Rumah Adat Sumatera

Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan.

Dari Sabang sampai ke Merauke, setiap provinsi memiliki keunikannya masing-masing.

Tak terkecuali provinsi-provinsi yang ada di Pulau Sumatera.

Setiap provinsi di Pulau Sumatera memiliki rumah adat yang berbeda-beda.

Olek karena itu,  keragaman rumah adat yang dimiliki salah satu pulau besar di Indonesia ini menarik untuk disimak.

Berbagai Macam Rumah Adat Sumatera

Pulau Sumatera adalah salah satu pulau besar di Indonesia yang berada di bagian paling barat.

Dengan luas lebih dari 400.000 km, Pulau Sumatera terbagi menjadi 10 provinsi.

Meskipun berada di pulau yang sama, masing-masing provinsi memiliki adat dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Berikut adalah macam-macam rumah adat dari masing-masing provinsi di Pulau Sumatera:

1. Rumah Adat Aceh (Krong Bade)

rumah adat sumatera aceh
Sumber: https://scontent-lga3-1.cdninstagram.com/

Rumah Adat dari Aceh ini bentuknya memanjang dari timur ke barat.

Rumah Krong Bade memiliki tangga di depannya yang berfungsi untuk masuk kedalam rumah.

Tangga tersebut memiliki ketinggian antara 2,5 hingga 3 m di atas permukaan tanah.

Pada umumnya, anak tangga Rumah Krong Bade berjumlah ganjil, yaitu sekitar 7 hingga 9 anak tangga.

Seperti model rumah adat Sumatera pada umumnya, Rumah Krong Bade juga berbentuk seperti rumah panggung.

Bahan dasar dalam pembuatn Rumah Krong Bade berasal dari alam.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh masih bergantung pada alam.

Dinding Rumah Krong Bade terbuat dari kayu enau dan dihiasi lukisan, sedangkan atapnya terbuat dari rumbia.

Selain itu, Rumah Krong Bade juga tidak dibangun dengan paku sama sekali.

Ukiran yang ada pada dinding Rumah Krong Bade menggambarkan status ekonomi pemiliknya.

Semakin banyak jumlah ukiran, maka semakin tinggi status ekonominya.

Rumah Krong Bade dibagi menjadi 4 bagian, yaitu ruang bawah, ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.

Rumah bawah digunakan sebagai gudang penyimpanan, biasanya untuk menyimpan hasil panen.

Ruang depan biasanya digunakan untuk kumpul keluarga dan bersantai.

Ruang tengah atau disebut dengan seuramoe teungoh adalah inti dari Rumah Krong Bade.

Bagian rumah ini diisi dengan beberapa kamar. Ruangan ini hanya boleh dimasuki oleh anggota keluarga sehingga tamu tidak diperbolehkan memasukinya.

Terakhir, ruang belakang fungsinya adalah untuk dapur dan bersantai bersama keluarga.

2. Rumah Adat Sumatera Barat (Rumah Gadang)

rumah adat sumatera barat dikenal dengan nama
Sumber: https://upload.wikimedia.org/

Rumah Adat Gadang dari Sumatera Barat memiliki beberapa sebutan lain, seperti Rumah Gadong, Rumah Adat Minangkabau, Rumah Baanjuang, serta Rumah Bagonjong.

Dari sekian banyak sebutan tersebut, Rumah Gadang adalah istilah yang paling sering dipakai.

Bentuk Rumah Gadang yang unik sering dikaitkan dengan cerita rakyat “Tambo Alam Minangkabau”.

Kisah tersebut bercerita mengenai kemenangan orang Minangkabau yang melawan orang Jawa dalam pertarungan kerbau.

Oleh karena itu, atap Rumah Gadang dibuat dengan bentuk menyerupai tanduk kerbau.

Atap Rumah Gadang yang lancip berguna untuk membebaskan endapan air pada lapisan ijuk yang digunakan sebagai bahan dasar atap sehingga air hujan yang seeras apapun akan dengan mudah langsung meluncur ke tanah.

