Rumah Adat Maluku

Maluku Utara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang memiliki 4 kerajaan terpenting di Nusantara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Masyarakat Maluku Utara sangat menjunjung persatuan yang dapat terlihat dari bentuk rumah adat Maluku Utara yang menjadi ciri khasnya.

Adanya rumah adat tersebut juga membuktikan bahwa masyarakat Maluku Utara mengalami kemajuan budaya.

Berikut ini adalah daftar rumah adat Maluku Utara beserta keunikan dan nilai-nilai filosofisnya.

Rumah Adat Maluku Utara

Terdapat 3 rumah adat Maluku Utara yang masih ada sampai sekarang, yaitu:

1. Rumah Adat Baileo

gambar rumah adat provinsi maluku utara
Sumber: Budaya Lokal

Arsitektur Rumah Adat Baileo

Saat melihat rumah adat Baileo ini, mungkin sebagian orang tidak percaya bahwa ini adalah sebuah rumah adat.

Seperti beranda, rumah adat Baileo memang merupakan rumah adat yang tidak memiliki dinding dengan tipe rumah panggung.

Sesuai dengan kepercayaan masyarakat adat Maluku, dengan tidak adanya jendela rumah maka roh-roh nenek moyang bisa bebas untuk keluar masuk ke rumah Baileo.

Hal yang penting adalah dengan tidak adanya jendela adalah agar pada saat berlangsungnya musyawarah, masyarakat yang tidak berada di dalam rumah dapat menyaksikan musyawarah juga.

Hormat kepada roh nenek moyang yang sudah lama meninggal adalah salah satu alasan mengapa lantai rumah pada rumah adat Baileo ini dibuat tinggi.

Masyarakat setempat sepakat bahwa roh nenek moyang harus memiliki derajat dan posisi lebih tinggi dari mereka.

Pada rumah adat Baileo terdapat banyak ukiran-ukiran bergambar dua ekor ayam berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sisi kiri dan kanannya.

Posisi ukiran ini berada ambang pintu dan memiliki arti dari lambang tentang kedamaian dan kemakmuran.

Keunikan Rumah Adat Baileo

manfaat dan kegunaan rumah adat maluku utara
Sumber: Tsansns

Rumah adat Baileo yang tidak memiliki dinding adalah tanda keterbukaan masyarakat Maluku terhadap segala perubahan.

Sesuai dengan kepercayaan masyarakat Maluku, lantai rumah harus dibuat lebih tinggi dari tanah agar roh-roh nenek moyang dapat diberi tempat dengan derajat yang lebih tinggi.

Adanya ornamen berupa ukiran yang menyerupai 2 ekor ayam yang dihimpit 2 ekor anjing yang berada di pintu masuk rumah.

Terdapat pula ukiran matahari, bulan dan bintang yang letaknya berada di atap rumah.

Rumah adat Maluku memiliki 9 tiang penyangga dan penempatannya berada di depan dan belakang rumah dan di sisi kanan dan kiri rumah.

Jumlah tiang yang dimiliki oleh rumah adat ini juga didapatkan melalui aturan-aturan yang berlaku pada adat yang diyakini oleh suku di Maluku Utara, yaitu sebagai penanda hubungan satu kelompok suku dengan suku lain di berbagai desa.

Ornamen Rumah Adat Baileo

Rumah adat baileo memiliki banyak ukiran-ukiran yang cantik.

Yaitu gambar dua ekor ayam yang berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri dan kanan dan terletak di ambang pintu.

Makna dari ukiran tersebut adalah lambang tentang kedamaian dan kemakmuran.

Ada juga ukiran bulan, bintang dan matahari yang terletak di atap rumah.

Ukiran-ukiran ini berwarna merah-kuning dan hitam.

Adanya ukiran tersebut melambangkan kesiapan balai adat dalam menjaga keutuhan adat beserta hukum adatnya.

2. Rumah Adat Sasadu

gambar rumah adat baileo maluku utara
Sumber: Kalimat.id

Rumah adat Sasadu adalah rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat suku Sahu, Halmahera.

Sejak dibangun, fungsi utama dari rumah adat ini bukanlah untuk tempat tinggal melainkan sebagai ruang pertemuan.

Tidak hanya itu, rumah adat Sasadu juga sering dipakai untuk keperluan perayaan pesta adat seperti pernikahan dan kelahiran.

Arsitektur Rumah Adat Sasadu

keunikan rumah adat sasadu maluku utara
Sumber: GPS Wisata Indonesia

Meskipun memiliki tiang pada bangunannya,tetapi rumah adat Maluku Utara yang satu ini bukanlah tipe rumah panggung.

Tiang yang ada pada rumah ini terbuat dari batang kayu sagu yang dihubungkan dengan balok penguat dan fungsinya hanyalah sebagai penopang kerangka atap rumah.

Meskipun tiangnya dihubungkan dengan balok penguat, namun balok-balok tersebut tidak dipaku pada tiang.

Tetapi hanya direkatkan pada tiang menggunakan pasak kayu.

Sebagian besar, material yang digunakan untuk membangun rumah ini berasal dari material alam.

Misalnya seperti atap rumahnya yang terbuat dari bambu yang diikat dengan ijuk, serta anyaman daun sagu atau daun kelapa.

