Rumah Adat Papua Barat

Setiap daerah di Indonesia memiliki adat istiadat yang berbeda-beda.

Bagaimana tidak, Indonesia dipenuhi dari beragam etnis, suku, dan bahasa.

Sehingga, membuat Indonesia kaya akan budaya dari masing-masing kelompok-kelompok budaya yang tersebar.

Seperti halnya juga budaya di Papua.

Pulau di timur Indonesia tersebut, memiliki budaya yang berbeda dengan budaya di daerah lain.

Hal ini dapat kita lihat dari rumah adat yang dimiliki masyarakatnya.

Rumah adat akan mencerminkan bagaimana keadaan dan budaya dari masyarakat yang mendiaminya.

Saat ini, walaupun rumah di kota-kota yang ada di Provinsi Papua Barat sudah banyak menggunakan bangunan permanen, namun rumah adat tetap dipertahankan oleh kelompok masyarakat tertentu.

Di Provinsi Papua Barat, tercatat bahwa sebanyak 51,5% masyarakat asli masih mendiami provinsi yang telah dibentuk sejak 4 Oktober 1999 tersebut.

Masyarakat asli terdiri dari beragam suku yang tersebar dan membentuk kelompok-kelompok masyarakat kecil di gunung maupun daratan rendah.

Suku-suku yang ada di provinsi Papua Barat tersebut antara lain, Arfak, Doreri, Kuri, Simuri, Irarutu, Sebyar, Moscona, Mairasi, Kambouw, Onim, Sekar, Maibrat, Tehit, Imeko, Tehit, Imeko, Moi, Tipin, Maya, Biak, Anggi, Arguni, Asmat, Awiu, Batanta, Biak, Bintuni, Dani, Demta, Genyem, Guai, Hattam, Jakui, Kapauku, Kiman, Mairasi, Manikion, Mapia, Marindeanim, Mimika, Moni, Muyu, Numfor, Salawati, Uhundun, and Waigeo.

Berikut ini merupakan rumah adat Papua Barat yang telah menjadi tradisi dan warisan leluhur yang telah turun-menurun diteruskan pada setiap generasi dan masih dipertahankan oleh masyarakat setempat hingga saat ini .

Rumah Adat Papua

nama rumah adat papua barat adalah
Sumber: https://adira.co.id

Pada dasarnya rumah adat di pulau paling timur yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini memiliki model rumah yang sama yaitu Rumah Honai.

Rumah honai merupakan rumah adat milik penduduk asli Pulau Papua.

Rumah ini terbagi menjadi tiga bangunan utama yaitu Honai (rumah untuk pria dewasa), Ebai (rumah untuk perempuan), dan Wamai (kandang).

Berikut ini adalah penjelasan ketiga bagunan tersebut.

Rumah Pria Dewasa

Sumber: https://interiorindonesia.web.id

Rumah Honai ditujukan untuk digunakan para pria dewasa.

Honai merupakai nama asli rumah tersebut yang diambil dari kata “hun” dan “ai”.

“Hun” memiliki arti pria atau laki-laki dewasa.

Sementara itu, “ai” dalam bahasa papua berarti rumah.

Oleh karena itu, rumah ini lah yang digunakan oleh laki-laki dewasa tinggal.

Rumah ini dibuat dengan dinding yang melingkar.

Dinding dibuat dari bilah kayu yang disusun rapat sehingga membuat bentuk rumah yang melingkar.

Rumah ini hanya memiliki dua buah pintu yang mengarah ke depan dan belakang rumah.

Sedangkan, rumah ini tidak memerlukan adanya jendela.

Rumah ini memiliki lantai dasar yang merupakan ruang untuk melakukan aktivitas di dalam ruangan.

Sementara itu, dibagian atas rumah dibuat untuk tempat tidur.

Masyarakat menggunakan jerami yang dikeringkan sebagai alas tidurnya.

Di dalam rumah, terdapat batang penyangga untuk menahan atap yang dibuat kerucut keatas.

Atap rumah Honai dibuat menggunakan daun sagu atau jerami.

Biasanya rumah ini dibangun setinggi 2,5 meter.

Rumah ini biasanya digunakan oleh Suku Dani dan suku lainnya di pedalaman Papua yang berada di dataran tinggi.

Untuk menjaga kehangatan, pada bagian ditengah biasanya dibuat untuk tempat api unggun.

Fungsi Rumah Honai

Rumah Honai digunakan oleh kaum laki-laki.

Bagi anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa biasanya pindah dari rumah untuk perempuan (Ebai) ke tempat tinggal ini.

Di rumah ini mereka belajar untuk mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan di luar rumah.

Beragam pelajaran seperti persiapan diri untuk melindungi dan memimpin suku.

Selain sebagai tempat belajar, Honai biasanya juga digunakan sebagai tempat penyimpanan barang.

Barang-barang disimpan di lantai dasar, sementara laki-laki tidur di lantai atas rumah.

Barang yang disimpan di rumah ini antara lain seperti peralatan perang, peralatan berburu, simbol berharga milik suku, bahkan bisa saja menjadi tempat menyimpan mumi.

Rumah honai juga biasanya digunakan untuk berkumpul para laki-laki dewasa untuk berdiskusi atau menyusun siasat perang.

Rumah Ebai untuk Perempuan

Sumber: https://mavilouiim.blogspot.com

Lain halnya dengan Rumah Honai, Rumah Ebai digunakan untuk kaum perempuan.

Rumah Ebai terdiri dari dua kata yaitu “Ebe” dan “Ai”.

Ebe pada Ebai memiliki arti tubuh.

Sementara itu, Ai berarti rumah.

Sesuai dengan namanya yang berarti rumah bagi kehidupan yang identik bagi kaum perempuan yang memberikan keturunan.

