Rumah Adat Gorontalo

Rumah adat Gorontalo adalah bangunan rumah tradisional yang berada di Provinsi Gorontalo.

Provinsi Gorontalo sendiri berada dekat dengan Provinsi Sulawesi Utara.

Dulu daerah Gorontalo adalah bagian dari Provinsi Sulawesi Utara.

Disahkan pada tahun 2000 lalu dengan UU Nomor 38 tahun 2000, Gorontalo kemudian menjadi provinsi di Indonesia yang menempati urutan ke-32.

Dahulu Gorontalo merupakan daerah kerajaan Dulowo limo lo pahalaa yang merupakan pusat kebudayaan Islam di kawasan Nusantara bagian Timur.

Kebudayaan Islam pun turut andil dalam memengaruhi arsitekur rumah adat Gorontalo.

Mari simak ulasan dan beragam rumah adat Gorontalo berikut ini:

Bentuk Rumah Adat Gorontalo

rumah adat gorontalo dan keterangannya
Sumber gambar: http://juliojackalz.wordpress.com/

Rumah adat Gorontalo berbentuk rumah panggung.

Rumah panggung adalah analogi dari tubuh manusia karena terdiri dari kaki rumah, badan dan kepala/bagian atap rumah.

Selain itu, rumah juga harus dibuat dengan ukuran yang proporsional secara horizontal dan vertikal.

Pengukuran rumah ini menggunakan satuan yang disebut dengan depa.

Ukurannya yaitu 1 depa dikurangi 1 jengkal kemudian hasilnya dibagi 8.

Angka 8 ini memiliki arti 8 keadaan yang terjadi pada manusia.

8 hal tersebut adalah rahmat, celaka, beruntung, kerugian, beranak, kematian, umur dan hangus.

Tiang rumah ada 3 jenis, yaitu:

1. Tiang utama/wolihi yaitu dua tiang yang ditancapkan di atas tanah ke rangka atas.

Tiang ini adalah perlambangan dari janji persatuan & kesatuan yang abadi di antara dua bersaudara Gorontalo-Lomboto (janji lou dulowo mohutato-Hulantalo-Limutu).

Angka 2 juga melambangkan pola adat dan syariat yang merupakan falsafah hidup yang dipegang teguh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tiang depan yaitu 6 tiang yang diletakkan di bagian depan.

Angka 6 menandakan 6 sifat utama masyarakat lou dulowo limo lopahalaa antara lain sifat tenggang rasa (tinepo), hormat (tombulao), bakti kepada penguasa (tombulu), kewajaran (wuudu), patuh pada peraturan (adati), dan taat kepada keputusan hakim (butoo).

3. Tiang dasar/potu yaitu tiang yang khusus untuk golongan raja, berjumlah 32 buah yang menandakan 32 penjuru mata angin.

ciri khas rumah adat gorontalo
Sumber gambar: http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Pada bagian serambi yang berbentuk persegi ada 4, 6 atau 8 tiang yang menandakan jumlah budak masing-masing raja.

Tradisi ini kemudian diterapkan tidak hanya di rumah bangsawan.

Bagian tangga berjumlah 5 hingga 7.

Angka 5 melambangkan rukun Islam dan 7 adalah tingkatan nafsu manusia antara lain amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan.

Bagian atap ada 2 susun yang menandakan adat dan syariat.

Pada masa silam, di bagian puncak terdapat Talapua.

Talapua merupakan 2 batang kayu yang diletakkan bersilang pada puncak atap sebagai penangkal dari roh jahat.

Namun sekarang sudah tidak digunakan lagi.

Pada dinding bagian depan rumah di sebelah pintu utama digantung Tange lo bu’ulu sebagai perlambang kesejahteraan masyarakat Gorontalo.

Tata Ruang Rumah Adat Gorontalo

rumah adat gorontalo adalah
Sumber gambar: http://satujam.com/

Ruang rumah adat Gorontalo berbentuk segi empat yang menandakan 4 kekuatan alam antara lain air, api, angin dan tanah.

Untuk penataan ruang tak ada aturan khusus.

Pada awal pembuatan rumah, kamar tidak boleh lebih dari 3 karena angka 3 tersebut melambangkan 3 alam yang dilalui manusia yaitu dari yang tiada (alam rahim), ada (alam dunia), dan berakhir (alam akhirat).

Penambahan kamar baru boleh dilakukan setelah rumah itu ditempati.

Kamar tidur dibuat berjejer ke belakang atau dibuat bersilang.

Kamar tidur anak laki-laki ada di bagian depan dan untuk anak perempuan di bagian belakang.

Tamu laki-laki dilarang masuk ke rumah jadi hanya di teras.

Aturan ini berkenaan dengan ajaran Islam yaitu yang bukan muhrim tidak diperkenankan masuk rumah.

Untuk pembeda fungsi ruang menggunakan balok yang menonjol di atas lantai yang disebut dengan Pihito berfungsi sebagai pembatas ruang.

Dapur dipisahkan dengan bangunan utama karena dapur dianggap sebagai tempat rahasia.

Tamu pun tidak diperkenankan masuk ke dapur oleh sebab itu ada jembatan yang memisahan dapur dan ruang utama di mana jembatan itu tidak boleh dilewati oleh tamu.

Di dapur pun peralatan masak tidak boleh diletakkan menghadap kiblat karena dipercaya akan membuat rumah mudah terbakar.

Jenis Rumah Adat Gorontalo

Ada empat jenis rumah adat Gorontalo yaitu rumah adat Dulohupa, rumah adat Bantayo Poboide, rumah adat Ma’lihe dan rumah adat Gobel.