Bangunan rumah yang melebar dan luas disebut dengan silek, bentuk bangunan yag lebar dan luas ini berguna untuk menangkal terpaan tampias.

Bangunan yang leluasa juga memberikan efek segar ketika musim kemarau yang panas tiba.

Rumah Gadang yang luas tidak akan terasa lebih sesak.

Seperti tempat tinggal pada umumnya, Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Bedanya, Rumah Gadang juga digunakan suku Minangkabau untuk melakukan kegiatan adat mereka.

Selain sebagai tempat tinggal, Rumah Gadang memiliki fungsi lain dalam kegiatan adat istiadat suku Minangkabau.

Satu Rumah Gadang biasa dimiliki oleh sekelompok masyarakat Minangkabau yang diikat oleh suku tertentu.

Sebagai rumah utama, Rumah Gadang dijadikan tempat untuk melaksanakan kegiatan adat dan kegiatan penting lain dari suku yang bersangkutan.

Contoh kegiatan yang dilakukan suku Miangkabau dalam Rumah Gadang adalah Turun Mandi, Khitan, Perkawinan, Batagak Gala (Pengangkatan Datuak), dan Kematian.

Tetapi, kegiatan-kegiatan tersebut tidak setiap hari dilakukan sehingga disebut dengan fungsi temporer Rumah Gadang.

Rumah Gadang digunakan sebuah keluarga besar untuk melakukan kegiatan sehari-harinya.

Keluarga besar yang dimaksud adalah ayah, ibu serta anak wanita, baik itu yang telah berkeluarga ataupun yang belum berkeluarga, sedangkan anak laki-laki tidak memiliki tempat di dalam Rumah Gadang.

Jumlah kamar dalam Rumah Gadang menyesuaikan jumlah perempuan yang tinggal di dalam rumah tersebut.

Setiap perempuan dalam keluarga tersebut yang telah memiliki suami memperoleh kamar.

Sementara perempuan tua dan anak-anak mendapatkan kamar di dekat dapur.

Gadis remaja diberi kamar yang digunakan secara bersamaan di ujung yang lain.

Fungsi keseharian ini lebih dominan seperti yang terjadi di dalam rumah pada umumnya.

3. Rumah Adat Sumatera Utara

Sumatera Utara adalah salah satu provinsi yang memiliki beberapa bentuk rumah adat.

Di Sumatera Utara ada macam-macam rumah adat dengan bentuk dan fungsi yang berbeda.

Berikut macam-macam Rumah Adat Sumatera Utara:

1. Rumah Karo

rumah adat angkola sumatera utara
Sumber: https://2.bp.blogspot.com/

Rumah Karo merupakan salah satu rumah adat Sumatera Utara yang juga sering disebut juga dengan Rumah Adat Siwaluh Jabu.

Makan dari nama siwaluh jabu adalah rumah yang dihuni oleh delapan keluarga.

Setiap keluarga mempunyai peran masing-masing di dalam rumah tersebut.

Penempatan keluarga dalam rumah karo ditentukan oleh adat yang terdiri jari jabu jahe atau jabu hilir dan jabu julu atau jabu hulu.

Sedangkan jabu jahe masih di bagi lagi menjadi dua yaitu jabu ujung kayu dan jabu rumah sendipar ujung kayu.

2. Rumah Nias

rumah adat sumatera adalah
Sumber: https://upload.wikimedia.org/

Rumah Adat Nias adalah Rumah adat Sumatera Utara yang berikutnya.

Rumah adat ini berbentuk rumah panggung ini disebut juga omo hada.

Rumah tersebut adalah tempat tinggal untuk kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa) atau kaum bangsawan dan sering disebut dengan nama omo sebua.

Rumah adat Nias dibangun diatas tiang-tiang kayu nibung yang tinggi serta beralaskan oleh alas rumbia.

3. Rumah Mandailing

rumah adat sumatera gadang
Sumber: https://2.bp.blogspot.com/

Suku Mandailing adalah suku yang berada di Provinsi Sumatra Utara dan berbatasan dengan Provinsi Riau.

