Rumah Adat Jawa

Suku Jawa memiliki jumlah populasi terbanyak di Indonesia.

Jumlahnya saat ini sekitar 40,2% dari total penduduk Indonesia.

Seperti suku lainnya, suku ini memiliki adat atau kebudayaan yang dapat dilihat oleh masyarakat.

Salah satunya seperti penggunaan rumah adat.

Suku Jawa di Indonesia menempati daerah Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Rumah adat dapat mencerminkan bagaimana kultur budaya pada masyarakat Jawa.

Rumah adat jawa memiliki berbagai macam bentuk.

Hal ini disebabkan karena suku jawa tersebar di seluruh Pulau Jawa dan membuat kelompok-kelompok budaya sendiri.

Berikut ini beberapa hal dasar yang berkaitan dengan rumah adat Suku Jawa.

Sejarah


rumah adat jawa tengah disebut
Sumber: https://id.wikipedia.org

Rumah adat Jawa umumnya dianggap sebagai Rumah Joglo.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah.

Namun, beberapa rumah adat lainnya tidak hanya Joglo melainkan ada juga berbentuk Panggangpe, Kampung, Limasan.

Dalam hal ini, bentuk rumah adat jawa tersebut dibagi sesuai status sosial yang dimiliki masyarakat.

Rumah Joglo merupakan sebuah simbol dari orang dengan status sosial tinggi di masyarakat.

Sebab, dahulu hanya orang-orang yang mampu untuk membuat rumah ini dengan bahan-bahan yang mahal.

Hal ini disebabkan karena rumah ini dikerjakan dengan waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu, ada anggapan bahwa rumah ini hanya digunakan oleh bangsawan.

Sementara itu, bagi masyarakat dengan penghasilan rendah hanya akan dapat membuat rumah bentuk Panggangpe, Limasan, atau Kampung yang memiliki biaya jauh lebih hemat.

Saat ini keberadaan Joglo lebih mudah ditemukan karena digunakan oleh beragam kalangan.

Adanya alat-alat yang lebih modern dan bahan baku yang semakin mudah didapatkan membuat rumah ini lebih terjangkau.

Bahkan, saat ini fungsi dari rumah adat Jawa sudah memiliki pergeseran.

Rumah adat Jawa ini biasanya digunakan sebagai konsep sebuah restoran atau hotel.

Hal ini dikarenakan, rumah adat Jawa memiliki kesan atau tampilan yang unik seperti kembali ke masa lampau.

Walaupun begitu, di desa-desa Jawa Tengah dan Jawa Timur masih tetap menggunakan rumah-rumah ini sebagai tempat tinggal.

Pada dasarnya rumah adat Jawa memiliki arsitektur yang khas.

Arsitektur tersebut memiliki aturan yang tercermin pada bentuk atap rumah.

Secara keseluruhan tata letak rumah adat Jawa semuanya sama.

Namun, masing-masing rumah adat memiliki bentuk atap berbeda.

Hal ini lah yang ditentukan oleh status sosial dan ekonomi pemilik rumah.

Rumah adat Jawa tidak dibangun secara sembarangan.

Tetapi, harus di-peteng (dengan perhitungan) yang matang sebelum rumah dibangun.

Bagian Utama Rumah Adat Jawa


Secara umum, rumah adat jawa memiliki 3 bagian utama yaitu Omah, Pendapa, dan Peringgitan. Namun, terdapat juga 2 tambahan seperti Dalem dan Senthong. Penjelasannya sebagai berikut.

Pendapa


Rumah adat Jawa memiliki sebuah paviliun yang disebut Pendapa.

Posisi pendapa tersebut diletakan pada bagian depan rumah dari pintu masuk.

Fungsi dari bangunan pendapa ini adalah untuk menyambut tamu.

Namun, terkadang juga digunakan sebagai tempat untuk kegiatan adat istiadat setempat atau kegiatan sosial lainnya.

Pendopo pada rumah adat jawa menggunakan atap Joglo dan biasanya hanya dimiliki oleh kalangan atas saja.

Peringgitan


Setelah memasuki bagian depan, terdapat bangunan Peringgitan.

Bangunan ini merupakan penghubung antara Pendopo dengan Omah.

Peringgitan berasal dari kata ringgit yang berarti perwayangan atau permainan.

Dalam hal ini, peringgitan merupakan tempat yang digunakan untuk bermain.

