda. Pada Kitab Negarakertagama ada beberapa lempeng yang bisa terbaca. Sayang, lempengan 2-4-6 tak ditemukan.

Berikut ini isi lempengan yang bisa terbaca sesuai dengan Kitab Negarakertagama.

  • Pertama tentang perintah Kertanagara untuk menerbitkan prasasti. Prasasti tersebut sengaja dibuat untuk anugerah Bhatara Parameswara dan Seminingrat, sebagai penguasa Jawa.
  • Lempengan ketiga berisi pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut putra Seminingrat dan Waning Hyun yang merupakan putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Guningbhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Seminingrat menyatukan kembali kerajaan Tumapel yang sebelumnya sempat mendapatkan pemberontakan dari Ken Arok.
  • Lempengan kelima isinya tentang kesetiaan Pranaraja terhadap Seminingrat, selain itu tertulis pula kata pujian untuk Seminingrat.
  • Ketujuh berisi lanjutan nama-nama raja bawahan yang diangkat Seminingrat; Kertanagara di Kediri dan Jayakatwang yang melakukan pemberontakan Raja Kertanegara di Gelang-Gelang.
  • Kedelapan berisi ungkapan terima kasih kepada para abdi yang dipimpin Ramapati atas anugerah yang diberikan oleh sang raja.
  • Kesembilan berisi anugerah untuk Pranaraja yang merupakan desa Mula dan desa Malurung. Disebutkan pula bahwa Seminingrat adalah cucu Bhatara Siwa pendiri kerajaan Singasari.
  • Kesepuluh berisi perintah Seminingrat melalui Ramapati agar Kertanagara mengesahkan anugerah untuk Pranaraja.

Prasasti Singosari

candi di kerajaan singasari
Image source: www.situsbudaya.id

Yang ini ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Sementara saat ini disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.

Prasasti ini adalah bentuk persembahan untuk pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dibangun oleh Mahapatih Gajah Mada.

Paruh pertama dalam prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat detail.

Termasuk di dalamnya ada pemaparan letak benda-benda angkasa.

Sementara lainnya mengemukakan bahwa maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

Prasasti Wurane

kehidupan di kerajaan singasari
Image source: www.kalimat.id

Prasasti Wurare merupakan prasasti yang berisi peringatan penobatan arca Mahaksobhya.

Wurare merupakan nama tempat penobatan.

Dari lokasi tersebut akhirnya muncul nama Prasasti Wurare yang ditulis dalam bahasa Sansekerta.

Ini adalah bentuk penghormatan bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari.

Arca Dwarapala

mengapa di kerajaan singasari sering terjadi pertumpahan darah
Image source: www.merdeka.com

Arca Dwarapala terletak di Kabupaten Malang.

Peninggalan ini merupakan patung penjaga gerbang.

Dipercaya Arca Dwarapala merupakan pintu dalam ajaran Siwa dan Budha. Bentukny amenyerupai manusia dan hewan.

Dwarapala adalah bahasa Sansekerta yang artinya penjaga pintu.

***

Nah, itu tadi sejarah dan latarbelakang Kerajaan Singasari.

Kini kalian masih bisa menengok peninggalan Kerajaan Singasari yang terletak di Jawa Timur tepatnya di daerah Singasari, Malang.

Peninggalan bersejarah ini berada di Desa Sandirejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Jika kalian dari Malang kota, kira-kira harus menempuh jarak 10 km.

Semoga pembahasan kita kali ini mengenai sejarah Kerajaan Singasari bisa membantu teman-teman ya.

Semangat belajar sejarah!

Seorang yang suka mengisi waktu luang dengan hal produktif, salah duanya membaca dan menulis.

Tinggalkan komentar