Rumah Adat Mandailing juga disebut dengan bagas godang. Bagas yang bermakna rumah dan godang yang memiliki arti ‘banyak’ dalam bahasa Mandailing.

4. Rumah Bolon

rumah adat sumatera utara disebut
Sumber: https://1.bp.blogspot.com/

Rumah Bolon sering disebut Rumah Balai Batak Toba dan telah diakui oleh nasional sebagai perwakilan Rumah Adat Sumatera Utara.

Rumah adat ini masuk kategori panggung dan berbentuk persegi panjang. Hampir keseluruhannya terbuat dari alam.

Penghuni rumah adat ini biasanya 4-6 keluarga yang hidup bersama sama.

Rumah panggung dibuat mempunyai kolong dengan tujuan digunakan untuk kandang hewan peliharaan masyarakat batak, seperti ayam, babi dan kambing.

5. Rumah Pakpak

anjungan rumah adat sumatera utara
Sumber: https://steemitimages.com/

Rumah adat Pakpak memiliki bentuk unik yang dibuat dari bahan kayu dengan atap dari bahan ijuk.

Bentuk desain Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara selain sebagai wujud seni budaya Pakpak, setiap bentuk desain dari bagian-bagian Rumah Adat Pakpak memiliki arti tersendiri.

Jika diamati dengan cermat, cukup dengan melihat rumah adat Pakpak akan bisa mendeskripsikan bagaimana Suku Pakpak berbudaya.

4. Rumah Adat Sumatera Selatan (Rumah Limas)

rumah adat di sumatera selatan
Sumber: http://www.wacana.co/

Rumah adat dari Sumatera Selatan adalah Rumah Limas.

Ciri khas dari rumah adat dari Pulau Sumatera adalah bentuk rumah panggung yang fungsinya untuk anti gempa.

Begitu juga dengan Rumah Limas ini, meski memiliki perbedaan dengan rumah adat Sumatera lainnya, Rumah Limas juga memiliki kesamaan bentuk dengan rumah panggung.

Kata limas adalah gabungan kata dari lima serta emas.

Rumah limas adalah rumah dengan bentuk panggung dan memiliki atap yang menyerupai limas.

Rumah Limas memiliki tiang penyangga yang tingginya berkisar antara 1,5 m hingga 2 m dari permukaan tanah.

Pada lantai rumah limas dibuat berundak.

Kata berundak atau undakan pada lantai biasa disebut dengan kekijing.

Pada rumah limas biasanya memiliki 2 hingga 4 kekijing.

Rumah Limas dibagi menjadi 3 bagian, yaitu ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.

Bagian depan Rumah Limas disebut beranda dengan 2 tangga untuk masuk ke dalam rumah.

Salah satu keunikan Rumah Limas adalah gentong di depan rumah yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk ke dalam rumah.

Di dalam ruang tengah terdapat beberapa kekijing yang di kanan dan kirinya masing-masing ada jendela.

Sedangkan ruang belakang memiliki fungsi untuk dapur dan memasak.

5. Rumah Adat Lampung (Nuwou Sesat)

rumah adat sumatera tengah
Sumber: http://3.bp.blogspot.com/

Masih sama dengan rumah adat Sumatera lainnya, Rumah Nuwou Sesat juga berbentuk rumah panggung.

Nuwo Sesat ini fungsi aslinya adalah sebagai balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah).

Oleh karena itu, balai ini juga disebut Sesat Balai Agung.

Sebagian besar bahan pembuatan Rumah Nuwou Sesat adalah kayu dan atapnya terbuat dari anyaman ilalang.

Rumah Nuwou Sesat dibuat rumah panggung untuk menghindari serangan hewan buas yang berasal dari hutan.

Salah satu keunikan Rumah Nuwou Sesat adalah hiasan payung besar di atapnya yang dinamakan Rurung Agung.

Rurung Agung putih, kuning, dan merah yang melambangkan tingkat keseimbangan bagi masyarakat adat Lampung Pepadun.