Bangunan peringgitan biasanya menggunakan bentuk atap Kampung atau Limasan.

Omah


Bangunan utama dari kompleks rumah adat Jawa ini adalah Omah.

Omah berasal dari kata Indonesia yang berarti rumah.

Bangunan Omah memiliki bentuk persegi yang menggunakan atap Joglo atau limasan.

Sementara itu lantai pada bangunan ini biasanya ditinggikan sehingga seperti menghasilkan undakan.

Dalem


Bangunan tambahan yang biasanya digunakan masayrakat Suku Jawa adalah Dalem.

Dalem adalah bangunan yang terbagi menjadi beberapa bagian dengan konsep bangunan tertutup.

Dalem pada rumah Kampung atau Limas digunakan untuk membedakan area depan dan area belakang rumah.

Sementara itu, pada rumah joglo dalem digunakan untuk membagi antara area depan, tengah dan belakang.

Senthong


Bangunan tambahan lain dalam rumah adat Jawa adalah Senthong.

Senthong adalah bangunan yang terdiri dari 3 ruangan tertutup di belakang rumah.

Pada bagian barat, Senthong difungsikan untuk menyimpan beras dan hasil panen.

Sedangkan, pada bagian timur digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan-peralatan untuk bercocok tanam.

Terakhir pada bagian tengah biasanya sering dikhususkan sebagai ruang tidur pasangan baru.

Bentuk Panggangpe


rumah adat jawa tengah dan penjelasannya
Sumber: https://notepam.com

Rumah adat Jawa yang memiliki bentuk paling sederhana adalah Rumah Panggangpe.

Panggangpe merupakan bentuk bangunan dasar dari rumah adat Jawa.

Bentuk dari bangunan ini sangat memudahkan orang untuk dapat berlindung dari angin, hujan, dingin, serta sengatan panas matahari.

Bagian utama dari rumah Panggangpe ini adalah 4 atau 6 buah tiang.

Tiang-tiang yang menopang bangunan rumah ini disebut sebagai “saka”.

Rumah ini diselubungi dinding pada sisi yang berfungsi untuk perlindungan dari luar.

Bangunan ini hanya memiliki sebuah atap dan ditutup dinding pada beberapa sisi saja.

Bangunan Panggangpe seperti ini sering digunakan sebagai warung atau pos keamanan.

Bentuk Kampung


rumah adat jawa adalah brainly
Sumber: http://adilanaputrarizky.blogspot.com/

Rumah adat Jawa dengan bentuk kampung memiliki bangunan yang berbentuk persegi panjang.

Rumah kampung memilik dua buah tiang penyangga.

Sementara itu, atap pada rumah ini memiliki bentuk persegi panjang.

Pada bagian atap rumah, sisi samping atas ditutup dengan tutup keong.

Dengan demikian, atap rumah kampung ini identik dengan golongan rakyat biasa yang memilikinya.

Struktur dari rumah kampung memiliki bentuk atap yang paling sederhana.

Rumah Kampung memiliki empat tiang tengah dan dua lapis tiang pengikat.

Fungsi dari tiang-tiang tersebut adalah sebagai tempat bersandar atap puncak rumah.

Rumah ini umumnya sering dimiliki oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Dahulu, Karena bentuk rumah ini paling banyak ditemukan, membuat anggapan bahwa bentuk rumah tersebut hanya untuk kalangan masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi menengah ke bawah.

Bentuk Limasan


rumah adat jawa asli bernama
Sumber: https://notepam.com

Limasan merupakan bentuk dari rumah adat jawa dengan arsitektur yang tradisional.

Sehingga, dapat dipastikan rumah tradisional ini sudah ada sejak zaman dahulu dan terus dipertahankan oleh generasi ke generasi.

Pada rumah ini biasanya ada relief yang menggambarkan sesuatu hal.

Oleh karena itu, untuk membangun rumah Limasan tidak bisa asal-asalan.

Filosofi rumah Limas mengandung beberapa nilai-nilai sosiokultural adat serta suku Jawa.

Rumah Limasan merupakan rumah bagi masyarakat Suku Jawa yang memiliki kedudukan tinggi di sosial masayrakatnya.

Struktur dari rumah Limasan ini pun lebih rumit dari pada rumah Kampung.

