Rumah Adat Bali

Selain terkenal dengan kekayaan alamnya, Bali juga kaya akan budayanya.

Gapura-gapura yang mudah ditemui di Bali menjadi penanda bahwa masyarakat Bali masih memelihara warisan yang diturunkan oleh leluhurnya.

Desain bangunan rumah adat Bali juga menggambarkan masyarakat Bali yang mayoritas menganut agama Hindu.

Rumah Adat Bali

Gapura Candi Bentar

rumah adat bali brainly
Sumber: Kang Apip

Rumah Adat di Bali hanya satu, namun di dalam rumah ini, masih banyak bagian-bagian ruangan yang memiliki fungsi dan filosofi masing-masing.

Rumah ini sangat familiar karena sebagian masyarakat Bali menggunakan desain Gapura Candi Bentar untuk rumah huniannya.

Gapura Candi Bentar juga sering disebut dengan gerbang terbelah karena pintu masuknya berupa gapura terpisah dan tidak memiliki atap, layaknya dua bangunan yang terbelah.

Bagian Rumah Adat Gapura Candi Bentar

rumah adat bali apa
Sumber: Nusantara TV

Gapura Candi Bentar memiliki 9 bagian ruangan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Dalam menyusun bagian-bagian yang ada dalam rumah adat Bali ini pun banyak sekali mengacu pada ajaran para leluhur dan agama yang diyakini oleh masyarakat Bali.

Konstruksi rumah dan susunan halaman rumah mengacu pada konsep Tri Angga dalam ajaran agama Hindu, yaitu Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.

Berbeda dengan proses pembangunan Gapura Candi Bentar, yang mengikuti konsep Asta Kosala Kosali.

Berikut ini adalah penjelasan bagian-bagian ruangan Gapura Candi Bentar:

1. Angkul-angkul

rumah adat bali asal provinsi
Sumber: dekoruma

Angkul-angkul adalah pintu masuk ke Gapura Candi Bentar dan hanya terdapat satu angkul-angkul di setiap rumah adat.

Angkul-angkul memiliki atap yang berbentuk piramida dan terbuat dari daun kering.

2. Aling-aling

rumah adat bali animasi
Sumber: wacana.co

Setelah masuk melalui angkul-angkul, pada Gapura Candi Bentar ini terdapat tembok yang berfungsi sebagai sekat yang memisahkan angkul-angkul dengan teras rumah yang merupakan tempat suci, namanya aling-aling.

Selain itu, aling-aling juga dibangun untuk pengalih jalan masuk ke Gapura Candi Bentar.

Sehingga, orang yang akan masuk akan jalan dari sisi kiri rumah, dan keluar dari sisi kanan rumah.

Hal ini dimaksudkan agar privasi pemilik rumah tidak terekspos hingga ke luar.

Masyarakat Bali juga percaya bahwa aling-aling berfungsi sebagai penghalang datangnya pengaruh buruk/negatif dari luar.

Aling-aling dibangun dengan batu dan memiliki tinggi sekitar 150 cm.

3. Sanggah/Pamerajan (Pura Keluarga)

interior rumah adat bali
Sumber: Warta Wisata

Sanggah adalah tempat suci dari bangunan Gapura Candi Bentar ini.

Seluruh anggota keluarga menggunakan ruangan ini untuk sembahyang dan berdoa kepada leluhur mereka.

Letaknya berada di sebelah timur laut rumah.

4. Bale Meten (Bale Daja)

rumah adat bali di jual
Sumber: Arsitektur Tradisional Bali

Bale Meten adalah ruangan yang dipakai untuk ruang tidur kepala keluarga.

Ruangan ini juga merupakan ruang tidur bagi anak perempuan yang belum menikah.

Bale Meten merupakan ruangan berbentuk persegi panjang, yang dibangun dari 8 dan 12 sesaka (tiang) yang terbuat dari kayu.

Ruangannya terbagi menjadi dua bagian bale, yaitu di sisi kiri dan sisi kanan.

Bagian bawah bale memiliki permukaan yang tinggi.

Selain menambah fungsi estetika, bagian bawah dibuat lebih tinggi untuk menghindari resapan air masuk ke dalam ruangan.

Karena permukaannya tinggi, bangunan ini menjadi bangunan yang paling tinggi di antara bangunan lainnya di Gapura Candi Bentar.

Ruangan ini juga disebut dengan Bale Daja karena letaknya yang berada di sebelah utara (kaja) rumah.

5. Bale Dauh (Bale Tiang)

rumah adat kebudayaan bali
Sumber: Borneo Channel

Bale Dauh adalah ruangan yang ditempati oleh remaja laki-laki yang menghuni Gapura Candi Bentar sebagai kamar tidur.

Selain menjadi kamar tidur, Bale Dauh merupakan tempat dimana anggota keluarga menerima tamu.

Bangunan ini memiliki sebutan yang berbeda-beda tergantung jumlah tiang yang dimilikinya.

Bale yang memiliki 6 tiang disebut dengan sakenem, bila memiliki 8 tiang disebut sakutus/astasari, dan jika berjumlah 9 tiang disebut dengan sangasari.