Terdapat ornamen yang khas pada bagian sisi bangunan tertentu rumah sessat ini.

Di perkampungan penduduk asli Lampung sebagian besar rumah adat ini dibangun tidak bertiang dan berlantai di tanah dengan fungsi yang tetap sama.

Arsitektur rumah panggung dari Lampung mempunyai filosofi tersendiri, bentuk bangunan ini merefleksikan semangat keterbukaan, kekuatan, kenyamanan serta keindahan.

Dalam bagian perabotan rumah adat ini, sama seperti rumah adat lainnya memakai seperti perabotan-perabotan kerajaan pada masa itu / masa kuno.

Untuk menuju ke dalam rumah adat Nuwou Sesat, tamu harus naik melewati anak tangga yang letaknya berada di depan dan di samping.

Fungsi rumah adat Nuwo Sesat pada dasarnya merupakan balai pertemuan adat tempat para Perwatin pada saat mengadakan Pepung atau musyawarah adat, karenanya itu juga disebut sebagai Sesat Balai Agung.

Bagian bagian dari bangunan ini adalah :

  1. Ijan Geladak adalah tangga menuju ke dalam yang dilengkapi dengan atap yang disebut dengan Rurung Agung
  2. Anjungan, yaitu serambi yang digunakan untuk pertemuan keci
  3. Pusiban sebagai ruang tempat musyawarah resmi
  4. Ruang Tetabuhan merupakan tempat menyimpan alat musik tradisional
  5. Ruang Gajah Merem digunakan untuk tempat istirahat bagi para Penyimbang

6. Rumah Adat Bangka Belitung (Rumah Panggung)

rumah adat sumatera barat dan fungsinya
Sumber: http://annienugraha.com/

Rumah adat di Provinsi Sumatera hampir semuanya memiliki bentuk rumah panggung.

Namun, provinsi yang memiliki rumah adat Panggung asli adalah Provinsi Bangka Belitung.

Masyarakat Bangka Belitung mengenal filosofi sembilan tiang sehingga bangunan rumahnya dibagun di atas 9 tiang.

Dinding Rumah Panggung terbuat dari kulit kayu atau bambu, tergantung bahan mana yang tersedia di alam.

Arsitektur Rumah Panggung ini mirip dengan bangunan rumah adat Melayu.

Di sisi lain, Rumah Panggung juga mendapatkan pengaruh non-Melayu, yaitu bentuk rumah panjang.

7. Rumah Adat Bengkulu (Bubungan Lima)

rumah adat sumatera barat dan gambarnya
Sumber : http://kenalibudaya.info

Rumah Adat Bubungan Lima adalah rumah adat dari Provinsi Bengkulu.

Secara umum, Rumah Bumbungan Lima adalah rumah panggung yang ditopang dengan beberapa tiang tinggi.

Rumah Bubungan Lima adalah rumah panggung yang desainnya bertujuan untuk tahan terhadap goncangan gempa.

Desain tahan gempa ini dapat diamati dari adanya 15 buah tiang dengan tingginya mencapai 1,8 meter.

Tiang-tiang yang berfungsi sebagai penyangga tersebut ditumpangkan ke atas batu datar yang besar.

Fungsi dari batu datar ini adalah sebagai peredam goncangan gempa.

Penggunaan batu datar tersebut juga untuk mencegah lapuknya tiang.

Salah satu keunikan Rumah Bubungan Lima adalah atapnya yang memiliki lebar hingga 3,5 m.

8. Rumah Adat Jambi (Kajang Leko)

contoh rumah adat sumatera selatan
Sumber: https://i.pinimg.com/

Pemerintah sempat bingung menentukan rumah adat untuk Provinsi Jambi karena ada terlalu banyak pilihan.

Akhirnya, Kajang Lengko-lah yang diputuskan untuk menjadi rumah adat Provinsi Jambi.

Secara umum, bangunan Rumah Kajang Lengko mirip dengan bentuk perahu, hampir sama dengan rumah adat Sumatera lainnya.