Pada bagian tiang, rumah dibuat lebih luas dengan menambah sepasang tiang pada salah satu ujung atapnya.

Konstruksi atap rumah Limasan dapat dikatan cukup kokoh.

Sementara itu, terdapa juga bentuk lengkungan-lengkungan yang terpisah pada satu ruang dengan ruang lainnya.

Pada dasarnya, rumah Limasan dibangun dengan empat buah tiang utama.

Karena jenis rumah adat jawa tersebut memiliki bentuk empat persegi panjang atau berbentuk limas, sehingga rumah ini disebut rumah Limasan.

Rumah limasan memiliki empat buat atap yang memiliki nama.

Dua buah atap bernama kejen atau cocor.

Kejen memiliki bentuk segitiga sama kaki.

Sehingga bentuknya seperti atap keyong dan memiliki fungsi masing-masing.

Sedangkan, dua buah atap lain disebut bronjong memiliki berbentuk jajar genjang sama kaki.

Jika mengalami pengembangan dapat menambah atap emper pada sisi-sisi atap tersebut.

Bentuk Joglo


rumah adat jawa tengah joglo
Sumber: https://budayalokal.id

Rumah Joglo adalah rumah adat Jawa yang mudah ditemui di daerah Jawa Tengan dan Jawa Timur.

Karena mudah ditemui di hampir sebagian besar Pulau Jawa, rumah ini lebih sering dianggap sebagai rumah adat masyarakat Jawa.

Nama dari bentuk rumah ini berasal dari kata Joglo yang merupakan .

Berbeda dengan bentuk rumah Jawa lainnya, rumah Joglo memiliki keunikan pada bentuk atap dan tiangnya.

Rumah ini menggunakan empat tiang penyangga yang disebut “soko guru” dengan atap yang menjulang ke atas.

Rumah Joglo memiliki bentuk serta ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan bentuk rumad adat jawa lainnya.

Dulu rumah dengan bentuk Joglo banyak dimiliki oleh masyarakat golongan menengah ke atas seperti bangsawan atau priyayi.

Namun, sebenarnya hal ini disebabkan karena biaya pembuatan rumah dengan bentuk Joglo cukup mahal.

Rumah Joglo membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dari bentuk rumah adat jawa lainnya.

Selain itu, rumah ini juga membutuhkan lahan yang luas.

Bentuk rumah joglo memiliki bentuk atap yang rumit.

Bentuk atapnya, berkaitan dengan tempat tinggal kaum bangsawan.

Rumah Tajug


rumah adat jawa tengah berbentuk
Sumber: https://notepam.com

Bentuk rumah adat Jawa selanjutnya adalah bentuk Tajug.

Tajug dalam rumah adat jawa ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk beribadah.

Ciri khas dari rumah Tajug ini terdapat pada langgar tanpa penanggap (bertemu-beradu).

Rumah ini memiliki bentuk bujur sangkar dan hingga saat ini masih dipertahankan dari bentuk aslinya.

Oleh karena itu, Tajug dapat dikatakan juga sebagai Masjid.

Tajug adalah bangunan yang memiliki atap berbentuk seperti piramida.

Bentuk Tajug dahulu hanya berupa “Punden/Cungkup” yang artinya tempat memudhi atau memuja para arwah leluhur.

Sekarang, rumah Tajug telah menjadi ciri khas dari bentuk masjid masyarakat Jawa.

Hal ini disebabkan karena bentuk atap Tajug berbeda dengan bentuk masjid pada umumnya yang memiliki kubah.

Desain tersebut merupakan hasil kolaborasi lingkungan, tradisi dan budaya masyarakat setempat.

Umumnya bentuk Tajug sama dengan Joglo.

Bentuk yang dimiliki adalah ruangan bujur sangkar dengan atap yang tinggi menjulang.

Ciri khas ini memiliki konstruksi bernama “Tumpang Sari”.

Namun perbedaannya teletak pada atap brunjung pada dua sisinya.

Pada Joglo atap berbentuk trapesium.

Sementara itu, pada Tajug keempat sisi atap brunjungnya berbentuk segitiga serta dibuat lancip.

Bentuk ini memiliki makna tentang keabadian dan keesaan Tuhan.

Joglo Jompongan


rumah adat jawa tengah berbentuk
Sumber: https://rumahar.blogspot.com/

Rumah Joglo Jompongan merupakan salah satu rumah adat Jawa yang memiliki ciri khas berbeda dari rumah lainnya.