Rumah ini ditempati oleh anak perempuan, anak laki-laki yang belum dewasa serta ibu.

Dalam rumah ini, peran ibu adalah untuk mengajarkan atau mendidik anak-anaknya.

Terutama mempersiapkan anak perempuan sebelum menghadapi waktunya menikah.

Sementara, anak laki-lakinya yang beranjak dewasa akan pindah ke Rumah Honai.

Arsitektur Rumah Ebai tidak jauh berbeda dengan Rumah Honai.

Bentuk rumah ini tetap bulat dengan material kayu rotan.

Rumah Ebai biasanya memiliki ukuran sekitar lima sampai tujuh meter persegi.

Hanya saja, tinggi atap rumah adat ini biasanya dibuat lebih landai.

Atap rumah Ebai menggunakan alang-alang atau jerami.

Kandang Hewan Ternak Wamai

Sumber: https://mavilouiim.blogspot.com/

Selain Rumah Honai dan Ebai, biasanya juga terdapat kandang bagi hewan ternak milik keluarga.

Kandang hewan ternak tersebut memiliki nama Wamai.

Hewan ternak milik masyarakat papua bisa berupa ayam, anjing, ataupun babi.

Sama seperti bangunan rumah, material yang biasanya dipakai adalah berbahan dasar kayu.

Sedangkan, bentuknya tidak harus bulat seperti rumah pada umumnya.

Hal ini bergantung pada jenis hewan apa yang dimiliki keluarga.

Rumah Kaki Seribu

Sumber: https://www.instagram.com/johana.nita

Rumah Kaki Seribu akan mudah dijumpai di Provinsi Papua Barat.

Rumah ini merupakan tempat tinggal bagi suku-suku di pedalaman papua.

Salah satunya adalah Suku Arfak.

Terdapat dua penyebutan nama untuk rumah adat khas Papua Barat ini.

Masyarakat setempat biasa menyebutnya Mod Aki Aksa atau Igkojei.

Arsitektur

Rumah adat ini merupakan berbentuk rumah panggung.

Seperti rumah adat yang berbentuk panggung lain di Indonesia, Rumah Kaki Seribu ini dibuat tinggi di atas pondasi.

Sesuai dengan namanya yaitu Kaki Seribu, rumah ini memiliki pondasi dengan jumlah kayu penopang yang tidak sedikit.

Masing-masing kayu penopang pun diletakan cukup rapat sehingga terlihat seperti menumpuk dibawah rumah panggung tersebut.

kayu penopang yang dapat digunakan untuk Rumah Kaki Seribu setidaknya harus memiliki diameter sekitar 10 centimeter.

Sementara itu, penempatan antar kayu penopang memiliki jarak kurang dari 30 centimeter.

Bangunan utama rumah juga terbuat dari kayu.

Dinding dan lantai di buat dengan anyaman kayu rotan sebagai dasar.

Bangunan rumah dibuat setinggi 4 hingga 5 meter.

Sedangkan, luar yang dimiliki rumah ini berukuran 8×6 meter.

Sisi menarik dari rumah adat ini adalah pada penggunaan pintunya.

Rumah Kaki seribu tidak memiliki banyak pintu maupun jendela.

Rumah ini hanya memiliki 2 pintu dan tanpa jendela.

Dua pintu tersebut dibuat pada bagian depan dan belakang dalam satu garis lurus.

Sementara itu, jendela tidak digunakan pada bangunan ini.

Fungsinya, agar rumah ini tetap aman dari binatang buas atau musuh dan juga dapat membuat nyaman dan hangat selama di dalam rumah.

Kegunaan Rumah Kaki Seribu

Berbeda dengan Rumah Honai yang dibuat di dasar tanah, Rumah Kaki Seribu memiliki alasan untuk dengan menggunakan pondasi yang tinggi.

Alasan penggunaan pondasi tinggi tersebut disebabkan untuk menghindari rumah dari binatang buas.

Keberadaan rumah di tengah hutan pasti akan sering menemui binatang buas.

Oleh karena itu, pondasi rumah yang tinggi membuat penghuninya aman dari serangan binatang buas yang bisa berkeliaran di bawah.

Alasan lain adalah rumah yang dibuat tinggi ini membuat penghuni di dalamnya menjadi lebih hangat.

Kondisi masyarakat yang masih sering bertikai pun menjadi alasan rumah adat ini dibuat tinggi dengan tiang pondasi yang banyak.

Filosofi dari Rumah Adat Papua

Sumber: https://traveljinx.com

Pada umumnya, rumah adat memiliki filosofi budaya sesuai dengan pemilik budayanya masing-masing.

Seperti halnya dengan budaya di Papua Barat.

Rumah merupakan tempat berkumpul atau mempersatukan kelompok masayrakat kecil tersebut.

Menurut filosofinya, bentuk bangunan yang melingkar seperti pada rumah Honai dan Ebai, Suku Dani menganggap hal ini ditujukan untuk membuat masyarakat setempat menjadi bersatu.

Selain itu, rumah adat Papua Barat dipercaya sebagai sebuah lambang kesatuan.

Dalam hal ini, lambang kesatuan yang dimaksud adalah nilai dasar yang ditetapkan oleh masyarakat, seperti Suku Dani.

Suku Dani menganggap rumah sebagai tempat yang membuat masyarakat di dalamnya satu tujuan, satu hati, dan satu pemikiran.

Hal ini berkaitan dengan pekerjaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan rumah adat juga dianggap sebagai sebuah martabat dan harga diri bagi penghuninya.

Hal ini juga tercermin bagaimana masyarakat setempat mengajarkan nilai-nilai luhur pada anak-anak, menjaga barang-barang berharga milik suku dan leluhur, serta bagaimana seharusnya peran masing-masing individu dalam sebuah keluarga.