Bentuk atap yang persegi panjang menggambarkan agama Islam, kepercayaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat Jambi.

Ada beberapa bagian utama rumah adat ini, yaitu bubungan atau atap, kasau bentuk, masinding, tiang, lantai, tabar layar, panteh, dan pelambang.

Atap Rumah Kajang Leko terbuat dari ijuk yang dianyam dan dilipat menjadi dua.

Kasau bentuk adalah bagian ujung dari atap yang ada di bagian depan dan belakang rumah.

Bagian ini berfungsi untuk mencegah air masuk ke dalam rumah.

Masinding adalah bagian dinding Rumah Kajang Leko yang terbuat dari papan kayu.

Umumnya jumlah tiang Kajang Lamo ini berjumlah 30 yang terdiri atas 6 riang palamban dan 24 tiang utama.

Tiang utama ini disusun dalam formasi 6, masing-masing panjangnya sekitar 4,25 meter, sedangkan lantai Rumah Kajang Leko dibuat bertingkat.

Bagian tabar layar berfungsi sebagai dinding sekaligus penutup rumah bagian atas agar terhindar dari tempias hujan.

Bagian panteh rumah Kajang Lako ini merupakan tempat untuk menyimpan benda-benda tertentu milik keluarga.

Ia terletak di bagian atas bangunan rumah. Pelamban adalah bagian depan Rumah Kajang Leko yang berbentuk seperti teras.

9. Rumah Adat Riau (Balai Salaso Jatuh)

ciri rumah adat sumatera utara
Sumber: https://3.bp.blogspot.com/

Rumah adat dari Provinsi Riau ini tidak berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan untuk pertemuan atau musyawarah adat.

Sesuai dengan kegunaannya, bangunan ini memiliki berbagai macam nama antara lain Balairung Sari, Balai Pengobatan, Balai Kerapatan dan lain-lain.

Rumah adat masyarakat Riau ini secara umum terdiri dari ruang tidur, ruang bersila, anjungan dan dapur.

Rumah adat ini berbentuk rumah panggung persegi panjang dengan beberapa tiang penyangga.

Rumah Salaso Jatuh memiliki banyak komponen, di antaranya atap, loteng, lobang angin, dinding, lantai, bendul, pintu, jendela, tangga, tiang, tutup tiang, kolong rumah, rasuk dan gelang, jenang, sento, alang, kasau, gulung-gulung, tulang bubung, singap.

10. Rumah Adat Kepulauan Riau (Rumah Melayu Atap Lontik)

cerita rumah adat sumatera utara
Sumber: https://upload.wikimedia.org/

Rumah Melayu Atap Lontik adalah rumah adat yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau.

Rumah Melayu Atap Lontik disebut juga dengan nama Rumah Lancang karena bentuk atapnya yang meruncing mirip dengan tanduk kerbau.

Bahan dasar yang digunakan untuk membangun rumah ini juga berasal dari alam, seperti kulit kayu dan ijuk.

Namun, di zaman modern seperti sekarang penggunaan ijuk sudah mulai berkurang dan digantikan dengan seng.

Rumah Melayu Atap Lontik dibagi menjadi 3 bagian ruangan, yaitu alam berkawa, alam bersamak, dan alam semalu.

Alam berkawa merupakan bagian rumah yang digunakan untuk bergaul dengan sesawa warga maupun anggota keluarga.

Alam bersamak adalah ruang keluarga yang bisa juga difungsikan sebagai tempat tidur bagi anggota keluarga perempuan dan anak-anak.

Alam semalu adalah ruangan rahasia yang digunakan untuk menyimpan barang berharga milik anggota keluarga.

Berbicara mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia memang tidak ada habisnya.

Penjelasan mengenai rumah adat di Pulau Sumatera hanya sebagian kecil warisan leluhur yang sangat beragam.

Sebagai generasi penerus, sudah seharusnya kita ikut melestarikan adat tersebut supaya tidak punah atau diakui oleh bangsa lain.