Rumah ini tetap menggunakan atap Joglo yang identik dengan tempat tinggal Suku Jawa.

Namun, Joglo Jompongan memiliki ciri khas unik pada atap yang bersusun dua.

Joglo ini mempunyai bumbungan atap yang panjang.

Bumbungan tersebut dibuat menjorok ke arah samping kanan dan samping kiri atap rumah.

Kedua susunan atap rumah Joglo Jompongan dibuat menyatu.

Sehingga jika terlihat dari luar, terlihat seperti satu atap yang dibuat landai pada bagian bawah.

Oleh karena itu, kedua atap tersebut tidak memerlukan lis plank sebagai pembatas.

Bangunan joglo jompongan ini memiliki denah lantai cenderung bujur sangkar.

Joglo Jompongan memiliki atap yang sederhana.

Pada atap rumah Joglo Jompongan, tidak diperlukan ornamen atau hiasan tertentu.

Joglo Kepuhan Lawakan


rumah adat jawa timur dan keunikannya
Sumber: http://rumahminimmalis.blogspot.com

Umumnya rumah berbentuk Joglo biasa menggunakan atap bersusun.

Seperti halnya rumah Joglo Kepuhan Lawakan yang memiliki atap bersusun dua.

Joglo Kepuhan Lawakan memiliki bentuk atap yang sederhana.

Pada atap utama Joglo Kepuhan Lawakan, atap dibuat meruncing ke atas.

Sedangkan, atap di bawah lebih landai dan melebar.

Bentuk tersebut yang menjadi ciri khas dari Joglo Lawakan.

Joglo Lawakan memiliki bentuk atap yang seperti payung.

Batas antara atap satu dengan atap lain dibuat tidak memiliki batas.

Hanya saja, sudut pada Joglo Lawakan berbeda dengan Joglo lain.

Joglo Ceblokan


rumah adat jawa asli bernama
Sumber: http://bangun-rumah.com/

Rumah adat Jawa yang memiliki bentuk Joglo selanjutnya adalah Joglo Ceblokan.

Joglo Ceblokan ini mudah ditemui di Jawa Tengah.

Rumah Joglo Ceblokan menggunakan saka pendem.

“Saka” merupakan tiang penyangga pada bangunan untuk mempertahankan bentuk atap.

Sehingga, saka pendem yang dimaksud adalah tiang penyangga yang memiliki bagian terpendam di bawah dasar rumah.

Rumah Joglo Ceblokan ini biasanya tidak memakai sunduk.

Joglo Kepuhan Limolasan


rumah adat asal jawa tengah
Sumber: http://bangun-rumah.com/

Joglo Kepuhan Limolasan merupakan Joglo dengan atap dua susun.

Seperti pada Joglo lainnya, atap bagian atas dibuat menjulang ke atas.

Pada Joglo ini ada tiga komponen yang perlu diperhatikan, yaitu Sunduk Bandhang, Usuk Rigereh, dan Bahu Danyang.

Sunduk Bandhang merupakan bagian atap landai yang dibuat lebih panjang dari joglo lainnya.

Sementara itu, Usuk rigereh pada bagian atap utama dibuat seperti pada umumnya.

Pada Joglo ini ander pada atap Joglo dibuat lebih pendek.

Sehingga, bahu danyang pada tiang penyangga terluar untuk menahan atap Joglo tersebut.

Joglo Sinom Apitan


rumah adat jawa bagian
Sumber:https://www.arsitag.com/

Jenis rumah adat Jawa tidak hanya terdiri dari 2 atau 3 atap saja.

Misalnya, Joglo Sinom Apitan yang memiliki empat empyak atau atap.

Bentuk Joglo Sinom Apitan memiliki bentuk atap tritisan.

Bentuk atap ini dapat dikatakan serupa dengan Joglo Hageng.

Namun, luas bangunan Joglo ini lebih kecil dibandingkan dengan Rumah dengan bentuk Joglo Hageng.

Bangunan bentuk Joglo Sinom Apitan memiliki proporsi atap utama yang tinggi.

Atap rumah adat Jawa Tengah dengan yang memakai Joglo Sinom Ampitan ini selain memiliki empat susun juga memliki empat sudut kemiringin, tiga buah pengeret, dan tiga atau lima buah tumpang.