Bahan dasar membuat bangunan Bale Dauh adalah batu.

Bale Dauh terletak di bagian Barat rumah.

6. Bale Sekapat

rumah adat bali modern
Sumber: Kang Apip

Bale sekapat adalah ruangan terbuka yang digunakan sebagai tempat untuk bersantai seluruh anggota keluarga yang menetap di rumah adat ini.

Selain untuk bersantai, ternyata ruangan berbentuk segi empat ini juga digunakan sebagai tempat tidur anak.

Bangunannya dilengkapi dengan empat tiang dan bentuknya minimalis.

Atap pada ruangan terbuka ini memiliki bentuk limas atau pelana.

7. Bale Dangin

lambang rumah adat bali
Sumber: Budaya Lokal

Bale Dangin adalah bagian rumah yang digunakan sebagai tempat upacara adat.

Namun, jika sedang tidak diselenggarakan upacara adat, bangunan ini dipakai sebagai tempat untuk beristirahat.

Ruangan ini berbentuk segi empat dan bisa juga berbentuk persegi panjang tergantung berapa jumlah tiang yang dimilikinya.

Sama seperti Bale Dauh, jika bangunan memiliki 6 tiang maka disebut dengan sakenem, jika memiliki 8 tiang disebut sakutus/astasari, dan jika memiliki 9 tiang maka disebut dengan sangasari.

Namun, jika bangunan Bale Dangin memiliki 12 tiang, maka disebut dengan Bale Gede.

Bangunan ini berada di sisi timur Gapura Candi Bentar.

8. Pawaregen (Paon)

gambar rumah adat bali natah
Sumber: Budaya Nusantara

Paon adalah ruangan yang digunakan sebagai dapur di Gapura Candi Bentar.

Biasanya letak Paon berada di sisi selatan rumah atau barat daya.

Pembagian Ruangan Pawaregen

1. Jalikan (area pertama)

Ruangan yang dilengkapi dengan pemanggang dan kayu untuk memasak.

2. Area kedua

Ruangan kedua dipakai untuk menyimpan makanan serta alat-alat masak.

3. Klumpu/Jineng (Lumbung)

rumah adat nya bali
Sumber: Galuh Bali Ukir

Klumpu atau Jineng atau yang umum disebut dengan lumbung berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi dan beras.

Klumpu diletakkan bersebelahan dengan bangunan Paon.

Pembagian Ruangan Klumpu

1. Lantai 1

Untuk menyimpan padi yang belum kering.

2. Lantai 2

Untuk menyimpan padi yang sudah kering.

Keunikan Bangunan Gapura Candi Bentar

rumah adat bali dan ciri khasnya
Sumber: Koper Traveler

Ada perbedaan bahan dasar yang digunakan untuk membangun Gapura Candi Bentar berdasarkan tingkat sosial dan ekonomi pemilik rumah.

Golongan bangsawan menggunakan tumpukan bata untuk membangun rumah ini.

Sedangkan masyarakat biasa menggunakan tanah liat atau popolan.

Uniknya lagi, di bagian depan rumah selalu terdapat 2 patung dan memiliki ukiran motif seperti ukiran yang terdapat pada dinding candi.

Filosofi Rumah Adat Gapura Candi Bentar

contoh rumah adat bali
Sumber: Teras.id
rumah adat bali gairah nata
Sumber: gaoldot

Selain dimaknai sebagai tempat tinggal dan tempat ibadah, ternyata pembangunan Gapura Candi Bentar memiliki proses yang panjang yang memiliki berbagai filosofi dibaliknya.

Rumah adat Bali Gapura Candi Bentar ini memiliki filosofi keharmonisan dan keselarasan yang dimiliki oleh manusia dengan lingkungan alam dan alam spiritual.

Sebelum membangun Gapura Candi Bentar, masyarakat Bali selalu memulai dan mengakhirinya dengan upacara adat.

Dilakukan juga ritual Nasarin, yaitu peletakkan batu pertama.

Tujuannya untuk meminta agar bangunan dapat menjadi rumah yang kuat dan kokoh.

Makna filosofis juga terkandung dalam peletakkan setiap bangunannya.

Sudut timur dan utara rumah merupakan tempat yang suci atau disakralkan.

Sehingga, bangunan-bangunan yang berada di timur dan utara rumah digunakan sebagai tempat untuk beribadah.

Sedangkan sisi selatan dan barat memiliki tingkat kesucian yang lebih rendah dari sisi timur dan barat.

Oleh karena itu kamar mandi, dapur, dan tempat menjemur pakaian berada di sisi selatan dan barat.

Setelah mengetahui keunikan dan nilai-nilai yang terkandung dalam rumah adat Gapura Candi Bentar asal Bali ini, tertarik untuk melihatnya langsung?

Itulah pemaparan mengenai rumah adat Bali.

Semoga rumah adat ini tetap terjaga kelestariannya dan tetap digunakan sebagai bentuk rumah bagi masyarakat yang hidup di Bali.