Meskipun kelihatan hanya memakai anyaman daun, atap rumah ada ini bisa bertahan cukup lama.

Karena didesain untuk ruang pertemuan, maka rumah adat Maluku ini tidak memiliki dinding.

Bangunannya hanya terdiri dari 1 bagian dan tidak ada sekat-sekat untuk membatasi ruangan.

Untuk tempat duduk masyarakat yang mengadakan pertemuan atau perayaan di rumah adat Sasadu ini, digunakan balok penguat yang telah dibentuk pan dengan menggunakan susunan bambu atau kayu.

Sebagai jalan masuk orang-orang yang datang, beberapa tiang untuk atap rumah tidak dihubungkan satu sama lain dengan balok kayu.

Keunikan Rumah Adat Sasadu

Karena fungsinya sebagai rumah pertemuan, maka rumah adat sasadu merupakan rumah terbuka tanpa menggunakan dinding tetapi dilengkapi dengan banyak pintu.

Pada umumnya, rumah adat ini memiliki sedikitnya 6 pintu masuk pada rumah ini.

Yaitu dua pintu untuk jalan masuk keluar perempuan, dua pintu laki-laki dan dua pintu untuk para tamu.

Pada umumya, rumah adar Sasadu memiliki bentuk bangunan yang sama dnegan rumah Baileo.

Namun, bentuk bangunan dari rumah adat Sasadu memiliki nilai filosofi yakni masyarakat suku Sahu yang menetap di Maluku Utara sangat terbuka terhadap pendatang yang datang ke daerah mereka.

Maka dari itu, masayarakat adat Maluku Utara menerima para pendatang dengan baik tanpa memandang adanya perbedaan di antara mereka.

Dibagian rangka atap rumah ada sepasang kain berwarna merah dan putih yang digantung, yang mencerminkan rasa nasionalisme masyarakat Maluku Utara.

Di setiap bagian kerangka atap, terdapat bola-bola berbungkus ijuk yang melambangkan sebuah kestabilan dan kearifan.

Ujung atap rumah bagian bawah yang dibuat lebih pendek dari langit-langit membuat setiap orang yang mau masuk harus merundukkan kepala dan juga membungkukan bagian tubuhnya.

Filosofi Rumah Adat Sasadu

Pada rumah adat Sasadu, atap rumah bagian bawah dibuat lebih pendek dari langit-langit.

Ternyata hal tersebut mengandung filosofi bahwa setiap orang yang datang ke Maluku Utara selalu bisa patuh dan hormat terhadap semua aturan-aturan adat suku Suhu.

Selain itu, di ujung atap rumah adat asal Maluku Utara ini terdapat ukiran yang berbentuk menyerupai perahu.

Hadirnya ukiran tersebut melambangkan bahwa masyarakat suku Sahu adalah masyarakat yang gemar dalam melaut.

3. Rumah Adat Hibualamo

keunikan rumah adat provinsi maluku utara
Sumber: Elizato

Hibualamo berasal dari kata hibua yang artinya rumah dan lamo yang artinya besar.

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa rumah adat Hibualamo adalah bangunan rumah yang sangat besar.

Rumah adat Hibualamo adalah bangunan rumah adat yang terbilang baru di Maluku Utara karena baru diresmikan pada tahun 2007 silam meski keberadaannya sudah ada sejak 600 tahun lamanya.

Rumah adat ini dijadikan sebagai simbol perdamaian pasca konflik SARA yang terjadi pada tahun 1999 hingga 2001.

Karenanya, pembangunan rumah adat ini juga memiliki perkembangan dibandingkan bentuk aslinya yang sama seperti kebanyakan rumah adat, yaitu rumah panggung.

Bentuk rumah Hibualamo yang asli dapat dijumpai di Pulau Kakara yang dikenal dengan nama rumah adat Hibualamo Tobelo.

Kemudian, bangunan rumah adat ini kembali didirikan karena memiliki sejarah tersendiri terhadap persatuan bangsa.

Arsitektur Rumah Adat Hibualamo

nama rumah adat maluku utara
Sumber; Elizato

Rumah adat ini didesain dengan bentuk seperti perahu yang mencerminkan kehidupan maritim suku Tobelo dan Galela di area pesisir.

Bangunannya memiliki bentuk segi delapan dan dilengkapi dengan empat pintu sebagai simbol empat arah mata angin.

Jika sedang berada di dalam rumah, semua orang harus duduk saling berhadapan untuk menunjukan kesatuan dan kesetaraan.

Keunikan Rumah Adat Hibualamo

Ada empat warna yang menjadi keunikan tersendiri pada rumah adat Hibualamo ini.

Warna merah melambangkan kegigihan perjuangan komunitas Canga, kuning adalah lambang kecerdasan, kemegahan dan kekayaan, warna hitam melambangkan solidaritas, dan warna putih melambangkan kesucian.

Setelah mengetahui sejarah, keunikan, dan nilai-nilai yang terkandung dalam rumah adat Maluku Utara, apakah kamu tertarik untuk berkunjung ke sini?

Jangan lupa untuk melestarikan kebudayaan setempat dengan tidak merusak bangunan rumah adat yang diwariskan turun temurun oleh leluhur setiap suku di Maluku Utara, ya.