Namun, masing-masing atap tidak menggunakan lis plank.

Joglo Pengrawit


rumah adat jawa tengah dan ciri khasnya
Sumber: https://www.booking.com

Pengrawit merupakan jenis Joglo yang mirip dengan bentuk Joglo Mangkurat.

Namun, Joglo ini memiliki perbedaan pada atap utama yang ukurannya lebih kecil dan panjang.

Sedangkan, bumbungan pada Joglo Pengrawit memiliki bentuk yang lebih pendek jika dibandingkan dengan Joglo Mangkurat.

Biasanya, pada rumah Joglo Pengrawit ini menggunakan lampu gantung di tengahnya.

Ujung atap dibuat merenggang dari atap penanggap.

Sedangkan, atap empar merenggang dari atas bagian penanggap.

Pada Joglo Pengrawit tiap sudutnya diberi tiang atau saka.

Joglo Kepuhan Apitan


rumah adat jawa dan maknanya
Sumber:
http://aparumah.com/

Rumah dengan bentuk Joglo Kepuhan Apitan memiliki empyak berujung lebih tinggi.

Empyak atau atap dibuat memiliki bentuk tegak, sehingga terlihat kurang landai.

Dengan begitu, pengeret pada atap utama dibuat lebih pendek.

Joglo Semar Tinandu


rumah adat jawa beserta fungsinya
http://bangun-rumah.com/

Rumah adat Jawa yang biasanya masih ditinggali hingga saat ini banyak yang menggunakan bentuk atap Joglo Semar Tinandhu.

Atap Joglo Semar Tinandhu memiliki perbedaan yang sangat jelas pada tiang penyangga.

Bangunan Joglo biasanya menggunakan jenis tiang kayu.

Namun, pada Joglo Semar Tinandhu ini tiang penyangga yang digunakan adalah menggunakan dinding.

Sehingga atap yang digunakan dipikul dengan dinding rumah.

Joglo Lambangsari


rumah adat jawa timur dan ciri khasnya
Sumber: https://in.officestands.com/

Joglo Lambangsari memiliki lima tingkat.

Bentuk atap pada Joglo ini tidak terlalu besar, sehingga dapat digunakan pada lahan yang tidak terlalu luas.

Walaupun Tumpang sari memiliki 5 tingkatan, tetapi Joglo tidak memerlukan adanya empyak emper.

Joglo ini hanya menggunakan uleng ganda dan godegan pada atapnya.

Joglo Wantah Apitan


rumah adat di jawa
Sumber: http://bangun-rumah.com

Joglo Wantah Apitan memiliki ciri khas unik dengan jumlah tumpangnya.

Joglo ini menggunakan lima buah tumpang yang saling menindih satu sama lain.

Wantah Apitan merupakan rumah joglo yang memakai 5 buah tumpang.

Selain itu atap rumah joglo ini juga memakai geganja dan memakai tikar lumajang.

Joglo Hageng


rumah adat jawa dan keunikannya
Sumber: http://aparumah.com/

Rumah adat Jawa dengan bentuk Joglo Hageng memiliki bentuk proporsi atap utama serta atap kedua dibawahnyalebih pendek.

Selain lebih pendek, atap dibawahnya pun dibuat lebih landai dibandingkan pada atap milik Joglo Mangkurat atau Joglo Pengrawit.

Rumah Joglo Hageng ini mempunyai bidang pada atap yang lebih luas.

Pada atap Joglo, memiliki ciri atap tritisan keliling yang luas.

Bangunan rumah yang dimiliki juga lebih luas dan lebih besar.

Joglo hageng ini mempunyai bentuk atap yang bersusun tiga.

Masing-masing atapnya memiliki lis plank pada bagian ujungnya.

Joglo Mangkurat


rumah adat jawa dan filosofinya
Sumber: http://aparumah.com

Joglo Mangkurat merupakan salah satu rumah adat Jawa yang memiliki ciri khas pada susunan atapnya.

Atap Joglo Mangkurat bersusun tiga dengan tiga sudut kemiringan.

Pada perbedaan batas masing-masing sudut, biasanya dibatasi dengan pemakaian lis plank.

Atap ini memiliki susunan pada atap utama berada pada paling atas.

Atap paling atas memiliki proporsi lebih besar dan lebih tinggi menjulang.

Kemudian disusun atap-atap selanjutnya di bawahnya.