Rumah Adat Dulohupa

artikel rumah adat gorontalo
Sumber gambar: http://sejarah-negara.com/

Dulohupa memiliki arti mufakat dalam bahasa Gorontalo.

Sesuai dengan namanya, rumah adat ini adalah tempat yang digunakan bermusyawarah untuk mencapai mufakat.

Tempat ini juga merupakan pengadilan untuk mengadili seseorang atau memutuskan perkara-perkara di masa pemerintahan kerajaan Gorontalo silam.

3 hukum yang digunakan di tempat ini antara lain Buwatulo Bala yaitu hukum pertahanan atau keamanan untuk mengadili para prajurit, Buwatulo Syara yaitu hukum agama Islam dan Buwatulo Adati yakni hukum adat.

Saat ini rumah adat ini digunakan untuk pagelaran upacara adat seperti upacara adat pernikahan, pagelaran budaya atau upacara adat lain di Gorontalo.

Rumah adat ini berbentuk rumah panggung yang terbuat dari papan dengan dihiasi ornamen khas Gorontalo.

Rumah panggung ini disokong dengan 2 pilar utama yang dinamakan Wolihi, 6 pilar di bagian depan, dan 32 pilar dasar yang disebut potu.

rumah adat gorontalo dan gambarnya
Sumber gambar: http://dimaspratama20.com/

Tangga berada di samping kanan dan kiri rumah yang menjadi simbol tangga adat yang disebut dengan tolitihu.

Bagian atap dibuat dari jerami terbaik yang dianyam.

Bentuk atapnya seperti pelana dengan segitiga susun 2 yang melambangkan syariat dan adat masyarakat Gorontalo.

Atap yang paling tinggi menandakan kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa sedangkan atap yang bawah menggambarkan kepercayaan terhadap adat istiadat.

Bagian rumah yang lain seperti lantai, dinding, pagar, dan tangga terbuat dari papan kayu.

Rumah bagian dalam hanya ada 1 ruangan yang besar, tidak ada ruangan yang lain.

Di dalam rumah terdapat anjungan yang merupakan tempat peristirahatan raja dan keluarga kerajaan di masa silam.

Rumah adat Dulohupa yang masih terjaga bisa Anda temui di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo.

Rumah Adat Bantayo Poboide

rumah adat yang ada di gorontalo
Sumber gambar: http://situsbudaya.id/

Secara bahasa Bantayo berarti gedung atau bangunan sedangkan Poboide memiliki arti tempat bermusyawarah.

Jadi bila digabungkan keduanya berarti gedung tempat bermusyawarah.

Fungsi rumah adat Bantayo hampir serupa dengan Dulohupa namun di sini tidak digunakan untuk tempat mengadili perkara, hanya digunakan untuk bermusyawarah.

Rumah adat ini digunakan untuk beragam upacara adat, penerimaan tamu kenegaraan, upacara adat perkawinan dan berbagai acara adat lainnya.

Secara keseluruhan rumah ini terbuat dari kayu.

Jenis kayu yang digunakan adalah kayu hitam dan kayu cokelat kemerahan.

Kayu hitam digunakan untuk kusen, pegangan tangga, pagar balkon dan ukiran pada ventilasi.

Kayu cokelat kemerahan digunakan untuk bagian dinding, pintu, jendela dan lantai rumah.

Rumah adat ini memiliki banyak sekat di bagian dalamnya.

Ada 4 bagian yaitu ruang tamu, ruang tengah, ruang dalam dan ruang belakang.

Ruang tamu adalah ruang yang memanjang dengan kamar di tiap ujung kanan dan kiri.

Ruang tengah merupakan ruangan yang paling luas di rumah ini, ada dua kamar di sisi kiri ruangan.

Ruang dalam bentuk dan ukurannya serupa dengan ruang tamu namun di ruangan ini ada pintu yang menuju ke serambi samping.

Ruang belakang adalah tempat untuk dapur dan kamar mandi dengan letak yang berderet memanjang.

Rumah adat Bantayo yang masih terjaga berada di depan rumah dinas Bupati Gorontalo.

Rumah Adat Ma’lihe

rumah adat malihe gorontalo
Sumber: http://vr-tmii.com/

Rumah adat Ma’lihe atau disebut juga rumah adat Potiwoluya adalah rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Gorontalo.

Rumah ini adalah rumah panggung yang berbentuk bujur sangkar.

Atap rumah ini berbentuk persegi panjang yang dibuat dengan daun rumbia.

Bagian dinding terbuat dari bambu yang dianyam.

Rumah ini memiliki serambi, ruang tamu, kamar tidur dan dapur.

Saat pertama kali dibangun rumah hanya boleh memiliki 3 kamar dan penambahan kamar baru boleh dibuat ketika rumah sudah ditinggali.

Kamar anak laki-laki berada di bagian depan sedangkan kamar anak perempuan berada di bagian belakang.

Rumah Adat Gobel

rumah adat gobel gorontalo
Sumber: https://daengrusle.files.wordpress.com/

Rumah Gobel merupakan rumah yang ditempati oleh keluarga kerajaan pada masa silam.

Namun kini rumah ini hanya digunakan untuk acara-acara resmi pemerintah setempat.

Acara tersebut seperti musyawarah besar rakyat Gorontalo, upacara adat atau acara resmi lain.

Rumah adat Gobel yang masih terjaga berada di Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo.

Secara keseluruhan rumah-rumah adat Gorontalo banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam.

Hal ini dikarenakan Gorontalo merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Islam yang cukup besar pada masanya sehingga kebudayaan Islam pun mengakar kuat di wilayah Gorontalo.

Demikian informasi mengenai rumah adat Gorontalo.

Semoga bermanfaat bagi Anda untuk mengenal lebih dalam tentang rumah adat Gorontalo.